Waalaikumussalam,ww. Betul apa mak Sampono Sutan sampaikan, bahwa tahun 60-an orang Malaysia belajar ke Indonesia, karena dosen-dosen kita di Indonesia ini belum bahkan tidak ada lulusan luar negeri !. Mereka dapat menghasilkan lulusan-lulusan yang bermutu, Guru-guru kita yang tidak pernah keluar negeri dikontrak oleh mereka dan dapat menghasilkan lulusan yang menjadikan negara mereka yaitu Malaysia lebih maju dari negara asal gurunya yaitu Indonesia.
Setelah tahun 60-an Perguruan Tinggi Di Indonesia berduyun-duyun mengirim tenaga penagajarnya ke luar negeri, terutama ke Amerika, bahka IAIN juga tidak ketingglan mengirim dosennya belajar Islam ke Amerika (kok tidak ke negara Islam ?). Setelah tamat mereka kembali mengajar. Apa hasilnya !, yah seperti sekaranglah !, mutu pendidikan merosot !, rangking ITB dan UI di negera Asean merosot !. Ranking Universitas Andalas apalagi antalah, antah rangking berapa. Yang dosen IAIN lulusan barat membuat kejutan membawa paham pluralisme, dan megajarkan filsafat mencari tuhan ?, entahlah !. Di Departemen Pendidikan sekarang ini, banyak bercokol lulusan luar negeri yang tiap sebentar tukar sistim dan aturan dengan membawa mentah-mentah sistim pendidikan luar atau barat dengan tidak mempertimbangkan apakah sistim tersebut cocok bagi bangsa kita ? Di IKIP yang sekarang sudah beralih nama, telah menjamur dosen lulusan luar negeri, yang meninggalkan metode pendidikan dan ilmu kependidikan yang telah kita miliki dan yang berhasil mendidik bangsa Malaysia maju, mereka tukar dengan metode atau ilmu kependidikan barat yang tidak cocok bagi kita orang timur. Contoh kecil saya kemukakan, dulu di sekolah dasar (SR) murid diharuskan melipat tangan dimeja dan duduk teratur dan sopan mendengar pelajaran yang diberikan guru. Sekarang hal yang demikian mereka bantah sistim tersebut mengekang murid dan membuat murid tidak leluasa berggerak dan menjadi penakut begitu pendapat mereka. Pendidikan barat menurut mereka adalah memeberi kebebasan kepada murid didalam kelas sehingga murid dibolehkan juga duduk diatas meja, dan berbicara lantang kepada guru tidak apa-apa begitu yang mereka dapatkan dari pendidikan barat. Sekarang dapat kita bandingkan hasilnya ! Mana lebih berhasil pendidikan kita dimasa lalu, yang dapat merobah negara Malaysia ? Atau pendidikan barat atau luar negeri yang menjadikan Indonesia melorot ? Kalaulah kita dulu tidak mengirimkan dosen-dosen kita keluar negeri mungkin kita tidak akan ketinggalan dari Malaysia sekarang ini ????. Saya rasa bukan MKDU-nya yang salah ! Begitu juga sperti yang mak Sampono Sutan sebutkan bahwa P4 adalah gagal. Saya kira P4 untuk pegawai rendahan tidak tidak gagal, yang gagal adalah P4 yang ditatarkan kepada para pejabat, karena yang menatarnya lulusan luar negeri ??, tidak mempunyai semangat kebangsaan, melainkan kapitalis. Saya bukan mengatakan lulusan luar negeri kotor otaknya !, apalagi tidak bermutu ! Melainkan lulusan luar negeri tidak mempunyai semangat dan rasa kebangsaan seperti yang diungkapkan Prof Dr Sofian Effendi Rektor UGM tsb. Mencuci otak yang saya maksudkan disini adalah mengeliminir pengaruh kapitalisnya dengan menukar atau menyegarkan kembali semangat kebangsaan yang mungkin telah didelate oleh sistem kapitalis selama mereka belajar di luar negeri. Banyak maaf, wassalam, ww. Z. Rangkayo Mulie. ----- Original Message ----- From: "Ridwan M. Risan" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Friday, November 05, 2004 11:32 PM Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] Mahasiswa Indonesia ''Dicekoki'' Pemikiran Kapit alis > Assalamu'alikum wr wb., > Dunsanak Yth. > > Topik ini perlu kita bahas bersama dengan lebih cermat, karena menyangkut > pendidikan yang sangat diperlukan untuk menjadi modal agar kita bisa > bersaing dengan baik dalam hidup ini. Dalam kurun waktu 35 tahun terakhir, > mutu pendidikan kita merosot dibanding dengan negara tetangga - berdasarkan > posisi sebelumnya. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya mahasiswa Malaysia > datang belajar ke universitas kita diakhir 60 an, yang mana posisinya > terbalik saat ini. Apabila ada yang sempat mungkin kita bisa searching untuk > mencari tau posisi kualitas ranking ITB atau UI diantara universitas di > ASEAN. > > Kemudian kita bisa pertanyakan apakah pendidikan MKDU (mata kuliah dasar > umum) yang tujuannya untuk menanamkan norma-norma luhur kemanusiaan dan > kebangsaan telah berhasil dengan baik? Apakah lulusan universitas di > Indonesia lebih manusiawi?, lebih negarawan? lebih dapat mendahulukan > kepentingan bersama dari pada kepentingan sendiri? Apabila ya, apa sebabnya > begitu banyak birokrat kita yang merupakan lulusan universitas kita, tidak > bisa menunjukan keperduliannya terhadap permasalahan bangsa ini? > > Apakah pas mengharapkan lulusan luar negeri dicuci otak dulu sebelum bekerja > di Indonesia. Siapa yang akan mencuci otak mereka? Apakah seperti yang > dilakukan dulu dengan program P4? yang dinyatakan gagal dan Lembaganya > dibubarkan. Apakah benar otak lulusan universitas luar lebih kotor dari otak > lulusan universitas kita? > > Mohon maaf apabila terlalu keras dalam mengungkapkannya. > > Wassalam, > Sampono Sutan (55+) > ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

