dutamardin umar wrote:

Sebagai tambahan bahaso kami di AS berusaha mencari persamaan
dalam agamo-agamo keturunan Nabi Ibrahim AS. Dengan persamaan
tentu diharapkan terbinanya saling pengertian nan berujung kepada
saling menghormati.

Nah, justru ini yang saya bingung, Mak. Bukankah dalam Islam telah ada contoh 'kode etik' muamalah dengan penganut agama lain sebagaimana dalam al-Qur'an dan perbuatan Rasulullah shallallahu 'alaihi. Kode etik tersebut yang diterapkan oleh khulafaur rasyidin sepeninggal Rasulullah. Mengapa perlu dirumuskan lagi apalagi dengan melibatkan orang-orang kafir? Bukankah aturan Allah dan Rasul-Nya lebih pantas bagi umat Islam?


Di Madinah, Rasulullah selalu bersikap adil pada kaum Yahudi. Justru merekalah yang melanggar perjanjian dan bekerja sama dengan golongan yang memerangi Islam. Barulah Rasulullah memerangi mereka.

Kita juga dituntut untuk bersikap adil serta hanya memerangi orang-orang yang memerangi kita. Itu pun dengan adab perang yang telah diatur seperti larangan membunuh anak-anak dan perempuan (kecuali yang ikut perang) atau menebangi pohon (CMIIW). Tidak seperti orang-orang kafir yang telah meninggalkan aturan Allah. Tinggal usaha kita untuk kembali kepada yang telah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Namun tidak diketahui beliau ikut serta dalam hari raya orang-orang kafir atau menghidupkan hari-hari besar adat.

Dari Anas Radhiallahu 'anhu ia berkata : "Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam datang ke Madinah sedang penduduknya memiliki dua hari raya dimana mereka bersenang-senang di dalamnya di masa jahiliyah[1]. Maka beliau bersabda (yang artinya) : “Aku datang pada kalian sedang kalian memiliki dua hari yang kalian besenang-senang di dalamnya pada masa jahiliyah. Sungguh Allah telah menggantikan untuk kalian yang lebih baik dari dua hari itu yaitu : hari Raya Kurban dan hari Idul Fithri". (Hadits Shahih, dikeluarkan oleh Ahmad (3/103,178,235), Abu Daud (1134), An-Nasa'i (3/179) dan Al-Baghawi (1098).

Yang ada adalah beliau menetapkan kembali suatu hukum dari syari'at sebelumnya yang tetap berlaku bagi kita, misalnya puasa Asyura.

Saat Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam hijrah ke Madinah beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari itu, lalu beliau bertanya kepada mereka, "Kenapa kalian berpuasa?" Mereka menjawab, "Sesungguhnya pada hari ini Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menyelamatkan Musa dan kaumnya dan membinasakan Fir'aun beserta kaumnya dan Musa berpuasa pada harinya maka kamipun berpuasa." Kemudian beliau Shalallahu 'alaihi wassalam berkata, "Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian." (HR Al Bukhori no: 2004, 3942, 3943, Muslim no: 1130, 1131).

Allahu a'lam.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

--
Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)

____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke