>-----Original Message-----
>From: [EMAIL PROTECTED]
>[mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Zulfikri
>
>
>Assalamualaikum, ww
>Sanak Darul St. Pangulu nan dihormati !.

Wa'alaikumussalam WW
Alah dapek gala baru lo mbo, pado hal St. Parapatiah alah lakek 40 tahun
lamono.

>
>Mangenai "blue print" pembangunan Indonesia di era Orba sudah ada dan
bahkan
>telah berjalan.sangat baik seperti kita ketahui blue print pemerintahan
Orba
>itu adalah perencanaan pembangunan jangka panjang I yaitu 25 th.

Apa samakah GBHN dengan "blue print", sabok nan diateh tu iyo banamo GBHN,
dan kini disabuik urang "road map", tapi disiapkan dan dijalankan dek
pemerintah.

Iko manuruik pandapek mbo nan senteang mah yo:
GBHN adalah susuanan kana indah yang kadang menerawang seperti diawang-awang
sehingga artinya atau penetrapannya dapat digoyang menurut kesenangan
pemegang kuasa. Sehingga baganti mentri berganti kebijakan. Berganti
Mendikbud berganti kurikulum.

Kalau "blue print" adolah tujuan negara yang berupa undang-undang, yang
diurai ke sub-tujuan dan sub-sub-tujuan dst, yang berupa aturan
pelaksanaannya. Kata orang sono "what to do". Jadi disini adalah berupa
uraian yang harus dikerjakan. Bagaimana cara mengerjakannya (how to do) itu
adalah pilihan atau kreasi pemerintah. Dengan "blue print" itu setiap bagian
atau komponen bangsa harus berjalan kearah yang sama.

>yang dibagi dalam pembangunan lima tahunan yaitu yang disingkat Pelita I
sd.V, pada
>pelita V ini lah direncanakan Indonesia tinggal landas, di saat akan take
>off tiba badai angin topan krisis moneter yang didalangi oleh J. Shoros,
>dimana negara kita akan mencicil hutangnya, dolar melambung tinggi
>dikarenakan dolar di Asia Tenggara dan bahkan di Asia diborong oleh J.
>Shoros dan kemudian dijual dengan harga yang sangat tinggi sehingga negara
>kita bangkrut karena dari awalnya tahap pencairan hutang harga dolar
>berkisar Rp. 2.500,- dan pada waktu membayar cicilan hutang harga dollar
>meningkat menjadi Rp. 15.000,- bayangkan berapa besarnya hutang yang harus
>dibayar !
>

Inilah suatu kesalahan atau kegagalan Orba, yang mengejar pertumbuhan,
berjibaku. Mempercayakan ekonomi atau pemegang uang bangsa hanya ke
segelintir orang. 80% persen uang dikuasai 2.5% penduduk. Yang 2.5% itu
mayoritas ditangan 60 keluarga. Ditambah lagi, pembangunan dilaksanakan
dengan utang. Sudahlah utang diboroskan lagi. Hanya 30% yang menjadi
investasi nyata. Padahal harus dibayar 110% (105%). Saketek sajo digoyang
cingkunek, tajungkang jadinyo. ini yang menyebabkan kita bisa bangkrut.
Tetangga diutara kita bisa bertahan. (Ada istilah dari tetangga utara itu
dulu: Disini pemerintah mengajak rakyat menggali tanah untuk menanam sawit,
di Indonesia pemerintah Indonesia mengajak rakyatnya menggali Pancasila)????


>Sanak rang palanta mungkin masih ingat, disaat-saat Indonesia akan tinggal
>landas Suharto sudah mempunyai komitmen yang sangat tinggi terhadap Islam
>sehingga kabinet di waktu itu di kuasai oleh ICMI, dan Suharto berpaling
>dari Amerika. Hal inilah yang menyakitkan bagi negara kapitalis Amerika,
>serta sanak kita non Islam di tanah air.
>

Karena sudah tidak dapat dukungan dari gantungan awalnya, maka digunakanlah
taktik lain. Orang yang selama ini dimusuhi, dibilang fanatiklah, dibilang
takliklah. Sebelumnya si mayoritas dapat takut berbicara tentang
kemayoritasannya. Jilbab dilaranglah, orang mengaji dicurigailah dst. Sama
tahukan? Takaliciak dari tuan besarnyo, cari kaki didalam. Apakah ICMI lahir
karena kesadaran atau kebutuhan untuk melanggengkan kursi?

>Jadi skenario krismon di Indonesia dan Asia tenggara adalah dalam rangka
>melemahkan prekonomian bangsa-bangsa Asean terutama Indonesia. Mereka juga
>tidak ingin Indonesia hancur, karena kalau hancur tentu kehilangan pasar,
>bayangkan penduduk sebanyak 200 juta lebih, kalaulah masing-masing
>mengkonsumsi supermi satu bungkus/hari, bayangkan berapa ton tepung gandum
>mereka akan terjual untuk membuat mie ?, sekarang orang Indonesia sudah
>ketergantungan dengan mie. Ini juga adalah politis negara prodesen gandum,
>kalau gandum dijual di Indonesia tidak laku, karena orang Indonesia tidak
>makan gandum !.
>

Kalau lah kini bisa sadar, bisa ngak kita mulai dari kini berenti
mengkonsumsi produk negara teroris dan produk negeri pendukungnya. Cintailah
produk dalam negeri.

>Coba sanak bayangkan IPTN telah meproduksi pesawat kecil yang direncanakan
>dalam blue print pembangunan Indonesia jangka panjang tahap II (25
>th ke II)
>adalah memproduksi pesawat kecil CN 235 untuk transportasi dalam negeri
>yaitu transportasi antar pulau, karena Indonesia adalah negara kepulauan,
>semua kepala daerah akan diberi pesawat helikopter IPTN untuk transportasi
>bupati atau gubernur bagi propinsi kepulauan.
>
>Seandainya di waktu itu tidak terjadi krisis dan Suharto tidak lenser,
>kalupun dilenserkan seharusnya tidak membabi buta, tentu sudah ada pesawat
>CN 235 yang bermerek ANS, Bintang Kejora dan Gagak Hitam tambang Mentawai -
>Padang, Padang-Bukittinggi dan Payakumbuh, sehingga pelabuhan Gaduit dan
>Piobang akan menjadi bandara lokal, dapatkah sanak bayangkan ?

Kalau Suharto tidak lengser????????/ Mungkin akan lebih parah. Coba
bayangkan 60% gaji (PDB) harus untuk membayar hutang. Sedang rezeki petro
dollar telah punah. Tahukah sanak bahwa saat ini Indonesia harus keluar dari
Opec. Sebab kini negara anda telah jadi negara pengimpor minyak (import >
export).

Tolong tanya sama orang ekonomi dan akunting, dapatkah dengan modal 30% X,
dapat menghasilkan 110%X ditambah biaya produksi dan sedikit keuntungan?
Maksudnya pinjaman yang efektif 30%, kan harus dibayar 100% ditambah bunga
ditambah biaya produksi ditambah pajak ditambah sedikit untung. Sanggupkah
??????????????? kebijakan inilah yang bikin negara kita bangkrut. Jadi bukan
J. Soros saja yang merupakan kambing hitamnya pak Guru online. Sikambing
hitam itu cuma pen-triger bangkrut saja. Karean memang telah rapuh, digoyang
sedikit, hhhuuuuaaaaaaaannnnnnnnccccccccccuuuuuuuurrrrrrrrrrr
cccccccuuuuuuurrrrrrr. Kalau dari dulu kita sadar bahwa UKMlah yang tahan
goyangan krisis. Tidak akan sehancur ini negaraku ini.

Coba lihat kebijaksanaan Mahathir yang populer didalam negeri dan dikritik
diluar, karena deskriminasi. Disana si Melayu mempunyai hak khusus untuk
berusaha. Dengan alasan si Melayu berada dipihak lemah, jadi harus dibantu,
biar samasama dapt maju bersama. Nyatanya kini bagaimana, tahan walau
digoyang sanaknya pak guru si Soros.

>
>Disaat itu keluarga Suharto juga merencanakan bekerja sama dengan Korea
>didalam membuat mobil, inilah pangkal bala sebenarnya kecemasan negara
>industri seperti Jepang dllnya itu, mereka cemas kemana hasil produksi
>mereka akan dijual ? kalau Indonesia sudah membuat mobil, helikopter dan
>pesawat kecil, dan di dalam bule print pembangunan jangka panjang ke II
>(th.2010) Indonesia akan membuat pesawat jet, ini sudah
>dipersiapkan SDM nya
>sudah dibelajarkan keluar negeri, sekarang mereka yang sudah tamat tersebut
>sudah minggat keluar negeri !, Inikah yang dimaksud dengan reformasi
>tersebut ?. Pak Habibie ingin menyalamatkan pabrik pesawat PT. DI dengan
>syarat diberi saham pada perusahaan tersebut, hal ini tidak ditanggapi oleh
>pemerintah pasca Orba maka minggatlah ahli-ahli pesawat yang telah
>dipersiapkan itu keluar negeri ! Inilah hasil dari reformasi yang
>sebetulnya
>hanyalah fartomargana !.
>

Apa karena kita melihat dari sudut pandang berbeda. Atau karena kita
mempunyai pengalaman yang berbeda. Pak Guru berasal dari Kopri dan saya
berasal dari rakyat badarai. Pemberian hak khusus kepada putra mahkota itu
adalah penyimpangan kekuasaan yang telah nyata sekali. Masak Inpres
ditujukan kepada anak sendiri. Jadi karena sudah keterlaluan ya sudah banyak
yang tidak suka. Terutama yang berpikir, anak didik pak guru yang bernama
mahasiswa. Katanya fabrikasi dalam negeri tahnya diimport CBU dan saat
dibongkar dari kapal dikawal pakai senjata terhunus. Kapalku saat itu sampai
terganggu operasinya.

Soal mencari kerja keluar negeri bagi hasil didikan LN itu, kan karena pak
guru nggak suka yang berijazah LN kan?

>Apakah pemerintah sekarang bisa sadar ?
>Pendapat saya kita tidak perlu bongkar dan buang blue print yang
>dibuat oleh
>Orba karena blue print ini dibuat dan direncanakan oleh ahlinya yang
>semuanya itu adalah lulusan universitas Amerika, Perancis dan Jerman.
>

Disini bukan soal ahli, tapi yang berkeadilan nggak. Kalau 97.5% dikuasai
2.5% apa itu hasil pilihan ekonomi yang adil?

>Nah sekarang mana blue print pemerintahan sekarang, apakah masih ada Pelita
>? atau Tidak, kenapa tidak kita kaji ulang blue print Orba jangka panjang
>tahap II ini ? ataukah kita ingin Indonesia ini adalah negara konsumen atau
>pasar negara kapitalis atau industri ?, semuanya beli, dan tidak akan
>berpikir ingin membuat ?

Maukah ikut memikirkannya, jangan terlalu apatis. Apa lagi memandang dengan
mata curiga dan beranggapan negatif, ya susah sendiri jadinya. kita menilai
sesuatu, kan seperti yang pak guru ajarkan .........> out put. Tunggulah
sajamang, dan perhatikan, pemerintahan kini kan dapat dijewer.

Kalau zaman kakek eh pak Hartonya, akan disukabumikan para pengkritik.
Mengkaji kebenaran dikampus saja takut. Orang Islam jadi 'alim saja takut.
Terjadilah generasi yang penakut. Generasi yang tidak produktif, generasi
yang gamang. Kan pak guru bilang: "hasil pendidikan itu akan kelihatan
setelah 20 tahun", yah generasi sekaranglah hasil didikan kakek Harto
nantun. Menurut cerita Suharto periode satu dan dua masih baik dan tangguh.
Jadi 22 tahuyn adalah tidak baik. Jadi hasil didikan dibawah pemerintah
tidak baik itulah yang jadi pamacik kini .............. yah ginilah dia. Ini
adalah hasil didikan pak Guru yang melarang kegiatan kritis kampus jo
NKK-nya.

Yah kini bagaimana ..? ................ marilah kita melihat kedepan,
menatap cakrawala, .............. saling sailia samudiak ...........
basinerji kecek pak Guru. Lihatlah persamaan, bilang dan buatlah yang ada
kini adalah yang terbaik dan kita bersama mempoerhatikannya, sehingga dia
berjalan dengan baik. Jangan hanya menyannyung yang telah tidak ada. Apa
lagi yang lalu itu juga banyak kekurangannya.

Maju kedepan, walau melompat sekalipun, tidak mungkin tanpa pijakan. Jadi
yang lama itu pasti tetap dipakai, tapi ingat cara memakainya yang berbeda.
Karena berbeda jangan dibilang tidak dipakai. Setiap kelanjutan sesuatu,
pasti ada yang terpakai dan ada yang tidak terpakai. Karena yang dipandang
baik atau yang disanjung dan dipuji oleh kita tidak dipakai orang, lalu
dibilang orang itu salah. Pada hal mungkin mereka berlain tempat berpijak
dengan kita.

Jadi modalnya kini:

Berfikir positif
Ikut berjuang bersama
bersinerji
menghormati oendapat orang
berusaha
berdoa
dst.

Maaf jika yang panjang dipanjangkan lagi.


>
>Wassalam,
>Z. Rky. Mulie
>

Wass. WW
St.P


____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke