Masjid Asasi Sigando,Tertua di Padangpanjang *Lahirkan Thawalib Gunung & Tradisi MTQ Pabasko Oleh Redaksi http://padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=2735&PHP SESSID=492f848bcdd84819aa3c5ff02b082a7d Rabu, 03-Nopember-2004, 04:34:35 5 klik
Pekan ini, Masjid Asasi Sigando, di Kenagarian Gunung, Padangpanjang kembali diramaikan pengunjung. Tak hanya warga yang melaksanakan tarawih, di masjid tertua di Kota Padangpanjang akan diramaikan dengan kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) ke-24 tahun 2004 se-Pabasko (Padangpanjang, Batipuh, X Koto). Masjid Asasi memiliki sejarah tersendiri di Kota Padangpanjang. Bangunan masjid yang sudah ada sejak 1918 M, disebut sebagai masjid tertua di Padangpanjang, karena sesuai warisan sejarah lisan di Sigando, jamak menyebut Masjid Asasi berdiri sekitar 1717 M, berawal dari surau. Ini berarti sekitar 80 tahun lebih dulu dari perubahan hari jadi kota (HJK) Padangpanjang - yang atas persetujuan DPRD atas hasil seminar Maret 2003 - dirubah dari 23 Maret 1956 jadi 1 Desember 1790 M. HJK Kota Padangpanjang sendiri ditetapkan 1790 M. Ini merujuk tulisan ilmiah atas hasil penelitian oleh Cristine Dobbin, yang kebenarannya sudah diuji di sejumlah negara. Menurut buku itu, pada 1790 M Padangpanjang disebut sudah mulai bercorak modern ukuran masa itu, seperti ada pasar yang ramai oleh pedagang dan konsumen dari luar, pendudukpun mulai hiterogen dan lainnya. Tulisan itu jadi sangat bisa diterima, karena sekitar 47 tahun kemudian, tepatnya 1837 M, Padangpanjang ditetapkan sebagai ibukota Provinsi Sumatera Westkus oleh pemerintahan penjajahan Belanda. Itu sebagai indikator kuat kalau Padangpanjang memang sudah bercorak maju sebelum 1837 M. Karena tak mungkin ibukota provinsi ditempatkan pada wilayah sepi dan terbelakang. Dan untuk Kota Padangpanjang, Nagari Gunung baik secara fakta sejarah atau adat, memang nagari tertua. Sebab dua nagari lagi, Bukiksurungan dan Lareh Nan Panjang, lahir kemudian, menyusul perkembangan penduduk kota ini. Kini Masjid Asasi berkonstruksi kayu yang berusia ratusan tahun itu, tampak tetap kokoh. Disain yang menarik, seperti atap yang terdiri tiga tingkat dengan gonjong tengah yang lancip ditopang tiang tengah dan empat tiang sudut. Disain masjid ini pulalah yang ditetapkan terakhir jadi lambang Kota Padangpanjang. Karena bentuknya yang unik dan usianya yang tua, Pemko Padangpanjang menetapkannya sebagai bangunan purbakala yang harus dipelihara. Satu hal yang mungkin mundur, adalah keberadaan Thawalib Gunung, karena muridnya tak lagi ramai, apalagi dibanding sebelum 1980 yang berdatangan dari berbagai daerah di Sumatera bahkan Malaysia. Karenanya, perlu perhatian lebih serius. (jayusman) ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

