�Perseteruan� antara Teuku Jacob dengan dengan ilmuwan
Australia perihal temuan �Homo Floresiensis� menjadi
�bola liar� evolution vs creation, karena informasi
yang setengah-setengah. Malah menurut Radityo
Djadjoeri di Milis �Apa Kabar�, �ilmuwan� Turki Harun
Yahya sempat 'loncat-loncat kegirangan' atas
�perseteruan� tersebut, dan langsung mengutak-atik
kata, menyusun beberapa tulisan yang dirangkumnya dari
berbagai sumber relevan, dan langsung
dipublikasikannya. Titik arahnya sama: 'say no for
evolution, say yes for creation'. Padahal---masih
menurut menurut bung Radityo---rencananya, Teuku Jacob
baru akan menyanggah temuan H. floresiensis sekira
awal tahun depan.
Kemarin saya menemukan tulisan Teuku Jacob mengenai
�Homo Floresiensis� berikut ini di Hr Republika
Wassalam, Bandaro Kayo
Yang percaya bahwa alam semesta berikut
hukum-hukumnya, termasuk proses penciptaan terhadap
manusia---apakah itu itu mengikuti teori evolusi atau
bukan---adalah ciptaan Sang Kaliq (the Creator) yang
Maha Kuasa dan Maha Cerdas, karena penemuan ilmiah
tidak akan pernah bertentangan dengan kandungan Al
Qur�an . Yang pasti saya bukan pengagum Harun Yahya.
Gara-Gara Rangka Liang Bua
Teuku Jacob
Profesor Emeritus Paleoantropologi UGM
Republika, Selasa, 28 Desember 2004
Dalam bulan Oktober 2003, Prof RP Soejono datang ke
Yogyakarta dan memperlihatkan pada saya foto tengkorak
kecil dari penggaliannya di Liang Bua, Flores Barat,
bersama dengan tim dari New South Wales, Australia.
Dari foto yang diambil dalam posisi rambang dan belum
bersih dari tanah yang meliputinya, saya mendapat
kesan tengkorak itu amat kecil dan menyerupai kera.
Soejono meminta kami di UGM menelitinya, sedangkan Dr
MJ Morwood, chief investigator dari pihak Australia,
menginginkan orang Australia yang mempelajarinya.
Pak Soejono khawatir kalau dibawa ke Australia, dan
saya, meskipun tidak begitu tertarik melakukan
sendiri, ingin agar ahli-ahli Indonesia yang relatif
muda, yang dengan susah-payah direkrut, tidak cuma
menggigit jari melihat temuan dari negerinya tidak
dapat disentuhnya, sehingga animo untuk masuk ke
bidang paleoantropologi teredam dengan tidak sengaja.
Tidak ada kabar lagi sampai Juli 2004, ketika Prof
Soejono minta agar temuan itu segera dibawa ke
Yogyakarta, supaya aman dan wartawan-wartawan luar
negeri tidak terus-menerus meneleponnya dan datang ke
kantornya.
Dr T Subiantono, Asdep Arkeologi, setuju ktengkorak
itu saya bawa untuk dipelajari dan memberi biaya
angkutan. Tetapi di luar negeri disiarkan saya
merampas tulang-tulang itu dari Pusat Arkeologi dan
akan disimpan terus di Yogyakarta. Mereka tidak tahu
bahwa sejak awal tahun 1960-an Pusat Arkeologi bekerja
erat dengan Laboratorium Bioantropologi dan
Paleoantropologi UGM (yang berada dalam satu
departemen dan dibangun dengan anggarannya) tanpa
surat serah terima. Gedung laboratorium sendiri
diserahkan tanpa piagam dan banyak pegawainya bekerja
di sini.
Pers Australia terutama mendesak saya (dan Pusat
Arkeologi), agar semua temuan sisa manusia
dikembalikan ke Jakarta, padahal sisa-sisa manusia
dari gua-gua Flores tersimpan di London, Leiden,
Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Maumere.
Bermacam-macam fitnah dan isapan jempol difabrikasi:
bahwa di Yogya ahli-ahli lain tidak boleh melihatnya,
bahwa ada perang teritorium (turf war), bahwa ada
kecemburuan ilmiah, bahwa Australia yang menyediakan
dana, mengapa orang Indonesia yang meneliti dan
sebagainya, meskipun mereka menyediakan situs.
Dikabarkan mereka akan menjual copyright pembuatan
film TV, kepada penawar tertinggi, padahal
bertentangan dengan undang-undang tentang benda
budaya. Pelanggaran lain adalah mereka mencetak
tengkorak dan menjualnya. Dalam pengalaman saya bukan
pertama kali orang asing memakai siasat divide and
rule dan semangat empire building.
Mencari kebenaran
Telepon, faksimile, dan e-mail yang saya terima tidak
mengenal waktu. Selfon (HP) dan telepon dapat berbunyi
pagi-pagi sekali, sampai siang, bahkan malam dan
tengah malam (disangkanya siang di sini). Telepon
berdering di rumah, laboratorium, jalan, bandara, dan
di hotel. Wartawan-wartawan Australia paling suka
mendesak, menyudutkan, menuduh, menyindir dan
memfitnah. Misalnya: Apa yang dibuat dengan
tulang-tulang itu? Kalau sudah dipelajari, diapakan?
Bila dikembalikan ke Jakarta, apa tanggal 1 Januari
2005? Mengapa mempertahankan pendirian skeptis
sendirian? Di mana hasil studinya akan dipublikasi?
Mengapa bukan spesies baru, mengapa ia bukan
berevolusi langsung dari homo habilis? Apa tahu
orang-orang Australia marah sekali? Dan profesor
Indonesia di Jakarta juga marah. Waktu didesak siapa,
mereka menyebut nama orang-orang muda dari luar
universitas yang belum profesor. Mengapa harus
dilakukan studi di Yogyakarta? Apa ''konflik'' ini
tidak akan mengganggu hubungan antara negara? Dan
banyak laig yang aneh-aneh, silly dan naif.
Ada yang mencap saya a powerful archeologist, the king
of paleoanthropology in Indonesia, skeptik, a maverick
scientist, I'enfant terrible, yang oleh kolega-kolega
asing saya justru dianggap pujian. Saya sendiri
tergolong optimis; kalau melihat donat, lebih saya
pentingkan gelangnya bukan lubangnya. Tetapi ada
wartawan media massa asing yang lebih objektif,
seimbang, independen, tidak berpihak (atau berpihak
pada yang rasional), malah ada yang mau mengimbangi
berita dan opini negatif. Begitu juga profesor dan
ahli paleoantropologi lain dari berbagai negeri yang
menyokong atau sependapat dengan saya. Bahkan ada yang
memberi tahu bahwa kritik-kritik akan ''dimatikan'',
agar mereka tidak kehilangan muka. Beberapa berkala
ilmiah malah menolak surat pembaca, komentar atau
karangan yang berbeda.
Duduk perkaranya adalah seperti di bawah ini.
Sebelumnya perlu saya beritahu bahwa pada umur saya,
saya tidak merasa perlu untuk cemburu, menipu, merebut
hak orang, mencari-cari kerja yang tidak perlu saya
lakukan, membunuh tunas-tunas muda (neophyt, young
upstarts). Tidak pernah ada guru saya yang mengajarkan
begitu. Dalam ilmu pengetahuan saya berusaha mencari
kebenaran, bukan ketenaran. Belasan fosil manusia dari
Indonesia sudah saya selamatkan dari luar negeri tanpa
mengharapkan apa-apa, supaya dapat diteliti oleh
ahli-ahli muda dan dekat dengan situs asalnya.
Manusia modern
Liang Bua (atau Buah) dan gua-gua lain di Flores dan
pulau-pulau Nusa Tenggara yang lain sudah diselidiki
sejak awal tahun 1930-an. Demikian pula penelitian
antropologi ragawi suku-suku bangsa di sana. Ahli-ahli
Belanda dan lain-lain berusaha keras mencari suku-suku
katai, baik yang masih hidup, maupun sebagai
peninggalan tulang-belulang manusia di pulau-pulau
atau tempat-tempat terpencil di Indonesia. Tahun
1950-an salah satu perintis arkeologi prehistoris
Indonesia, HR van Heekeren, mengadakan survey dan
penggalian di beberapa gua yang diteruskan oleh
pendeta Katolik Th Verhoeven, yang menemukan antara
lain rangka sangat pendek (tetapi bukan katai) di
Liang Toge, di samping tulang-tulang di Liang Bua,
Liang Momer, dan lain-lain.
AA Sukadana, ahli antropologi ragawi dari Universitas
Airlangga, dalam tahun 1960-an menemukan pula
sisa-sisa manusia, termasuk rahang bawah, di Liang
Bua. Dari tahun 1978-1989, Prof Soejono menemukan
antara lain tulang paha di Liang Bua yang diserahkan
kepada Laboratorium UGM untuk diselidiki (dilakukan
oleh seorang dosen peneliti). Seperti sudah saya
katakan, sisa-sisa rangka di atas sekarang (selain di
Yogya) tersimpan di Leiden, London, Jakarta, Surabaya
dan Flores. Belum ada kabar apakah beberapa arkeolog
Australia akan mendesak agar tulang-tulang itu
dikembalikan ke dan disimpan di Jakarta.
Laboratorium Paleoantropologi UGM terutama memusatkan
perhatiannya pada fosil-fosil manusia dari kala
Pleistosen dan Holosen Awal. lebih 30 persen dari
temuan homo erectus dunia tersimpan di sini. Hampir 30
ahli asing pernah melakukan penelitian
paleoantropologi di sini baik pre maupun posdoktorat,
sehingga seorang doktor Prancis marah-marah karena
koran-koran Anglo-Saxon menyebarkan fitnah bahwa tidak
ada yang bisa melihat koleksi di Yogya. Selama heboh
Liang Bua sudah berpuluh wartawan (terutama dari luar
negeri) dana untuk melukan interview, mengambil foto,
dan membuat film berita dan dokumenter. Mereka
mewakili harian, radio, TV, wisma produksi (production
house), dan kantor berita. Kami tidak memungut bayaran
untuk itu. Pers Australia dan Inggris umumnya sangat
berat sebelah, seolah-olah mengadakan konspirasi
dengan ahli-ahlinya. Profesor yang berpendapat sejalan
dengan kami cukup banyak, dari Belanda sampai
Australia, dari Afrika Selatan sampai Amerika Utara.
Yang spektakuler dalam karangan ahli-ahli Australia
dalam Nature adalah klamasi hiperbolistik, bahwa
temuan itu adalah yang terpenting dalam 50 tahun
belakangan dan adalah spesien baru turunan homo
habilis (dari beberapa juta tahun yang lalu di Afrika
Timur), dan evolusi otak sesudah menjadi besar,
menjadi kecil kembali untuk kemudian menjadi besar
lagi. Ini tentu saja bertentangan dengan teori evolusi
dan hukum-hukum evolusi dan oleh karena itu dianggap
kemajuan besar. Lengannya dilaporkan lebih panjang
dari tungkai dan ciri-ciri tengkoraknya seperti homo
erectus.
Faktanya Liang Bua 1 adalah manusia modern (homo
sapiens) yang mengalami pengataian (tinggi badan
kira-kira 120 cm) dan menderita mikrokrani
(bertengkorak kecil, isinya 430 cc), jadi juga berotak
kecil (mikrenkefali), oleh karena itu terdapat
ciri-ciri purba (arkaik) pada tengkoraknya yang
mengingatkan orang pada manusia dini. Kadang-kadang
kita lupa bahwa ciri-ciri yang sama mungkin sebabnya
berbeda. Kesalahan tafsiran pada fosil-fosil purba
dapat disengaja atau tidak. Contoh-contoh besar dalam
sejarah paleoantropologi adalah manusia Piltdown
(sengaja ditanamkan fosil dari dua tempat lain di satu
situs) dan diberi nama Eoanthropus dawsoni, gigi
''babi'' (peccary) purba di Nebraska yang disangka
gigi kera dan diberi nama Hesperopithecus
nebraskensis, dan lain-lain. Kesalahan-kesalahan
demikian, termasuk Liang Bua, dimanfaatkan oleh
kalangan kreasionisma Protestan dan Islam, yang
menentang evolusi.
Sesudah penduduk asli (ab origine, indigenous)
Australia menentang penggalian sisa-sisa nenek moyang
mereka dan meminta segala temuan dikuburkan kembali,
ahli-ahli arkeologi Australia terpaksa memperluas zona
jelajah arkeologi mereka ke utara, yaitu Asia Tenggara
dan Pasifik Selatan, yang terkaya arkeologis dan
paleoantropologis di antaranya adalah Indonesia.
Dengan desakan dan uang mereka ingin memperluas akses
ke utara, kadang-kadang datang hanya dengan visa turis
atau bebas visa. Tergantunglah pada rasa percaya diri
generasi muda, berani menghadapi orang kulit putih
dengan setara, dan mengipas-ngipaskan bara
nasionalisma yang masih tersisa untuk membela
kedaulatan kultural Tanah Air, dan bangsanya.
Saya sendiri tidak dapat dijadikan kelinci percobaan
dan direduksi menjadi hamba-sahaya, apalagi oleh
orang-orang dari bekas koloni kriminal (penal colony)
Inggris (terutama New South Wales). Sebagai tetangga
sebaiknya ahli-ahli Australia belajar mengerti orang
Asia, jangan merasa lebih Inggris daripada Inggris,
kecuali kalau mereka pindahkan Australia ke Atlantik.
__________________________________
Do you Yahoo!?
Meet the all-new My Yahoo! - Try it today!
http://my.yahoo.com
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________