Dari SUARA PEMBARUAN DAILY 28 Desember 2004 kita baca:
----------
"Tiada Lagi yang Tersisa Selain Duka..."
AWAN gelap menyelimuti langit Nias dan Nanggroe Aceh Darussalam, Senin (27/12) kemarin. Wajah-wajah yang diliputi harap-harap cemas, bercampur ketakutan, kengerian, kepedihan, kesedihan, mudah dijumpai di wilayah Kecamatan Afulu, Sirombu, Lahewa, Mandrehe, Kabupaten Nias, juga di kawasan Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, serta di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
Jerit tangis terdengar di mana-mana begitu mendapati kepastian dari penantian yang panjang, bahwa orang yang mereka sayangi menjadi korban gelombang pasang yang lebih dikenal dengan nama Tsunami. Hanya menangis yang dapat dilakukan untuk melampiaskan gumpalan perasaan pascagempa dan Tsunami warga di wilayah itu.
"Semangat hidup mereka telah hilang, meski mereka sendiri luput dari hantaman badai tsunami. Orangtua, anak, kakak, adik, maupun sanak famili lainnya, berpulang menghadap-Nya. Ini merupakan cobaan terberat yang mereka alami," ujar staf Posko Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi, Hermit Hia, Senin kemarin.
Tak seorang pun mampu meramal terjadinya gempa bumi dan tsunami. Masyarakat di Kabupaten Nias maupun Serdang Bedagai beranggapan, kejadian itu merupakan cobaan yang terpahit sepanjang perjalanan hidup mereka. Para nelayan hilang dan ditemukan setelah tewas.
Semangat hidup serasa tidak bersisa. Air mata pun terasa kering. Jerit tangis menyisakan desahan parau.
Para korban bencana alam hanya dapat tercenung dan termenung meratapi kepedihan. Mungkinkah dapat melalui hidup ini tanpa orang-orang tercinta?
"Apa yang mau dikata? Semua keluarga dari orang yang dicintai telah hilang menghadap Yang Maha Esa. Padahal, baru saja kami bersama melewati Perayaan Natal. Singkat sekali perjalanan hidup mereka, harus pergi untuk selama-lamanya menghadapNya," ujar Lorenz Gulo (24).
Sanak keluarga Lorenz, yakni Secia Gulo, Mesi Gulo, Babearo Gulo, Inaceria Gulo, tewas diterjang tsunami Minggu yang lalu. Lorenz terpaksa diungsikan ke Sibolga. Ia kini tinggal bersama sanak famili, keluarga dekat ibunya, Rebecca Gulo.
Lorenz hingga kini tidak mengetahui keberadaan ibunya. Yang bisa ia lakukan hingga kini hanya berharap dapat melihat orang yang dicintainya itu. "Saya belum mendapatkan kabar dari keluarga di Sirombu tentang ibu. Saya berharap ia selamat dari bahaya maut. Sulit bila melupakan kejadian itu. Semuanya hilang disapu gelombang pasang air laut," ia mengenang.
Julianus Hia (23), warga Mandrehe, hingga saat ini juga belum mendapatkan kepastian kabar dari keluarganya, yang ia khawatirkan turut terenggut tsunami. Kecamatan Mandrehe termasuk salah satu kawasan dengan jumlah korban tewas yang banyak.
"Saya belum mendapatkan laporan tentang nasib keluarga. Yang pasti, saya sudah mendapatkan kabar buruk, seorang anak kecil bernama Syukur Hia telah tiada. Kebetulan nama adik saya juga Syukur Hia. Famili lainnya juga dilaporkan tewas mengenaskan," ujarnya, menahan kepedihan.
Saat kejadian, Julianus berada di luar Mandrehe. Ia meninggalkan Mandrehe sehari sebelum musibah datang. Kini ia di Sibolga. Meskipun bersyukur karena saat peristiwa itu terjadi ia tidak berada di tempat, toh hal itu tidak mampu menghapus kekhawatiran, kecemasan, dan kepedihan mengenai nasib Syukur Hia.
"Banyak anak yang mempunyai nama sama dengan adik saya. Kabar dari orangtua, sampai saat ini belum ada. Kawasan tempat tinggal kami saat ini belum dapat dilalui angkutan. Oleh karena itu saya diminta keluarga di Sibolga untuk tidak ke sana. Kami sedang menunggu kabar dari keluarga bapak di Nias," ia menambahkan.
Harta Benda Musnah
Lorenz dan Julianus hanya dua di antara ribuan orang yang berduka. Kalaupun ada keinginan saat ini, yang terucap dari hati dan pikiran mereka hanyalah kerinduan berkumpul bersama keluarga. Mereka hanya mampu berdoa, mengharapkan keluarganya masih hidup. Mereka tak lagi menghiraukan harta benda.
"Semua harta benda musnah disapu gelombang badai air laut. Kejadiannya begitu singkat. Ombak dengan begitu besar hingga berketinggian sekitar 3 meter langsung menenggelamkan permukiman penduduk. Tidak ada yang tersisa, selain berduka," ujar Hermit Hia saat dihubungi melalui telepon genggam.
Saat ini, berbagai kalangan di Kabupaten Nias terlibat upaya pencarian korban yang dinyatakan hilang. Upaya itu melibatkan anggota Kodim 0213, Polres Nias, Palang Merah Indonesia, lembaga swadaya masyarakat, pencinta alam, maupun organisasi lainnya. "Daerah yang paling banyak menelan korban jiwa di Kecamatan Sarombu dan Kecamatan Mandrehe. Kedua kecamatan itu persisnya berada di bagian utara dan barat. Di dua lokasi itu petugas evakuasi bersama tim SAR (pencarian dan penyelamatan, Red) membagi tugas. Masih banyak lagi warga yang dilaporkan hilang," ia menambahkan.
Ia mengakui, bantuan obat-obatan, mi instan, selimut dari pemerintahan kabupaten setempat, sebagian sudah dibagikan, khusus bagi pengungsi. Bantuan yang disalurkan masih sebatas memenuhi kebutuhan pokok untuk dikonsumsi warga sehari-hari di tempat pengungsian. "Uluran tangan dari dermawan sangat diharapkan. Masyarakat pengungsi membutuhkan hal itu. Kita berharap, setelah musibah ini tidak ada lagi bencana lain yang datang. Mereka yang mengungsi pun diharapkan tidak terserang penyakit selama berada dalam penampungan," ujarnya.
Posko-posko didirikan di beberapa daerah yang terkena bencana di Nias. Selain untuk menampung bantuan, juga sengaja dibuat untuk memperoleh perkembangan terbaru atas musibah bencana alam tersebut. Beberapa posko antara lain didirikan oleh petugas kantor pos, untuk menunjang menyampaikan informasi dari satu daerah ke daerah lain di Sumatera Utara.
PEMBARUAN/ARNOLD H SIANTURI
No virus found in this outgoing message. Checked by AVG Anti-Virus. Version: 7.0.296 / Virus Database: 265.6.5 - Release Date: 12/26/2004
____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

