Dikirim baliak karano postiang asli indak masuak. Mudah-mudahan iko sampai.
Sayangnyo gambarnyo nan manabikkan aia mato awak indak masuak dalam posting
nan partamau tadi di palanta. Silakan caliak di situs aslinyo).
At 06:36 AM 11/13/2004 -0800, Sjamsir Sjarif wrote:
Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun ...
Telah berpulang kerahmatullah Pahlawan Palestina yang seumur hidupnya
tidada henti-hentinya memperjuangkan Kemerdekaan Rakyat Palestina.
Semoga arwah Pemimpin Besar Ummat Tertindas ini diterima Ilahi Rabbi
dengan penuh kedamaian dan diberiNya tempat mulia di Alam Baqa. Semoga
Perjuangan Ummat Tertindas di Palestina dapat meneruskan Perjuangan Suci
mereka dan keluarga Arafat Suha Tawil Arafat bersama putrinya Zahwa
dikaruniai Allah kesabaran dan tawakkal yang sekuat-kuatnya.
Istimewa kepada Zahwa, Air Mata kami ikut bersama Air Matamu menyirami
Padang Pasir membanjiri Aliran Sungai Kesedihan di Seluruh Dunia Fana ini ...
Kami doakan kesabaran dan tawakkalmu. Kami ikut menangis bersamamu Zahwa ...
Salam,
-- Sjamsir Sjarif
Dari SUARA PEMBARUAN DAILY Sabtu 13 November 200 kito baco
----------
Jangan Menangis Zahwa...
[2 foto di siko.Mungkin karano itu indak masuak ka lapau. Silakan calaik
di website aslinyo]:
http://www.suarapembaruan.com/News/2004/11/13/index.html
AP Photo/Nasser Shiyoukhi AFP
KELUARGA ARAFAT - Foto dokumen Presiden Palestina Yasser Arafat (kiri)
bersama istrinya, Suha, dan putrinya, Zahwa, saat berada di Bethlehem, 24
Desember 1999. Putri Arafat, Zahwa (kanan).
MATA Zahwa (9), putri semata wayang mendiang Yasser Arafat berkaca-kaca.
Kedua tangannya dikatup erat-erat. Sesekali tangan kanannya menyeka air
mata yang kian mengalir. Zahwa, gadis berusia sembilan tahun terlihat
sangat sedih, tak kuasa melepas kepergian ayahnya untuk selama-lamanya.
Pertemuannya dengan Arafat selama 13 hari di Rumah Sakit Militer Percy di
Clamart, Paris, Prancis, adalah kenangan terakhir yang tak pernah terulang
kembali. Sejak intifadah dimulai tahun 2000 lalu, Zahwa bersama ibunya,
Suha Tawil Arafat, tidak lagi tinggal bersama Arafat. Mereka pindah ke
Prancis. Di sana keduanya menetap di sebuah hotel.
Kepergian ibu dan anak itu ke Prancis atas restu Arafat, walau sebagian
rakyat Palestina mengeritik Suha sebagai ibu negara yang tidak pernah
merasakan penderitaan rakyat. Suha beralasan, kepindahan mereka ke Paris
untuk merawat dan mendidik putri mereka, karena kondisi kesehatan,
sanitasi, dan lingkungan sosial di Palestina tidak memungkinkan Zahwa
bertumbuh menjadi anak yang normal.
Ketika jenazah ayahnya di arak menuju pesawat di bandara militer Kairo,
Mesir, kamera televisi Mesir - satu-satunya televisi yang diizinkan
meliput proses pemakaman Arafat - sesekali menyorot wajah Zahwa yang
semakin memerah karena menangis.
Suha, ibunya tak kuasa menangis melihat anaknya sesegukan. Ia memeluk
Zahwa dan keduanya terbenam dalam tangisan, ketika lagu kebangsaan
Palestina dikumandangkan. Duka Zahwa adalah duka Palestina.
"Jangan menangis, Zahwa. Ayahmu dulu tidak pernah menangis. Dia adalah
seorang pria yang sangat sabar dan kuat," bisik seorang ibu yang selama
prosesi terus mendampingi keluarga Arafat. Associated Press, Sabtu (13/11)
melaporkan, istri Presiden Hosni Mubarak juga terlihat setia mendampingi
Suha dan Zahwa.
"Jangan menangis Zahwa. Hari ini, seluruh anak Arab menghormati dan bangga
pada kamu. Mereka mencintai kamu."
Zahwa adalah nama yang sengaja diberikan ayahnya untuk putri satu-satunya.
Nama itu mengingatkan akan nama almarhumah ibu kandung mendiang Yasser
Arafat atau nenek Zahwa yang juga bernama Zahwa, yang berarti kebanggaan.
Arafat dan keluarganya hidup terpisah selama kurang lebih tiga tahun,
persisnya sejak pasukan Israel mengepung markas Arafat di Ramallah pada
September 2000. Selama tahun-tahun itu juga, Zahwa jarang muncul di depan
umum.
Walau tinggal berjauhan, keduanya sering berkomunikasi lewat telepon. Dan
ketika mendengar kabar bahwa Yasser Arafat akan diterbangkan ke Paris
untuk dirawat karena menderita penyakit yang sampai saat ini tidak
diketahui, hati Zahwa berbunga-bunga.
Ia membayangkan betapa bahagianya bertemu dan tinggal bersama dengan
seorang bapak yang selama tiga tahun tidak pernah ketemu. "Dia sangat
bangga," kata seorang ajudan, ketika mendengar ayahnya akan ke Paris.
Di hari-hari menunggu kedatangan ayahnya, Zahwa kerap keluar rumah ketika
mendengar bunyi pesawat terbang yang melintas. Ia selalu membayangkan
bapaknya berada di atas pesawat itu. Hati Arafat pun berbunga-bunga ketika
bertemu dan melihat anaknya bertumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik dan
lincah.
Sayang, kebahagiaan Arafat tidak berlangsung lama, direnggut penyakit yang
membuat ia tidak sadarkan diri. Arafat koma dan tidak bisa bercengkerama
lagi dengan putrinya hingga ajal menjemputnya pada Kamis (11/11), di Rumah
Sakit Militer Percy di Clamart, Paris, Prancis.
Arafat pergi meninggalkan duka di hati Zahwa, di hati Suha istrinya dan
rakyat Palestina seluruhnya. Dunia pun berkabung mengenang Arafat, pejuang
Palestina yang tak kenal lelah. Selamat jalan Arafat. Jangan menangis
Zahwa, ayahmu dulu tidak pernah menangis.
PEMBARUAN/GUSTI LESEK
---
Outgoing mail is certified Virus Free.
Checked by AVG anti-virus system (http://www.grisoft.com).
Version: 6.0.788 / Virus Database: 533 - Release Date: 11/1/2004
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________