Makam Ulama Keramat Surau Taram, Setiap 27 Rajab, Muncul Cahaya

Makam Keramat Taram. Begitulah orang menyebut sebuah bangunan tua yang
terletak di Kenagarian Taram, Kecamatan Luhak, Kabupaten Limapuluh Kota.

Tempat itu ramai dikunjungi setiap harinya, terutama menjelang bulan
Ramadhan lalu. Berbagai aktivitas dilakukan di dalam komplek makam itu.
Namun, sebagian besar terlihat berdoa sambil membakar kemenyan.

Berdiri bergandengan dengan sebuah surau tua yang saat ini dipergunakan
jamaah untuk melakukan suluak, atau tinggal di surau untuk berkonsentrasi
beribadah selama bulan Ramadhan, makam itu terletak lebih kurang 5 kilometer
dari Kota Payakumbuh. Sekarang lokasi ini juga menjadi salah satu objek
wisata budaya yang dapat dijangkau dengan mudah, baik menggunakan angkutan
pedesaan atau dengan kendaraan pribadi.

Dari sejarah yang disampaikan sejumlah pemuka agama di Taram, disebutkan
kalau Makam Keramat Taram itu adalah Makam Syekh Ibrahim Mufti yang dulu
dikenal sebagai seorang yang sangat giat dalam menyebarkan agama Islam di
daerah alam Luak Nan Bungsu ini. Beliau bukan penduduk asli Taram, melainkan
seorang pendatang yang berasal dari negeri Irak, Timur Tengah, dan merupakan
seorang murid dari Syekh Abdul Rauf dari Aceh, di masa kejayaan kerajaan
Samudera Pasai.

Menurut keterangan saksi sejarah itu, selaku seorang yang giat menyebarkan
agama Islam, Syekh Ibrahim memiliki banyak kesaktian. Di antara kesaktian
yang cukup dikenal adalah, ketika beliau pernah pada suatu hari sedang
bercukur rambut. Baru saja sebagian rambut di kepalanya dicukur tukang
pangkas, tiba-tiba beliau pamitan dan segera meninggalkan tukang pangkas
tadi.

Kata Syekh Ibrahim kepada tukang pangkas, dia saat ini juga harus segera
pergi ke Makkah untuk menyelamatkan Kota Suci tersebut dari amukan api yang
kini sedang berkobar. Lantas, beliau segera menghilang dan baru muncul
beberapa saat kemudian.

Beberapa bulan setelah peristiwa itu, ada orang yang sudah pulang menunaikan
ibadah haji mengatakan bahwa sewaktu dia beribadah haji di Kota Makkah ada
terjadi sebuah kebakaran hebat. Namun, musibah tersebut dapat diatasi atas
bantuan seseorang yang memiliki rambut cuma pada sebagian kepalanya. Lalu,
dari peristiwa itu masyarakat akhirnya tahu akan kesaktian Syekh Ibrahim
Mufti yang kemudian dikenal dengan sebutan Syekh Bercukur Sebelah.

Tidak itu saja, dikabarkan ikan yang dibesarkan di dalam kolam masyarakat
yang sekarang berkembang di Taram, berasal dari ikan yang dilepaskan oleh
Syekh Ibrahim setelah setengah bagian ikan tersebut dibakar (dimasak) oleh
salah seorang muridnya.

Pada tahun 1996 lalu, keturunan atau keluarga Syekh Ibrahim Mufti yang
berada di Irak datang berziarah ke Taram dan menceritakan sebuah kejadian
pada masa lalu. Menurut ceritanya, di mana salah seorang cucunya pernah
menemui beliau semasa masih hidup. Dan sewaktu kembali ke Irak, sesampainya
di Laut Tengah, kapal yang ditumpangi cucu Syekh Ibrahim itu kandas dan
miring dan segera tenggelam.

Syekh Ibrahim Mufti yang berada jauh di Taram, mengetahui hal itu.
Karenanya, beliau segera menceburkan dirinya ke dalam kolam yang terletak di
samping Surau Tuo. Ternyata, kolam tersebut dijadikan Syekh Ibrahim sebagai
media bagi dirinya untuk menuju ke Laut Tengah. Dan beliau berhasil
menyelamatkan kapal naas itu dan mengangkatnya kembali ke permukaan sehingga
bisa berlayar lagi dengan selamat. Dan sesaat kemudian, Syekh dikabarkan,
kembali muncul di Taram.

Dari cerita yang diperoleh itu, disebutkan bahwa sebenarnya tidak ada
seorang pun yang tahu kapan dan di mana meninggalnya Syekh Ibrahim Mufti,
karena beliau sering berkelana. Bahkan, karena sudah lama tidak pulang ke
Taram, akhirnya murid-muridnya berusaha untuk mencari. Syekh Muhammad Jamil,
salah seorang anak beliau, bahkan meninggal dunia dalam upaya mencari
ayahnya tersebut. Namun pada suatu malam, salah seorang murid Syekh Ibrahim
Mufti, mengaku pernah bermimpi bertemu beliau.

Dalam mimpinya, dikatakan bahwa kini beliau telah meninggal dunia dan jika
ingin melihat kuburannya, lihatlah pada malam tanggal 27 Rajab setiap
tahunnya. Setelah mengikuti petunjuk itu, memang pada malam itu terlihat ada
cahaya yang muncul dari bumi dan menembus hingga ke langit. Cahaya itu
berasal dari lokasi makam beliau sekarang ini, yaitu di samping Surau Tuo
Taram, di tempat di mana beliau mengajar murid-muridnya. Surau itu, hingga
saat ini masih terlihat berdiri dengan gagah, dan kokoh, walau setelah
melalui tahap renovasi.

Anak kedua Syekh Ibrahim Mufti sendiri, yakni Syekh Nurdin, setelah
meninggal dunia di Taram juga dimakamkan di sebelah makam ayahnya. Sementara
pemeliharaan Surat Tuo dan Makam Keramat Taram tersebut, hingga kini menjadi
tanggung jawab 7 pesukuan di kawasan itu, antara lain, Sumpadang, Simabur,
Pitopang, Melayu, Piliang Laweh, Piliang Godang dan Bodi.

Pesukuan ini secara bergiliran setiap 3 tahun menjadi Imam, Kotik dan Bilal.
Dan para imam yang meninggal dunia selama menjalankan tugasnya lalu
dimakamkan di pemakaman di samping Surau Tuo itu. (jonres)

Oleh Redaksi, Rabu, 03-Nopember-2004, 04:13:15 50 klik
http://padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=2722



____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke