>-----Original Message-----
>From: [EMAIL PROTECTED]
>[mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Ahmad Ridha
>Sent: Friday, November 05, 2004 2:42 PM
>
>Mungkin salah satu penyebab munculnya pendapat tersebut adalah (katanya)
>banyak kesempatan beasiswa di Singapura (yang memang univ.-nya
>bagus-bagus) bagi siswa-siswa Indonesia namun dengan syarat mereka
>bekerja di Singapura atau perusahaan Singapura. Jadi, dampaknya ke kita
>adalah brain drain. Mereka sangat agresif dalam mencari siswa-siswa yang
>potensial misalnya. para peserta olimpiade sains.
>
>--
>Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim
>(l. 1400 H/1980 M)
>

Assalamulaikum WW

Bagi nereka, Singapura, orang pintar itu sangat berharga, karena dengan
itulah bangsanya bisa unggul dalam bersaing didunia yang makin menggalodo eh
global ini. Kalau di Indonesia seorang juara olympiade sain saja (lupa
namanya) kebingungan sewaktu memikirkan bagaimana mengatasi biaya masuk
sekolah sang dosen (Ugeem) yang sainis tadi. Singapura dengan elegan
menawarkan sekolah gratis kepada orang ini.

Dinegeriku ini, yang dihargai dan dilimpahi uang dan diappresiasi tinggi
adalah juara AFI, Ind Idol, KDI dlsb. Kalau juara olympiade sain tak
mendapat tanggapan dari bangsa, media, pemerintah, rantaunetter dllnya.

Nasib kali negeri ini hanya jadi negara melankolis. Pernah mencoba
mengumpulkan sumbangan untuk membantu pendidikan anak tidak mampu, waduh
sulitnya minta ampun. Tapi sumbangan untuk HbH alias hura-hura dihari raya
para yang berpunya saja bisa terkumpul sampai sepuluh kali lipatnya. Pada
hal penyumbangnya yang itu-itu juga alias keluarga yang sama.

Pernah juga berteriak eh menangis setiap hari di footer salah satu email
group yang punya anggota sekitar 400 orang (setingkat sarjana) untuk
mengumpulkan sumbangan untuk membantu mahasiswa kurang beruntung karena
ortunya kurang mampu secara ekonomi, hanya dapat tanggapan dari enam orang
dengan jumlah terkumpul dalam tiga bulan cuma sejuta enam ratus ribu saja
(tidak lebih). Tapi kalau acara hoyak hosen, hura-hura alias temu kangen,
pokoknya ada jogetnya ada nyanyinya dlsb gembira rianya, biaya sepuluh kali
lipat dari bantuan sekolah tadi itu sanggup terkumpul dalam beberapa minggu.
Itulah masyarakatku, itulah cerminan bangsaku, itulah nasibku, nasib
bangsaku.

Eh kok ngobrolanku melantun, mohon maaf, karena tanpa terasa air mataku
jatuh saat menulis ini, kenapa tujuan bangsa ini bukan diarahkan untuk
keunggulan bangsanya dalam berkompetisi, dalam mengahadai galodo gadang
(globalisasi) malah menyerang orang lain, bukannya menukjukan kwalitas
unggulnya untuk dapat bersaing secara fair. Mohon maaf kalau ada salah kata,
maklum emosiku terpancing.

Wassalamulaikum WW
St.P


____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke