udrekh writes:

Mungkin kita tidak bisa memenggal 2 paragraf dari penjelasan pak Safii ini.

Itulah mengapa saya menggunakan ungkapan 'berisiko menebar kebencian' karena belum tentu itu yang diinginkan. Ungkapan 'pakaian yang khas' rasanya kurang jelas dan terbuka untuk misinterpretasi. Saya khawatir jika ungkapan yang agak umum tersebut digunakan sebagai 'senjata' untuk menuduh individu atau kelompok tertentu. Saya khawatir justru muncul ide bahwa kalo ada yang penampilannya beda wah ini nih yang dimaksud beliau (walaupun bukan itu yang dimaksudkan). Mungkin kekhawatiran saya seperti kekhawatiran Mak Darul akan penggunaan label syari'ah.


Terus terang saja, saya memang tidak terlepas dari penilaian pribadi pada
saat saya membaca e-mail-e-mail dik Ridha selama ini. Asumsi pribadi saya
adalah dik Ridha "terlihat" bercirikan kelompok Salafy. Wallahu a'lam, dan
kalau salah mohon dima'afkan dan kalau benar, saya juga salah satu yang
respek dengan sikap hati-hati kelompok ini. Mohon ma'af kalau telah menilai, karena ini kan otomatis muncul dikepala.

Baiknya saya perjelas saja, saya berharap saya termasuk dalam ahlus sunnah wal jama'ah, as-salafiyyun. Tentunya bukan nama organisasi namun manhaj (jalan/metode) salafush shalih. Namun tentunya pengakuan tidak berarti tanpa bukti. Saya masih perlu banyak belajar dan menyelaraskan amal dengan ilmu.


Ya.. , saya juga prihatin dengan orang yang mengaku beragama, tapi suka
menginjak-injak nilai luhur agama. Kemudian, mari kita perhatikan penjelasan beliau mengenai "Kita tidak boleh menghukum...". Saya fikir ini
sifat yang baik. Di kalimat selanjutnya juga saya anggak cukup sopan karena beliau mempergunakan kata "keberatan".

Tentu saya tidak setuju dengan sikap 'menginjak-injak nilai luhur agama'. Namun saya keberatan ketika dibawa pada pemahaman pluralis yang mengaburkan makna kebenaran. Bahwa perbedaan bahkan perpecahan adalah sunatullah (sebagaimana disampaikan Rasulullah) tidak menjadikan semua perbedaan itu benar. Padahal telah jelas jalan yang haq hanya jalan yang dititi oleh Rasulullah dan para shahabat beliau.


Saya pribadi termasuk orang yang sempat membaca beberapa keutamaan mengenai jenggot maupun gamis. Tapi saya tidak merasa ungkapan beliau ini menyindir saya. Wallahu a'alam.

Mungkin saya saja yang 'sensi' dan terlalu khawatir. Semoga Allah mengampuni kesalahan saya dan memberikan pemahaman yang sebaik-baiknya bagi kita semua. Segala kebaikan datang dari Allah sedangkan kesalahan datang dari saya dan syaithan.


Allahu a'lam wa billahit taufiq.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim
(l. 1980 M/1400 H)



____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke