Kami tiba kembali di Bukittinggi belum terlalu petang
sehingga sempat mengunjungi toko sovenir di dekat Jam
Gadang. Saya lebih banyak berada di luar saja karena
sering kurang sabar melihat Kur yang sangat fasih
berbahasa Minang itu---berkat pernah tinggal dengan
mertuanya---kegigihannya dalam menawar lebih-lebih
dari pepermpuan Minang sendiri.

Karena Kur dan anak-anak ingin ganti selera, malam itu
kami makan martabak mesir di sebuah warung tenda.
Sebenarnya saya ingin mengajak mereka makan Sate Mak
Anjang khas Bukittinggi yang kuahnya bercampur dadih,
yang saya ketahui berkat informasi dari Bung Heri
Latief, penyair berdarah Minang yang bermukim di
Negeri Belanda. Tetapi mengingat asupan kolesterol
saya selama dua hari ini sudah melampaui batas saya
urungkan saja.

Itu adalah malam terkahir kami di Bukittinggi.
Besoknya kami akan ke Padang, dan setelah menginap
semalam, keesokan siangnya kami akan kembali ke
Jakarta. 

Esokan harinyasehabis sarapan pagi, Kur dan anak-anak
kembali ke Pasar atas untuk melengkapi oleh-oleh yang
sudah dibeli sedangkan saya memilih beristirahat di
kamar hotel saja. Kami berangkat ke Padang jam 11
siang, dengan mampir dulu ke Panorama di pinggir
Ngarai Sianok, ke rumah kelahiran Proklamator dan
Wapres Pertama RI Bung Hatta. Setelah itu singgah di
gerai Kerupuk Sanjai Nita yang langsung dimasak di
sana---usaha yang saya lihat berkembang dengan sangat
pesat dalam dua tahun terakhir ini---untuk membeli
kerupuk sanjai khas Bukittinggi  dan beberapa jenis
makanan kecil lainnya untuk oleh-oleh. Kemudian kami
meneruskan perjalanan, berhenti di Restoran Pak Datuk
di Padangpanjang yang setiap di sana saya biasanya
�bingung� memilih ikan karena semuanya terlihat enak.
Kembali saya melihat anak-anak makan dengan lahap.
Selesai makan kami meneruskan perjalanan dan tidak
lama kemudian kami memasuki, Lembah Anai cagar alam
yang sangat asri dan terawat yang mungkin tidak ada
duanya di Indonesia. Tadinya saya ingin berhenti di
Air Mancur (air terjun) untuk berfoto, tetapi
anak-anak yang saya lihat mulai mengantuk karena
kekenyangan ogah turun. Akhirnya Air Mancur hanya kami
liwati saja.

Sebelum chek-in di Hotel Bumi Minang saya minta Inof
untuk lewat jembatan Siti Nurbaya. Tetap jalan kesana
ditutup karena hari itu bertepatan dengan pembukaan
Pekan Kebudayaan Minangkabau yang lokasinya tidak jauh
dari sana dan kemudian terlibat macet dan baru tiba di
Hotel dan berpisah dengan Inof jam 5 petang.

Saya kembali hanya mengambil satu kamar plus extra bed
dengan tarif yang sedikit lebih rendah dari Novotel.
Karena hotel penuh, saya tidak bisa memperoleh kamar
favorit saya di lantai enam yang jendelanya besar dan
menghadap ke laut, tetapi di lantai lima dengan
jemdela kecil tetapi tetap menghadap ke laut. Hotel
yang berarsitektur rumah bagonjong ini terletak di
bagian kota lama dan di sekelilingnya terdapat
beberapa Gereja yang sudah ada sejak zaman Belanda.
Kalau tidak ada bangunan bergonjong lainnya di luar,
kita rasanya tidak berada di ranah Minang yang
masyarakatnya terkenal sangat Islamistis. Apalagi
alih-alih suara azan yang terdengar jelas adalah suara
dentangan loceng gereja. Ciri lain, kalau Anda
menghubungi resepsionis atau unit pelayanan hotel
lainnya, Anda akan disapa dengan Assalamualaikum, dan
satu-satunya kitab suci yang ada di Hotel hanyalah Al
Qur�an.

Ketika membongkar koper dari mobil saya baru sadar
bahwa koper kami sudah beranak pinak. Kur yang
biasanya berfikir praktis, begitu sampai di kamar
meminta bantuan pertugas hotel untuk mencari kardus
untuk mengepak berbagai barang-barang bawaan. 

Malam itu saya mengajak Kur dan anak-anak untuk makan
di Restoran Pagi-Sore yang terkenal itu yang berjarak
sekitar 500 meter dari Hotel sehingga dapat ditempuh
dengan berjalan kaki, yang ketika itu kami lakukan
dengan berpayung karena gerimis. Eh, rupanya sudah
tutup, akahirnya saya ajak makan Soto (Padang)
langganan saya di Pojok Karya yang hanya berjarak
sekitar 200 meter dari hotel.  

Malam itu saya mengubungi petugas Hotel minta hantaran
mobil ke Bandara keesokan harinya.

Esok paginya Kur minta saya sarapan di Hotel saja
sekalipun harus bayar. Kami akan ke Bandara jam 11
jadi masih cukup waktu untuk melihat-lihat Kota Padang
dengan taksi. Tetapi Kur dan anak-anak lebih memilih
tinggal di kamar hotel saja, karena Padang, yang
hampir tidak banyak berbeda dengan kota-kota provinsi
lainnya di Indonesia memang terlihat tidak seramah
Bukittinggi yang indah dan asri.

Sekitar jam 2 siang pesawat Garuda GA 163 yang kami
tumpangi dari Padang mendarat dengan mulus di Bandara
Soekarno-Hatta, dan 3 jam kemudian, kami tiba dengan
selamat tidak kurang suatu apa di rumah kami di Depok.

Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT karena sudah
dapat memenuhi hutang saya kepada anak-anak saya untuk
membawa mereka mengunjungi kampung halaman papanya,
dan mereka seperti halnya mama mereka,  terlihat
sangat menikmati perjalanan tersebut sekalipun singkat
tetapi cukup padat.     

Selesai.

Wassalam, Darwin


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke