Cerita si Tetua : Sail Al-'Arim
(oleh : Ronald)
" Hai kalian semua, kemarilah ! Akan kuceritakan sebuah kisah"
Suara itu memecah kesibukan para semut pekerja hari itu.
Serentak mereka menoleh kearah suara..
" Oh, si Tetua kiranya.." Komentar beberapa semut sambil meninggalkan
pekerjaan dan mendatangi semut yang dipanggil tetua tersebut.
Semut-semut yang lainpun mulai berbondong-bondong mengitari si Tetua.
Mereka biasanya akan langsung bergerak mengelilingi si Tetua jika si
Tetua ini akan memulai sebuah cerita.
" Cerita apa kali ini Tetua ?" Tanya seekor semut
" Sail Al-'Arim, tahukah kalian apa itu ?" Tanya si Tetua memulai
ceritanya.
" Ngaaaaak, " Hampir berbarengan para semut menjawab.
" Baiklah, tapi tolong buatin saya kopi dulu, biar enak ceritanya.."
Pinta si Tetua sambil menatap Kucil, semut pekerja yang biasanya
kebagian jatah dapur. " Yeee, ujung-ujungnya kopi juga.." Sahut si
Kucil sambil beranjak ke dapur dibarengi beberapa sahutan dari
temannya si Kucil.
" Saya juga ya Cil .."
" Saya pake es.." Goda beberapa temannya. Si Kucil hanya mencibir
dan melangkah ke dapur.
" Sudah-sudah, mau cerita nggak ?" si Tetua cepat menimpali
" Mauuuuuuu.."
" Begini kisahnya.." Dan para semut yang telah memenuhi gua
kecil itupun mulai tenang tidak bersuara.
" Pada masa lalu, terdapat sebuah kaum yang dirahmati Allah,
kaum Saba' namanya. Mereka diberi rezki dan karunia oleh Allah
dengan dua kebun dikiri dan kanan. Kaum Saba' memiliki sebaik-baik
karunia, dimana Allah memberi mereka segala sesuatu sebagaimana
diwahyukan dalam kitab suci. Mereka mendirikan peradaban yang maju
dan dapat menguasai air lembah antara dua gunung, dimana mereka
mendirikan penghalang pada kota Ma'rib yang disebut dengan bendungan
Ma'rib. Kaum Saba' ini memiliki dua buah kebun, yang kalau kita
lewat dibawahnya, cukup mengumpulkan buah-buahan yang jatuh tanpa
perlu memetiknya, saking banyaknya.."
" Enak duooong.." Komentar si Rajel yang duduk dengan manisnya
di depan si Tetua. " Huuuuuu.." yang lain menimpali. Beberapa semut
ada yang usil mencolek si Rajel, sehingga dia sedikit berkelit
kesana kemari.
Kemudian terlihat si Kucil dari belakang membawa nampan berisi
secangkir kopi untuk si Tetua. Agak kesulitan juga si Kucil melewati
pundak-pundak temannya yang duduk melingkari si Tetua.
" Wah.. ini nih yang aku suka, kopi panas sambil cerita.."
Si Tetua kemudian mengambil cangkir kopi dari si Kucil dan langsung
menyeruputnya.
" Kok kurang manis..?" Kening si Tetua agak berkerut.
" Anu.. gulanya habis pada dimakanin teman-teman.." Sahut si Kucil
sambil memelototi beberapa temannya dan garuk-garuk kepala.
" Si Rajel, Tetua. Dia yang ngabisin.." Terdengar suara dari arah
belakang sambil diiringi beberapa cekikikan dari temannya. Ada yang
berbisik-bisik.
" Bukan, Bukan, si Golas. Kemaren kedapatan mulutnya berlepotan gula.."
Sanggah si Rajel membela diri. Tawa beberapa temannya meledak.
" Ah kalian sama saja, semua mulut kalian kan selalu berlepotan gula.
Sudah-sudah, ntar sore kalian harus cari gula lagi. Trus ceritanya
mau diterusin nggak nih.." Sambung si Tetua.
" Mauuuuuu.."
(bersambung..)
--
This e-mail may contain confidential and/or privileged information. If you are
not the intended recipient (or have received this e-mail in error) please
notify the sender immediately and destroy this e-mail. Any unauthorized
copying, disclosure or distribution of the material in this e-mail is strictly
forbidden.
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________