http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2004112602021416
Bandara Ketaping akan Beroperasi
Pertumbuhan Ekonomi Sumbar Bergairah
PULUHAN alat berat masih sibuk bekerja di Ketaping, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat (Sumbar), kemarin. Beberapa ratus meter dari pantai barat Pulau Sumatra itu, puluhan orang tampak sedang mengerjakan sebuah landasan aspal sepanjang 2,75 km.
Sementara itu, di arah timur sebuah tower dan beberapa gedung bertingkat juga sedang dikerjakan, menunggu penyelesaian akhir.
Di areal seluas 430 hektare tersebut sedang dibangun bandara baru Sumbar. Lapangan pesawat terbang yang diberi nama Minangkabau International Airport (MIA) itu memang sedang ditunggu-tunggu. Pasalnya, Bandara Tabing sudah tak mampu menampung penumpang yang melonjak lebih dari 100% hingga mencapai 1 juta orang per tahun. Belum lagi menjamurnya perusahaan penerbangan yang buka ke Padang.
Dengan landasan 2.750 meter x 45 meter, Bandara Minangkabau nanti bisa menampung pesawat berbadan lebar sejenis DC10, MD11, Air Bus, A300, dan Boeing 747 pun bisa mendarat di sini. Berbeda dengan Bandara Tabing yang hanya bisa menampung pesawat berbadan kecil sekelas Boeing 737.
Di Tabing lahan parkir pun hanya muat untuk tiga pesawat, sementara Ketaping mampu menampung tujuh pesawat sekaligus. "Kita masih bisa mengembangkan landasan hingga mencapai panjang 3 km, sehingga Boeing 747 bisa mendarat di sini," kata Sekretaris Proyek Prio Budiono, kemarin.
Saat ini, menurutnya, landasan sudah selesai 95%, sedangkan bangunan bandara sekitar 67%. "Kita menargetkan bisa menyelesaikannya pada April 2005," katanya.
Jika tepat waktu, bandara yang dibangun sejak April 2002 dengan biaya Rp800 miliar itu, akan selesai dalam tiga tahun.
Menyambut selesainya proyek itu, Dinas Perhubungan Provinsi Sumbar juga sibuk berbenah. "Di antaranya, kami mengatur lancarnya transportasi darat menuju bandara dengan bus, taksi, dan angkutan lainnya," ujar Kepala Sub Dinas (Kasubdin) Perhubungan Udara Dinas Perhubungan Sumbar Herry Zulman.
Selain angkutan menuju Kota Padang yang berjarak sekitar 22 km di selatan bandara, juga menuju beberapa daerah lainnya, seperti Bukittinggi, Solok, dan Batusangkar.
"Pemprov Sumbar juga sedang mengajukan permintaan tentang kemungkinan pemprov ada share (bagian) dalam pengelolaan bandara itu," katanya.
Menurut Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumbar Muchlis Muchtar, pemprov ikut membiayai pembangunan bandara dengan pembebasan tanah.
Pertumbuhan ekonomi
Namun, terlepas dari share tersebut, lanjut Muchlis, beroperasinya Bandara Minangkabau akan berdampak besar bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat Sumbar. Apalagi, Sumbar mengandalkan pariwisata, produksi pertanian, dan kerajinan. "Adanya bandara ini, memungkinkan dibukanya penerbangan luar negeri selain Singapura dan Malaysia," jelasnya.
Penerbangan ke Australia dan Jepang--dua negara tempat peselancar paling banyak ke Sumbar--akan lebih mendekatkan Mentawai yang kian terkenal sebagai tempat surfing paling menantang di dunia. Apalagi pariwisata alam Sumbar daratan yang sudah lama terkenal, kini kembali dipopulerkan lewat olahraga paralayang di Maninjau dan Pesisir Selatan.
"Saya optimistis jika ada penerbangan ke Afrika, pasar garmen Sumbar akan meningkat pesat. Kita kan penghasil bordir terbesar di Indonesia. Selama ini terhambat karena keterbatasan transportasi," ujar Muchlis lagi.
Belum lagi, jika pada 2006 Ketaping sudah bisa menjadi embarkasi haji sendiri. "Selama ini, biaya untuk embarkasi di Medan satu jemaah haji membayar Rp1,6 juta. Jika di sini, tentu bisa lebih hemat. Dan, dana yang dikeluarkan akan berputar di sini," katanya.
Optimisme Pemprov Sumbar juga tergambar dalam target pertumbuhan ekonomi sebanyak 5% dalam Arah Kebijakan Umum (AKU) tahun 2005 yang sedang dibahas di DPRD Sumbar.
Ketua Badan Koordinasi dan Promosi Penanaman Modal Daerah (BKPPMD) Syahrial Syarif optimistis dengan target pada 2005 tersebut. "Investasi pada 2005 akan ikut naik dan akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi," ujarnya. (
http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2004112602021517
Bandara Tabing Kewalahan Hadapi Lonjakan Penumpang
PEMANDANGAN di Bandara Tabing, Padang, Sumatra Barat (Sumbar) kini setiap hari tak ubahnya seperti pasar, riuh oleh manusia. Keriuhan ini dikarenakan ribuan orang datang dan pergi dari bandara tersebut setiap harinya. Ditambah lagi, para pengantar dan penjemput ikut menyesakkan bandara yang tidak terlalu luas itu.
Menjamurnya perusahaan penerbangan sejak dua tahun terakhir mengakibatkan terjadinya perang tarif. Harga tiket pesawat dibanting hingga hanya Rp250 ribu saja untuk penerbangan Padang-Jakarta. Angka itu tak beda jauh dengan tarif bus super eksekutif jurusan yang sama.
Akibatnya, naik pesawat bagi masyarakat kini bukan sesuatu yang istimewa lagi. Dan, Bandara Tabing pun jadi kian sesak.
Pada 1995 yang menguasai Bandara Tabing Padang hanya perusahaan penerbangan 'pelat merah' seperti PT Garuda Indonesia dan PT Merpati.
Beberapa tahun kemudian, muncul Batavia, Lion Air, Jatayu Airlines, Adam Airlines, dan Riau Airlines meramaikan jalur udara ke Padang. Sementara untuk jalur Padang-Singapura dan Malaysia, ada Berjaya Airlines, Silk Airlines, dan Air Asia.
Pada kondisi normal atau sebelum puasa, tiap hari setidaknya 18 kali pesawat komersial mendarat dan berangkat dari Tabing. Sedikitnya 3.956 orang turun dan naik di bandara tersebut.
Pada saat Lebaran kemarin, jumlahnya semakin membengkak mencapai 26 pesawat seharinya. Semenjak H-7 lebaran (7/11) hingga H+7 (22/11), jumlah penumpang yang datang saja mencapai 37.253 orang dan yang berangkat mencapai 22.077 penumpang.
Dari jumlah tersebut, rata-rata kedatangan penumpang sehari di Bandara Tabing selama Lebaran adalah 2.328 orang sehari dan keberangkatan sebanyak 1.379 penumpang.
Jika dibandingkan dengan hari biasa, pada September 2004 misalnya, tercatat 57.099 orang yang datang dan 57.985 penumpang berangkat dari Bandara Tabing. Tiap harinya, sekitar 1.903 datang di Bandara Tabing dan yang berangkat sebanyak 1.933 orang.
Artinya, jumlah kedatangan di Bandara Tabing saat Lebaran ini meningkat menjadi 18,25%, sedangkan jumlah keberangkatan malah turun 28,66% karena para pemudik ke Sumbar yang sebagian besar pedagang itu masih menghabiskan waktu bersama keluarga di kampung masing-masing. Jumlah keberangkatan ini diperkirakan akan melonjak setelah H+7, melebihi jumlah keberangkatan pada bulan biasa.
Peningkatan arus penumpang itu membuat PT Angkasa Pura II kewalahan. Apalagi fasilitas yang tersedia tidak mencukupi. "Keterbatasan sarana dan prasarana menyebabkan pelayanan yang dilakukan oleh perusahaan penerbangan tidak mampu memenuhi harapan pengguna jasa," ujar Dinas Kepegawaian dan Umum PT Angkasa Pura II Taufik Aziz.
Bandara Tabing memang sudah tidak representatif lagi untuk menampung arus penumpang. Bandara ini sudah pada titik jenuh sehingga pihak Angkasa Pura II hanya bisa mengoptimalkan fasilitas yang sudah ada, tidak bisa menambah fasilitas lain. Hal ini disebabkan lokasi atau wilayah bandara sudah sangat sempit.
Kondisi ini dirasakan sejumlah perusahaan penerbangan. Manajer Umum PT Garuda Indonesia Cabang Padang Yona Mardiona mengatakan, kondisi yang terjadi di Bandara Tabing sangat merugikan perusahaan penerbangan. Bandara tersebut juga hingga saat ini belum memiliki instrumen landing system (alat memantau cuaca). "Jika hujan turun di Kota Padang, pesawat terpaksa mendarat di bandara tetangga. Hal ini menambah biaya bagi perusahaan," ujarnya.
Lima tahun ke depan bandara ini tidak memungkinkan dipertahankan. Hal ini menyusul tingginya minat pengusaha penerbangan membuka jalur ke Sumbar.
Dan, Bandara Internasional Minangkabau di Ketaping, Kabupaten Padang Pariaman diharapkan bisa menjawab seluruh permasalahan yang ada di Bandara Tabing Padang
Z Chaniago - Palai Rinuak - http://www.maninjau.com ====================================================================== Alam Takambang Jadi Guru ======================================================================
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

