Assalamu'alikum wr.wb. Hari Minggu 20 Nopember 2004, saya bersama 2 orang tamu dari Inggris berkunjung ke Bonjol, Pasaman Timur. Kunjungan wisata ini sengaja di jadwalkan oleh kedua rekan saya jauh-jauh hari dari Inggris, untuk melihat dari dekat dimana titik Equator (Khatulistiwa) yang menjadi sejarah dan perhatian dunia internasional. Menurut mereka ada dua titik utama di dunia ini menjadi titik pemisah antara Barat dan Timur yaitu di London dan kedua antara Utara dan Selatan di Bonjol. Mereka mengetahui sejarah Indonesia, juga tentang peristiwa bersejarah perjuangan pemimpin Islam Tuanku Imam Bonjol yang lahir tahun 1772 dan meninggal di Manado, melawan penjajahan Belanda tahun 1821 yang memimpin Perang Paderi. Tuanku Imam Bonjol adalah Panglima Perang Paderi. Tuanku Imam Bonjol diakui pemerintah sebagai "Pahlawan Nasional" bersama Pangeran Diponegoro di Jawa. Pengakuan pemerintah ini ditandatangani oleh Presiden Suharto dan dapat dilihat di Museum Tuanku Imam Bonjol di Bonjol. Yang memperihatinkan adalah fasilitas dan perawatan Rumah Bola yang dibangun dipinggir jalan raya By Pass Bukittinggi-Medan di Bonjol, berseberangan dengan titik Equator dan Museum. Rumah Bola ini dulu mempunyai globe besar yang dapat digerakkan untuk memberikan penerangan kepada para pengunjung. Ketika kami masuk menaiki tangga Rumah Bola ini, kami disambut meriah oleh "bau" busuk yang menusuk hidung, yaitu bau pesing air kencing dan tinja. Di atas tangga masih ada jembatan papan yang masih kuat, namun kami temukan disana kertas "koa" dan kartu remi yang berserakan. Rupanya malam hari tempat ini dijadikan tempat "perjudian" lokal dan tempat setoran buang kotoran manusia. Alangkah malunya kita, ketika kedua tamu dari Eropa ini berkomentar, kenapa fasilitas ini menjadi begini? kalau di London lokasi titik lintas ini menjadi objek wisata yang mendatangkan ribuan Euro setiap bulan. Bagaimana ini Pak Bupati Pasaman Timur? malu awak dibueknyo... tolonglah kembalikan fasilitas wisata ini menjadi milik negara yang dapat mendatangkan aset buat Pasaman Timur khususnya dan Sumatera Barat umumnya. Kedua tamu saya dari Inggris adalah muslim (beragama Islam), kami shalat Dzuhur berjemaah di Mesjid Raya Tuanku Imam Bonjol yang dibangun tahun 1992 atas biaya Yayasan Amalbakti Pancasila yang parasastinya ditandatangani oleh Suharto. Mesjid ini cukup terpelihara dengan baik. Amat disayangkan tidak ada satupun restoran dan rumah makan di lokasi wisata Equator Bonjol ini, sehingga kami makan siang Lapau Nasi di Pasar Kumpulan. Wassalam ZS Mangkuto
____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

