Dik Ronald, karena ngak dikasih judul, maka bia aja setelah kita baca berbagai macam judul dapat dibuat.
1) Jangan Munafik 2 ) Katakanlah yang benar itu meski pahit 3 ) Tetaplah dalam kebenaran walau ombak menghadang ganas hehehe..masiih banyak stok judul yang lain. Wassalam. Rahima. --- Ronald P Putra <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > " ah, jangan terlalu fanatik lah ..!" sejenak > hening, > kemudian : " ya.udah, ntar gua telpon lagi deh.." > > Pembicaraan kamipun terputus. Untuk beberapa saat, > aku hanya terdiam > memandangi telpon di atas meja. Nada suara dari > sahabat tadi jelas sekali > menunjukkan kekecewaan yang sangat mendalam. Aku > yakin, untuk > beberapa hari atau minggu ke depan mungkin sahabat > ini tidak akan > menghubungi aku dulu, karena kesal dan kecewa > barangkali. > > Sejak beberapa waktu lalu, sahabat ini menjadi > kepala cabang dari sebuah > perusahaan asuransi. Ucapan alhamdulillah dan rasa > syukurpun telah > kusampaikan, dia senang mendengarnya dan berterima > kasih. Cuma, > pembicaraan lewat telpon itu, yang tadinya hanya aku > niatkan untuk > menyampaikan ucapan selamat saja, berubah menjadi > ajang pengenalan > produk asuransi dan tawaran untuk ikut sebagai > pemegang polis. > > " gue minta KTP lu yah, ntar polis gue kirimin ke > alamat kantor.." > > begitulah 'todongan' yang disampaikan dari sahabat > ini beberapa waktu > lalu. Wajar kalau dia tinggal 'todong'. Karena toh > aku kan sahabat baiknya > dan pasti tidak akan menolak untuk ikut sebagai > pemegang polis. > > Berbagai alasan untuk menolak secara halus > sebenarnya sudah kusampaikan, > mulai dari belum punya penghasilan lebih, belum > minat dan lain sebagainya. > Tapi sahabat ini tetap nodong dengan berbagai > tawaran yang menurutku > menggiurkan sebenarnya. Maka tiada hari yang ku > lewati tanpa telpon dari > sahabat yang satu in, tentunya tentang produk > asuransinya. > > Tapi, beberapa hari belakangan ini, dia belum telpon > lagi menawarkan produknya. > Aku sebenarnya cukup 'senang' juga. Karena > sebenarnya aku tidak berminat > untuk ikut sebagai pemegang polis. Ada alasan > tersendiri yang pada waktunya > nanti, akan kuberitahukan kepadanya. > > Cuma, rencanaku berantakan. Tiba-tiba dia menelpon > dan meminta jawaban > atas apa yang selama kucoba simpan dan rahasiakan > darinya. Bahwa aku > sebenarnya sudah menjadi pemegang polis pada > asuransi yang dikelola sebuah > lembaga islam. Nggak tahu dia dapat informasi dari > mana, dan aku nggak sempat > bertanya.. > > " ya, benar, gue sudah ikut sejak sebulan lalu.." > jawabku tak bisa lagi berbohong. > > " apa sih kelebihannya ? toh setelah gue > hitung-hitung, return yang bakal > lu terima dari gue jauh lebih besar dengan nilai > premi jauh lebih rendah, > lagian itu kan berarti lu masuk, disaat gue lagi > nawarin ke lu.? " Tanya teman > ini penuh selidik. > > " bukan karena returnnya, tapi gue udah terlanjur > janji untuk ikut pada > marketingnya.." aku coba mencari jawaban pembelaan. > Karena di saat seperti ini, > akan percuma jika kujelaskan alasan ku yang > sebenarnya. > > " alaah, lu bisa aja ngeles. Bilang aja karena lebih > Islami, ya kan ? kok masalah > asuransi saja harus bawa-bawa islam sih..! " Kali > ini nada suaranya agak > meninggi. > > Aku hanya terdiam tanpa bisa menjawab. Dalam hati > aku membenarkan > pertanyaannya itu. Karena Islam nya, bukan karena > yang lain. Walaupun aku > ditawarkan nilai return yang besarnya hampir dua > kali lipat. Dan wajar dia kesal, > karena dia telah menghabiskan waktu yang cukup lama > dan dengan > harapan yang sangat tinggi akan ikutnya aku sebagai > pemegang polis tersebut. > > " bukan, tapi karena memang gue udah terlanjur > janji.." > masih kucoba untuk membela diri. > > " ah, jangan terlalu fanatik lah ..!" > > * * * * * > > Tidak mudah memang untuk mengembangkan sistim > perekonomian > Islam sebagai alternatif dan solusi dari sistim > perekonomian yang > kita anut sekarang, yang ternyata banyak sekali > lobang-lobang kelemahannya. > > Kendala yang dihadapi bukan saja karena masih > minimnya lembaga > islam yang bergerak di bidang ini, kurang > tersedianya perangkat keras > dan perangkat lunak, juga karena masih minimnya > pengetahuan masyarakat > muslim pada umumnya tentang ekonomi islam dan kenapa > harus berekonomi > islam. Tapi jika tidak kita mulai dari diri sendiri > ? meminjam istilah AaGym ? > maka semangat kembali ke islam secara utuh mungkin > hanya tinggal seruan > di padang pasir yang luas. > > Maka, lakukan apa yang bisa anda lakukan saat ini > untuk kemajuan islam > dan peradabannya, jangan tunda walau sejenak. > Wassalaam, > > (rpp, jkt nov 24) > > > (Embedded image moved to file: pic01842.pcx) > > > -- > > This e-mail may contain confidential and/or > privileged information. If you are not the intended > recipient (or have received this e-mail in error) > please notify the sender immediately and destroy > this e-mail. Any unauthorized copying, disclosure or > distribution of the material in this e-mail is > strictly forbidden. > > ____________________________________________________ > > Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, > silahkan ke: > http://rantaunet.org/palanta-setting > ------------------------------------------------------------ > Tata Tertib Palanta RantauNet: > http://rantaunet.org/palanta-tatatertib > ____________________________________________________ __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

