Waalaikumsalam.Wr.Wb.
Sanak Zul dan RN semoga dirahmati Allah.
Terimakasih atas diskusinya. Semoga bermanfaat buat
semua.
Pada hakikatnya saya dapat merasakan apa yang
dirasakan oleh family dan saudara kita di Indo. Akibat
BBM dan telpon, Gas serta lainnya itu semakin naik
saja. Belum lagi dampak atau bias dari peraturan dan
kebijakan yang diambil oleh pemerintahan saat megawati
( yang kalau saya prosentasi yang paling banyak
kenaikan apa saja ), Gusdur dan saat ini ( tapi belum
kelihatan amat, karena masih baru sekali ).
Di Kairo saja, kita pegawai setempat merasakan dampak
akibat pemerintahan baru ini. lembur berapa bulan
tidak dibayar, gaji 13 di bayarkan cuman 60 % dan
lain-lainnya itu.
Sebagaimana saya juga heran, kenapa taspen koq
sedikit amat, besar lagi harga lap top yang saya beli
kemaren seharga lebih kurang 22 atau 23 juta.
Sementara taspen yang akan saya terima nantik setelah
bertahun2 kerja sedikit itu..? Bisa beli apa dengan
duit segitu..? Tentu ngak bisa naik haji, atau bangun
rumah seperti ortu saya dari hasil taspen beliau bisa
bangun rumah.
Itulah nasib PNS. Masih bersyukur kita, bagaimana
dengan nasib dibawah itu, nasib rakyat jelata yang
ngak digaji perbulannya, tapi tergantung hasil panen
sawah atau kebun, dagangnya..?
Tapi apa yang saya katakan pada suami kala itu ( baru2
ini malah ), : " Sudah lah uda sayang..,..ngak usah
dipikirin duit itu, tokh..kalau mereka makan duit
negara dan hak pegawai, pasti kelak mereka akan
menanggung akibatnya, ngak didunia di akhirat, buat
apa kita puyeng pikirin itu, bisa stres, atau bisa
terbawa korupsi kalau kita ngak sabar-sabar.
Bagaimanapun, mungkin sudah begitu takdir dan masanya.
Dulu pegawai saat masa jaya dan banyak duit, kita
kecipratan juga, sekarang mungkin masa Indo lagi
pailit,.yah..mo diapakan lagi..?
Duit bukan segalanya, kerja aja seperti biasa, walau
lembur ngak dibayar berapa bulan, ikhlaskan saja kerja
itu, tapi jangan sampai pulang terlalu larut, ntar
sakit gimana ? ".
Yah..saya kira untuk PNS di Indo, kalau lelaki yang
PNS, bila istri tak ikut kerja bantu financial RT
juga, memang sulit rasanya untuk menyekolahkan anak
lebih tinggi, paling bisa untuk makan, namun untuk
sekolah PT yang biayanya semakin tinggi..?
Bila istri tak kerja, atau tak ada pemasukan tambahan
dari bisnis dagang atau apa kek namanya, yang jelas
tidak terfokus pada gaji perbulan tokh..saya kira
memang repot juga sih. Apalagi kalau tiap bentar naik
BBM..??
Akhirnya saya mikir-mikir, kalau kelak saya ngak mau
hidup tergantung dari gaji dipemerintahan saja, saya
akan buka usaha mandiri, disamping PNS saya ini tidak
saya lepaskan toh..karena saya kira seorang wanita
bagus juga sebagai guru/ dosen/ penulis.
Kalau cuman guru / dosen honorer,..sama aja, gajinya
dikit juga, kecuali banyak jam terbang, dan itupun
belum menyamai gaji dosen tetap dan ia suka terbang
pula, terutama bagi istri, saya kira kalau banyak jam
terbangnya kapan ngurusin anak-anak dan suami di
rumah..?, , karena saya tahu betul perbedaan gaji
honorer dengan gaji PNS yang tetap itu perbedaan yang
cukup signifikan !.
Saya berfikir akan cari jalan lain lagi, kelak
disamping tetap mengajar saya akan usaha bisnis lain
yang tak mengikat sekali, kumpulin modal dari hasil
suami sekarang, ditabungi dulu, biar kelak ada usaha
yang mandiri.
Saya ingin jadi istri yang tetap lincah dan besinergy,
energyk kata orang, dan tetap taat , baik , pada
suami, bisa bantu suami dalam hal apa saja. Membantu
financial beban berat suami, membantu menenangkannya
bila hadapi problema di kantor, ngak akan banyak
menuntut materil dari beliau. Saya harus merasa puas
dengan apa yang diberikannya pada saya, sekecil atau
sebesar apapun pemberian itu.
Inilah salah satu cara saya membantu negara dan
bangsa, sesuai dengan profesi saya sebagai ibu RT, dan
guru pendidik di masyarakat. Bukankah dikatakan "
Wanita itu tiang negara, bila baik wanitanya, maka
baiklah negara itu, bila buruk maka buruklah negara
itu ", saya sadar sekali fungsi dan kodrat saya
sebagai wanita itu macam apa.
Jadi kelak, kalau saya meskipun berdakwah tidak
mengharapkan amplop kayak kebanyakan orang, saya
maunya jadi ustadzah yang kaya segalanya ( kalau bisa,
kalau ngak ngak papa juga, paling ngak kaya ilmu
jadilah, walau tak kaya harta, maunya sih dua-duanya
), ngak mau dipandang orang lagi sebagaimana
kebanyakan orang memandang ustadz-ustadz hidupnya
miskin apalagi sampai melarat.
Jadi , gaji sudah ada, bisnis juga jalan, ngajarnya
bisa ikhlas, dan benar-benar membantu rakyat yang tak
mampu dengan ilmu yang dimiliki. Dengan ilmu kita dan
profesi kita masing-masing kita bisa bantu masyarakat
secara otomatis negara pun terbantu juga.
Ngak usah lagi kita puyeng-puyeng mikirin pemerintah,
sulit sekali rasanya merubah sampai 10-20 thn kedepan,
atau tak berubah sama sekali, malah semakin parah
penyakitnya..?
Serahkan sajalah pada Allah, toh Allah yang akan
membalasi semua pekerjaan manusia seberat apapun
pekerjaannya itu. Yang penting lagi kita ngak
ikut-ikutan korupsi ajalah. Kalau bisa kita ingatkan,
dan diterima alhamdulillah, kalau tak diterima itu
urusan Allah lagi pasti Allah akan membalasinya,
karena setiap kita akan mempertanggung jawabkan apa
yang kita lakukan.
Saya sering katakan pada suami: " Hadapi aja hidup ini
dengan tenang dan apa adanya, duit bukan segalanya
kebahagiaan itu bukan terletak diduit tapi ada di
dalam hati. Hati yang tenang dan Qana'ah ( puas dengan
apa yang ada ), itulah kebahagiaan yang hakiki ".
Biarkan saja mereka makan harta yang tak halal, atau
syubhat, yang penting tugas kita mengingatkan sudah
selesai.
Kita cari aja jalan lain untuk kemajuan diri dan
keluarga serta saudara-saudara kita. Ngak usah kita
terlalu banyak mengharap dari pemerintah itu.
lakukanlah apa yang dapat kita lakukan saat ini,
jangan tunggu sampai besok hari ! Berbuih atau
berbusapun mulut kita, kalau mereka ngak sadar, tetap
akan ngak sadar juga, mungkin karena dikasih obat bius
, atau suntik penenang kali ( hehehe..).
Intinya saya juga dapat merasakan apa yang sanak Zul ,
sanak Hasbi sanak Udrekh di jepang tentunya, dan sanak
di Indo lainnya rasakan, akibat atau bias dari
kenaikan harga segala macam di Indo itu, atau
kebijakan mereka yang tak sesuai dengan janji mereka
dan keinginan kita sebagai rakyat biasa.
Tapi mari kita hadapi semua cobaan dan kondisi ini
dengan sabar dan tenang, mari kita tetap bekerja.
Allah akan membalasi pekerjaan ikhlas kita , ngak
didunia diakhirat sana kelak. Saya yakin dan percaya
janji Allah itu.
Wassalam. Rahima.
--- Zulfikri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Assalamualaikum, ww.
> Okey lah sanak Rahima, saya juga setuju dengan saran
> sanak, terima kasih !
> Marilah kita bersinerji untuk membangun bangsa ini
> sesuai dengan bidang dan
> professi kita. Himbauan kita kepada penentu atau
> pelaksana pemerintahan dan
> pembuat kebijakan, bersinerjilah, demi tercapainya
> Indonesia adil dan
> makmur, baldatun thoibatun wa rabbun ghafur.
> Wassalam,
> Z. Rky. Mulie.
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - 250MB free storage. Do more. Manage less.
http://info.mail.yahoo.com/mail_250
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________