Dik Dian..makasih postingannya.
Gimana yah,..sebenarnya bukan masalah waktu uni yang
terkuras untuk diskusi itu lantas ngak ada manfaatnya.
Sesuatu itu pasti ada baik dan buruknya. Kalau orang
mau ambil yang positif, maka positiflah yang
didapatkannya, begitu juga sebaliknya.
Hanya saja,..coba deh dik Dian bayangkan, seandainya
dik Dian main bola pimpong ( bola untuk tenis meja itu
lho, yang kecil, bulat dan licin ).
Bagi mereka yang baru ingin belajar tenis, biasanya
memainkan dulu bola tersebut didinding, biar terbiasa,
dan jadi tangkas. Dan ini untuk orang yang baru
belajar tenis.
Dik Dian tahukan,.dengan apa orang yang ingin belajar
tenis itu..? Dengan dinding,.yang tak menimbulkan
suara, tak bergerak, dan tak punya pengaruh apa2 bila
bola dilemparkan kepadanya. Dinding tidak capek, tidak
apa-apa, yang kecapean adalah yang melemparkan bola
bolak balik tadi ( ini ngak jadi masalah, bila niatnya
untuk belajar, capekpun ngak papa, diampun dinding
ngak jadi masalah baginya ).
Beda dengan kita yang bermain tenis langsung dengan
orang langsung yang punya tangan, kaki, otak, dan
segala perlengkapan lainnya. Ia capek,.kitapun
capek,.dan yang dilempar jelas, maka hasilnya akan
jelas pula. Pulang keletihan ngak jadi masalah.
penonton pun ngak nyangka kita sedang berlatih, tidak
pula mengira kita ada apa main dengan dinding
sendirian..?.
Mudah-mudahan dengan kiasan diatas dik Dian faham
maksud uni. Uni yang pemain tenisnya, sedangkan yang
tak jelas identitasnya tak obahnya sebagai dinding,
ditendang, di pukul, diapakan pun ia akan biasa dan
tetap diam.
Nah,.coba dik Dian bayangkan dan renungkan bagaimana
perasaan kita kalau kita tak mau bermain dengan
dinding dipaksa juga untuk berlatih di dinding itu..?.
Dan bagi uni juga bukan masalah waktu atau capeknya,
tetapi lebih mengarah kepada mengajak orang agar bisa
jujur, dan bertanggung jawab. Ini juga namanya
Ihsan,.meskipun kita ngak bisa lihat Allah, tapi kita
menyadari bahwa segala perbuatan kita pasti ada yang
perhatikan, pasti ada yang balasi, dan ada
ganjarannya, apapun perbuatan kita itu. Ini namanya
bagi uni " Kejujuran ". Paling tidak jujurlah pada
diri sendiri.
Kalau uni biarkan dan tak uni tanggapi mengenai
diskusi dengan non identitas jelas itu, uni khawatir
banyak yang akan terbiasa, dan menganggap itu masalah
biasa.
Ingat ngak hadist shahih dari Rasulullah SAW : "
Kejujuran membawa kebaikan, dan kebaikan membawa
kepada Syorga, dan seseorang yang bila ia terbiasa
jujur, maka akan dicap Allah sebagai seorang yang
Shiddiiq, sementara dusta membawa kepada kejelekan,
dan kejelekan membawa kepada neraka, barang siapa yang
sudah terbiasa dusta, maka akan di cap Allah sebagai
pendusta ".
Kalau sekali dua kali, atau tiga kali bohong, mungkin
itu biasa, tapi kalau sampai berbulan dan bertahun..?
itu namanya " Luar Biasa..?? ".
Maaf dik Dian,.mungkin karena uni terbiasa kali jujur
dan terus terang dalam hidup ini, makanya ngak suka
kalau di kibuli siapapun.
Saat keluarga uni dulu dapat hadiah juara I " Pasangan
Ideal ", salah satu pertanyaan yang harus dijawab
suami dan pas dengan jawaban istri tanpa kedua suami
istri itu saling komunikasi terlebih dahulu, tetapi
ditanya secara spontan, jawaban uni dan suami uni sama
semuanya ( 100 % ), dari sekian banyak pertanyaan
tersebut. Semuanya sama, tanpa terkecuali.
Dan salah satu jawaban yang sama itu adalah, ketika
ditanya dalam kuis di kertas tersebut, : " Apa yang
paling dibenci oleh istri anda,.." Suami jawab :
Bohong " .
Dan kertas pertanyaan yang senada di tanyakan pada
uni, apa yang paling kamu benci dalam hidup ini .
Jawab uni " Bohong ". ( ini salah satu pertanyaan dan
jawaban kami sama, persis, ngak ada beda sama sekali
).
Dik Dian lihat kan, jawaban kami sama, karena suami
uni tahu benar, bahwa itulah yang paling uni benci,
karena beliau juga tahu, setiap kebohongan, pasti akan
membawa kebohongan lainnya untuk menutupi kebohongan
pertama tadi, begitulah seterusnya. tapi bukan berarti
dalam hidup ini tidak boleh bohong, karena Rasulullah
telah memberikan tiga pengecualian dalam hal bohong
ini.
Pertama : Untuk mendamaikan dua orang yang
bersengketa.
Kedua : Bohong masing2 pasangan agar jangan sampai
bertengkar, demi untuk menjaga perasaan masing2 (
contoh,.
" makanan adinda enak sekali ", padahal jelas
keasinan, atau lain sebagainya )
Ketiga : Bohong dalam peperangan. Rasulullah SAW
bersabda : " Al harbu khid'ah ", perang itu tipu helah
".
Selain itu tidak boleh bohong sama sekali. Itulah
prinsip hidup uni selama ini, memegang hadist diatas.
Bersikap jujurlah, itu akan membawa keselamatan dan
kebaikan.
Okay,..
wassalam. Rahima.
--- "Sukmawat, Dian" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Uni Rahima.........
> Jangan sedih and Kecewa , toh dari hasil Diskusi
> tersebut Ian bisa baca dan jadi sedikit tau apa yang
> Uni terangkan .
> Jangan pernah berhenti untuk menerangkan apapun yang
> ditanyakan para Netters disini terlepas orang itu
> punya Identitas atau tidak , karena itulah yang
> dinamakan Dakhwah , toh orang lain dimilis ini masih
> bisa baca dan bisa belajar dari hasil
> Diskusi-Diskusi tersebut.
>
> dian
__________________________________
Do you Yahoo!?
Check out the new Yahoo! Front Page.
www.yahoo.com
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________