Assalamu'alikum wr wb.,

Beberapa waktu yang lalu pernah diangkat dalam palanta ini mengenai KA di 
Sumbar ditutup karena kehilangan penghasilannya. Berikut berita mengenai 
kreatifitas yang dilakukan oleh PT KAI diluar kebiasaannya. Melihat contoh ini, 
mudah-mudahan ada investor yang akan melirik potensi kereta api dikaitkan 
dengan wisata, pertokoan, atau hotel, dan berniat untuk menghidupkan kembali KA 
di Sumbar.

Wassalam,
R Sampono Sutan (55+)


Stasiun Kota segera disulap menjadi mall

Kreativitas biasanya muncul dalam kondisi terdesak. Itu juga yang terjadi pada 
PT Kereta Api Indonesia (KAI). Kita tahu, sejak tarif angkutan udara "diobral", 
semua bisnis transportasi amburadul dibuatnya. Ditambah dengan aksi calo tiket 
yang entah mengapa tak kunjung bisa ditumpas, kondisi keuangan pt kai pun kian 
terpuruk. Untunglah direksi PT KAI segera ingat bahwa mereka masih mempunyai 
"harta pusaka" yang berharga. Yang dimaksud dengan harta pusaka tak lain adalah 
status perseroan terbatas (PT) yang disandangnya sejak 1999. Jika saat masih 
berstatus perusahaan jawatan (perjan) seluruh biaya operasional KAI bergantung 
pada APBN, dengan status baru itu KAI bebas mengeksploitasi seluruh asetnya. 

Sejak menyandang status PT, KAI yang memiliki 30 ribu karyawan kemudian 
membentuk Direktorat Pengembangan Usaha yang lantas membangun Divisi Properti 
dan Periklanan. Divisi ini lalu menginventarisasi aset-aset PT KAI yang 
kira-kira laku dijual. Akhirnya terpilihlah Stasiun Bandung, Kota (di Jakarta), 
dan Semarang. Namun, sejauh ini, agaknya baru Stasiun Kota yang telah dilirik 
orang. 

Peminat stasiun itu adalah PT Sari Bumi Eramaju. Di stasiun itu PT Sari Bumi 
akan mendirikan pusat perbelanjaan setinggi lima lantai. Konsep mal di atas 
stasiun kereta api ini menjiplak Jepang dan Korea Selatan. Di kedua negara ras 
kuning itu, stasiun sepur juga berfungsi sebagai tempat berbelanja dan tempat 
untuk membeli makanan sebelum berangkat kerja atau pulang ke rumah. Namun, 
sebagai cagar budaya, Stasiun Kota tak bakal berubah bentuk aslinya. "Bangunan 
tersebut akan dibangun di atas rel dan kawat kereta api," kata Kepala Humas PT 
KAI Daerah Operasi I Jakarta Kota Akhmad Sujadi. Kalau tak ada aral melintang, 
realisasi pembangunannya akan dimulai bulan Oktober 2004.


Total jenderal, pusat perbelanjaan itu memiliki luas 69.386 meter persegi 
dengan fasilitas parkirnya mencapai 33.370 meter persegi (mampu menampung 2.500 
kendaraan). Adapun dana yang disiapkan untuk proyek ini mencapai Rp 250 miliar. 
"Semua dana berasal dari kami untuk masa 30 tahun," kata Direktur Utama PT Sari 
Bumi F. Djunaedi. Duet PT KAI dan PT Sari Bumi memilih kerja sama operasi 
sebagai pola kerja samanya. Singkat kata, selama tiga dasawarsa PT Sari Bumi 
berhak atas hasil sewa kios-kios perbelanjaan. Sementara itu PT KAI kebagian 
jatah untuk biaya pemeliharaan, parkir, dan iklan.


____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke