Menarik sekali tulisan pak Ronal ini..

Ini toh memang sering terjadi dalam keseharian kita. Khususnya orang-orang
yang tetap gaul tapi ingin mempertahankan warna Islamnya.
Saya sejak kecil juga termasuk anak yang dianggap tampil beda. Walaupun saya
nggak tau banyak mengenai Islam, tapi saya mencoba menerapkan yang saya
tahu. Yah.. kebenaran Islam model saya.
Tingkah polah seperti nggak mau salaman dengan wanita, nggak pacaran atau
nggak mau jalan bareng perempuan berdua atau hal yang nggak lumrah lainnya.
Di rumah juga sempat jadi kritikan karena cara saya yang kurang tepat dalam
mensosialisasikan ajaran yang saya pahami di rumah. Ketemu hadist tentang
larangan memajang gambar yang ada manusia dan hewannya, langsung saya
turunin dan simpan lukisan yang memang ada di mana-mana. Saya juga sempat
protes karena rumah saya memang buanyak sekali patung bali.

Tetapi, kondisi tersebut terasa mulai berbeda ketika "Trade Mark" alim itu
sudah mulai menempel pada diri saya. Trade mark yang menggelikan wong saya
bukan ustadz, nggak ngerti qur'an dah hadist. Mbacanya aja masih belepotan,
jangankan untuk menjelaskan. Saya fikir, itu mungkin timbul karena melihat
keseharian saya yang rada unik, dan kegemaran saya nongkrong di mesjid serta
nunggang-nungging tiap hari, atau aktif dalam organisasi kerohanian.

Awalnya sih, ada rasa tidak nyaman dengan ledekan orang Alim. Tapi
lama-lama, jujur aja, saya menikmatinya. Karena status tersebut ternyata
cukup menjaga saya. Mau ngelakuin yang aneh-aneh, sebelum inget sama Allah,
udah ada kontrol sosial terlebih dahulu. Akhirnya sahabat-sahabat saya mulai
terbiasa dengan tingkah polah saya. Malah, pada akhirnya, mereka sendiri
yang nggak ingin saya menjadi mereka.

Waktu berlalu, sampai saya sekolah di Surabaya, Jakarta, bekerja dan
melanjutkan sekolah di jepang ini. Status tersebut seakan menempel begitu
saja. Di jepang ini, tentu sangat sulit untuk hidup dengan warna sangat
Islami (model pemahaman saya). Teman-teman suka heran dengan aktivitas
nunggang-nungging saya, nggak mau minum sake dan kelewat strik dengan
makanan, puasa, sampe yang paling susah dijelaskan adalah keengganan saya
memakai alat masak mereka.

Tapi, entah mengapa. Rasa-rasanya saya tetap bisa jadi zebra pelangi di
antara gerombolan zebra hitam putih. Tetap bercampur, sekalipun beda warna.
Pilihannya memang cuman 2. Dijauhi atau sangat dihargai.

Wallahu a'lam

----- Original Message -----
From: "Ronald P Putra" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, November 24, 2004 1:34 PM
Subject: [EMAIL PROTECTED] ma'af, nggak ada judulnya...





" ah, jangan terlalu fanatik lah ..!" sejenak hening,
kemudian : " ya.udah, ntar gua telpon lagi deh.."

Pembicaraan kamipun terputus. Untuk beberapa saat, aku hanya terdiam
memandangi telpon di atas meja. Nada suara dari sahabat tadi jelas sekali
menunjukkan kekecewaan yang sangat mendalam. Aku yakin, untuk
beberapa hari atau minggu ke depan mungkin sahabat ini tidak akan
menghubungi aku dulu, karena kesal dan kecewa barangkali.

Sejak beberapa waktu lalu, sahabat ini menjadi kepala cabang dari sebuah
perusahaan asuransi. Ucapan alhamdulillah dan rasa syukurpun telah
kusampaikan, dia senang mendengarnya dan berterima kasih. Cuma,
pembicaraan lewat telpon itu, yang tadinya hanya aku niatkan untuk
menyampaikan ucapan selamat saja, berubah menjadi ajang pengenalan
produk asuransi dan tawaran untuk ikut sebagai pemegang polis.

" gue minta KTP lu yah, ntar polis gue kirimin ke alamat kantor.."

begitulah 'todongan' yang disampaikan dari sahabat ini beberapa waktu
lalu. Wajar kalau dia tinggal 'todong'. Karena toh aku kan sahabat baiknya
dan pasti tidak akan menolak untuk ikut sebagai pemegang polis.

Berbagai alasan untuk menolak secara halus sebenarnya sudah kusampaikan,
mulai dari belum punya penghasilan lebih, belum minat dan lain sebagainya.
Tapi sahabat ini tetap nodong dengan berbagai tawaran yang menurutku
menggiurkan sebenarnya. Maka tiada hari yang ku lewati tanpa telpon dari
sahabat yang satu in, tentunya tentang produk asuransinya.

Tapi, beberapa hari belakangan ini, dia belum telpon lagi menawarkan
produknya.
Aku sebenarnya cukup 'senang' juga. Karena sebenarnya aku tidak berminat
untuk ikut sebagai pemegang polis. Ada alasan tersendiri yang pada waktunya
nanti, akan kuberitahukan kepadanya.

Cuma, rencanaku berantakan. Tiba-tiba dia menelpon dan meminta jawaban
atas apa yang selama kucoba simpan dan rahasiakan darinya. Bahwa aku
sebenarnya sudah menjadi pemegang polis pada asuransi yang dikelola sebuah
lembaga islam. Nggak tahu dia dapat informasi dari mana, dan aku nggak
sempat
bertanya..

" ya, benar, gue sudah ikut sejak sebulan lalu.." jawabku tak bisa lagi
berbohong.

" apa sih kelebihannya ? toh setelah gue hitung-hitung, return yang bakal
lu terima dari gue jauh lebih besar dengan nilai premi jauh lebih rendah,
lagian itu kan berarti lu masuk, disaat gue lagi nawarin ke lu.? " Tanya
teman
ini penuh selidik.

" bukan karena returnnya, tapi gue udah terlanjur janji untuk ikut pada
marketingnya.." aku coba mencari jawaban pembelaan. Karena di saat seperti
ini,
akan percuma jika kujelaskan alasan ku yang sebenarnya.

" alaah, lu bisa aja ngeles. Bilang aja karena lebih Islami, ya kan ? kok
masalah
asuransi saja harus bawa-bawa islam sih..! "  Kali ini nada suaranya agak
meninggi.

Aku hanya terdiam tanpa bisa menjawab. Dalam hati aku membenarkan
pertanyaannya itu. Karena Islam nya, bukan karena yang lain. Walaupun aku
ditawarkan nilai return yang besarnya hampir dua kali lipat. Dan wajar dia
kesal,
karena dia telah menghabiskan waktu yang cukup lama dan dengan
harapan yang sangat tinggi akan ikutnya aku sebagai pemegang polis tersebut.

" bukan, tapi karena memang gue udah terlanjur janji.."
masih kucoba untuk membela diri.

" ah, jangan terlalu fanatik lah ..!"

* * * * *

Tidak mudah memang untuk mengembangkan sistim perekonomian
Islam sebagai alternatif dan solusi dari sistim perekonomian yang
kita anut sekarang, yang ternyata banyak sekali lobang-lobang kelemahannya.

Kendala yang dihadapi bukan saja karena masih minimnya lembaga
islam yang bergerak di bidang ini, kurang  tersedianya perangkat keras
dan perangkat lunak, juga karena masih minimnya pengetahuan masyarakat
muslim pada umumnya tentang ekonomi islam dan kenapa harus berekonomi
islam. Tapi jika tidak kita mulai dari diri sendiri ? meminjam istilah AaGym
?
maka semangat kembali ke islam secara utuh mungkin hanya tinggal seruan
di padang pasir yang luas.

Maka, lakukan apa yang bisa anda lakukan saat ini untuk kemajuan islam
dan peradabannya, jangan tunda walau sejenak. Wassalaam,

(rpp, jkt nov 24)


(Embedded image moved to file: pic01842.pcx)


--

This e-mail may contain confidential and/or privileged information. If you
are not the intended recipient (or have received this e-mail in error)
please notify the sender immediately and destroy this e-mail. Any
unauthorized copying, disclosure or distribution of the material in this
e-mail is strictly forbidden.



----------------------------------------------------------------------------
----


> ____________________________________________________
>
> Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
> http://rantaunet.org/palanta-setting
> ------------------------------------------------------------
> Tata Tertib Palanta RantauNet:
> http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
> ____________________________________________________


____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke