udrekh writes:
Keunggulan manhaj salafy ini adalah pada kehati-hatiannya. Mereka berusaha sekali untuk mengikuti Jejak salafus shaleh. Biasanya teman-teman yang ikut manhaj ini sangat kuat referensinya dan selalu mengacu kepada ulama Shalaf.
Hal yang mungkin buat saya nggak terlalu sreg adalah hal yang terkait dengan Bid'ah dan pengkafiran. Sehingga kelompok-kelompok yang lain bisa kena jewer. Tetapi saya juga sadar, meeka punya cukup banyak referensi dan sangat kuat.
Seperti Bapak sebutkan bahwa salafy adalah suatu manhaj atau metode. Berbeda dengan berbagai hizb atau organisasi yang menjadikan aturan kelompok mereka sebagai patokan kebenaran. Orang yang mengklaim salafy namun tidak mengikuti manhaj salafush shalih tentunya tidak teranggap. Bahkan jika seorang 'tokoh salafy' menyimpang dari manhaj itu bahkan tetap dalam penyimpangannya setelah nasihat dan hujjah ditegakkan atas dirinya maka ia akan ditinggalkan. Tidaklah seseorang diikuti sepenuhnya kecuali Rasulullah.
Berkenaan pembid'ahan atau pengkafiran setahu saya tidaklah dapat dilakukan kecuali dengan dalil dan pemahaman yang shahih. Dalam rangka amar ma'ruf nahi munkar, yang haq harus dikatakan haq dan yang bathil harus dikatakan bathil agar tidak tersamar keduanya. Tentunya dengan cara yang ma'ruf sesuai Sunnah. Tidak boleh bid'ah dibantah dengan bid'ah (misalnya meluruskan penguasa dengan cara menjelek-jelekkan penguasa di depan umum).
Untuk detailnya Bapak dapat melihat buku berikut:
Manhaj Ahli Sunnah Menghadapi Ahli Bid'ah, Dr Ibrahim Ar-Ruhaili
Sebuah artikel tentang metode dakwah salafiyah:
http://salafy.or.id/print.php?id_artikel=432
Saya sendiri, karena memang sangat buta akan agama, sepertinya lebih bersikap mau belajar dan mendengar ketimbang menyalahkan. Ingiiin sekali rasanya bisa melihat kekuatan Islam, sekalipun terpecah dalam berbagai kelompok dan aliran, tapi bisa sejalan dan saling menghormati. Terkadang saya lihat, kita bisa lebih toleran terhadap orang atheis, atau ahli kitab ketimbang dengan sesama muslim, tapi beda kelompok. Hal yang sering membuat orang bodoh seperti saya jadi bingung sendiri.
Mungkin perlu kita ingat bagaimana Rasulullah dan para shahabat beliau menyikapi kaum khawarij. Kaum ini dikenal taat beribadah namun pemahaman mereka menyimpang di antara menentang penguasa dan mengkafirkan pelaku dosa besar.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
âMaka jika kalian mendapati mereka (Khawarij-pen), perangilah mereka! Karena sesunggguhnya orang-orang yang memerangi mereka akan mendapat pahala di sisi Allah pada hari kiamat.â (Shahih, HR. Muslim dalam Shahih-nya, 2/747, dari shahabat âAli bin Abu Thalib radhiallanu 'anhu).
Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:
âJika aku mendapati mereka (Khawarij), benar-benar aku akan perangi seperti memerangi kaum âAad.â (Shahih, HR. Muslim dalam Shahih-nya, 2/742, dari shahabat Abu Saâid Al-Khudri radhiallahu 'anhu)
Mengapa sedemikian kerasnya? Berikut penjelasan ulama.
Al-Imam Ibnu Hubairah berkata: âMemerangi Khawarij lebih utama dari memerangi orang-orang musyrikin. Hikmahnya, memerangi mereka merupakan penjagaan terhadap âmodalâ Islam (kemurnian Islam -pen), sedangkan memerangi orang-orang musyrikin merupakan âpencarian labaâ, dan penjagaan modal tentu lebih utama.â (Fathul Bari, 12/315)
Riwayat dan penjelasan di atas saya ambil dari:
http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=138
Perhatikan bahwa pemahaman khawarij ini masih hidup dan berkembang. Hal ini terlihat dengan mudahnya kelompok tertentu menghalalkan pemberontakan atau pengrusakan bahkan menumpahkan darah umat Islam. Lihatlah pemboman di negeri ini bahkan ada yang berani memasang bom di tanah haram.
Di sini bukan berarti meninggalkan perlawanan menghadapi musuh-musuh eksternal Islam namun betapa berbahaya keberadaan ancaman dari dalam. Ingatlah peristiwa pengkhianatan seorang menteri rafidhah yang memihak pasukan Tartar mengakibatkan hancurnya kota dan tumpahnya darah umat Islam. Atau ingatlah penderitaan Imam Ahmad ibn Hanbal rahimahullah akibat paham mu'tazilah yang dipaksakan. Atau contoh modern, carut marutnya Afghanistan padahal sebelumnya berbagai faksi sama-sama mengusir Uni Soviet.
Perlu diperhatikan bahwa kekuatan tidak akan diperoleh dengan mempertahankan perpecahan. Bagaimana mungkin perbedaan dalam aqidah dibiarkan? Bagaimana mungkin manhaj yang haq digabungkan dengan manhaj selainnya? Toleransi dan udzur ada tempatnya namun bukan dalam hal yang telah jelas dalilnya.
Kemaren ini saya memperoleh teguran dari seorang sahabat yang berusaha mengingatkan agar saya berhati-hati dalam berpendapat dan berusaha mengikuti ajaran Islam yang benar. Nah, yang saya suka bingung, semua kelompok toh merasa mengikuti Islam yang benar, atau bilang bahwa ajarannya yang benar.
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. an-Nisaa' 4:59)
"Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS. an-Nisaa' 4:115)
Kedua ayat di atas insya Allah dapat menjadi panduan dalam memilah klaim suatu kelompok. Jangan sampai kebingungan kita menjadikan kita mencampuradukkan kebenaran seperti orang-orang yang menganggap semua agama adalah sama. Padahal tidak mungkin ada kebenaran dalam agama selain Islam yang tidak ada dalam satu-satunya agama yang diridhai Allah. Kepada Allah-lah kita memohon perlindungan.
Akhirnya, saya hanya berusaha mengumpul-ngumpulkan informasi tersebut, mencernanya, dan menyerahkan kepada Allah. Semoga tidak tersesat dalam pencaharian mencari kebenaran.
Amin. Semoga Allah memudahkan kita dalam menemukan al-haq dan menjadikan kita kokoh di atasnya. Laa hawla wa laa quwwata illa billah.
Allahu a'lam.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,
Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim (l. 1980 M/1400 H)
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

