Uda Suryadi, ba'a lah kaba uda ko kini, lai aktif di Palanta, tapi ndak
pernah ikuik baciloteh, apokah uda sibuk bana dengan penelitian2
tersebut?
Oh yo, dima kami dapek mambaco atau mancari karya2 uda ko di Jakarta??
======================================================================

Suryadi, Kekayaan Minangkabau di Negeri Orang 

SETIAP kali pulang ke Ranah Minang, Sumatera, isi tas ransel Suryadi
selalu saja tambah padat. Ia seakan tak peduli dengan isi tas yang
beratnya hampir setara dengan bobot badannya. Ia mau berberat-berat
karena isi tasnya sesuatu yang amat berharga dan boleh dikatakan langka,
yaitu sejumlah hasil penelitiannya tentang "kekayaan" Minangkabau di
negeri orang.

Terakhir, ketika bersua Suryadi di Gedung Genta Budaya, Jalan
Diponegoro, Padang, Sabtu (24/7), ia membawa sejumlah hasil
penelitiannya yang telah dimuat di jurnal ilmiah terbitan Indonesia,
Malaysia, Amerika Serikat, Singapura, dan Belanda. 

Dia juga membawa hasil penelitian berjudul Syair Sunur: Suntingan Teks,
Konteks, dan Pengarang. Hasil penelitian yang membawanya meraih gelar
master of art di Universiteit Leiden, Belanda, tahun 2002, itu ingin
diterbitkan dalam bentuk buku, dibiayai sendiri dari uang tabungannya,
hasil "menularkan" ilmu di Faculteit der Letteren (Fakultas Sastra)
Universiteit Leiden.

"Sebagai orang Indonesia dan cinta kekayaan kebudayaan Indonesia, hanya
hasil penelitianlah yang dapat saya sumbangkan. Kalau penelitian itu
tidak saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan tidak diterbitkan
dalam bentuk buku, kapan lagi kita dapat mengetahui, mendalami, dan
memaknai sendiri kekayaan kita tersebut. Kita memang tak punya dokumen
aslinya, tetapi setidak-tidaknya hasil penelitian yang dilakukan ke
sejumlah negara dapat memperkaya khazanah ilmu pengetahuan kita bila
diterbitkan dalam bentuk buku," ungkap Suryadi yang mendapat bantuan
dana dari Toyota Foundation, Ford Foundation, Universiteit Leiden, dan
lembaga ilmu pengetahuan Belanda untuk melakukan penelitian naskah kuno
tersebut.

Ia melukiskan, untuk berbagai penelitian itu, dia berburu naskah kuno ke
berbagai perpustakaan terkenal di Eropa, seperti ke Belanda dan Inggris.
Di Indonesia naskah-naskah kuno tersebut tidak ada lagi.

Dalam Syair Sunur: Suntingan Teks, Konteks, dan Pengarang, Suryadi yang
juga ahli transliterasi (penyalinan dengan penggantian huruf dari abjad
yang satu ke abjad yang lain dan dalam hal ini dari abjad Arab (Melayu)
ke abjad Latin) coba merekonstruksi imbas gerakan Paderi (sekitar tahun
1803-1838) di pantai barat Sumatera, khususnya di rantau Pariaman,
jantung pertahanan kaum konservatif (tarekat Syattariyah atau ordo
Ulakan, sekitar 1785 dan 1790) di Minangkabau.

"Pengaruh gerakan Paderi ditelusuri melalui biografi Syekh Daud Sunur,
ulama dari rantau Pariaman (wilayah pantai). Sejak awal keulamaannya,
faham keagamaan Syekh Daud Sunur sudah berseberangan dengan ordo Ulakan.
Ulama ini sudah mengarang dua syair terkenal, yaitu Syair Mekah dan
Madinah atau Syair Rukun Haji dan Syair Sunur," kata Suryadi
menjelaskan.

Menurut dia, syair-syair karya Syekh Daud Sunur bernilai estetis cukup
tinggi. Selain itu, Syair Sunur adalah syair yang cukup tua berciri
otobiografis yang pernah ditulis orang Minangkabau, yang dalam
konstruksi puitisnya masih memperlihatkan ciri sastra lisan (pantun)
Minangkabau di satu sisi dan pengaruh sastra Arab (Islam) di sisi lain.


SURYADI yang kelahiran Pariaman, 15 Februari 1965, ini tertarik dengan
naskah Nusantara klasik, khususnya syair Melayu, karena naskah pendek
selama ini kurang mendapat perhatian.

Menurut dia, kecenderungan para peneliti Barat maupun peneliti Indonesia
lebih pada teks panjang atau prosa sejarah. Epos besar dan historiografi
tradisional atau hikayat kerajaan sudah banyak diteliti dengan hasil,
antara lain, berupa sejumlah disertasi di berbagai universitas di dalam
dan luar negeri.

"Kecenderungan itu menyebabkan kurangnya perhatian pada naskah pendek,
apalagi yang terkait dengan Islam. Dari berbagai katalog naskah
Nusantara yang sudah terbit dapat dilihat bahwa naskah pendek seperti
itu juga tidak sedikit jumlahnya. Memang kebanyakan naskah pendek tidak
banyak berkaitan dengan kisah di seputar pusat kekuasaan dan genealogi
raja-raja lokal. Namun, baik sebagai artefak sejarah maupun sebagai
hasil karya sastra klasik, sebenarnya nilai naskah pendek tidak lebih
rendah dari naskah panjang," papar Suryadi.

Sikap mengabaikan naskah yang tidak memunculkan informasi seputar pusat
kekuasaan menimbulkan efek kurang menguntungkan terhadap tradisi kajian
naskah klasik Nusantara. Di Jawa, misalnya, sudah lama terdengar keluhan
tentang kurangnya perhatian terhadap naskah pesisiran karena anggapan
bahwa naskah pesisiran yang beraksara pegon dinilai lebih rendah
nilainya daripada naskah keraton wilayah Yogyakarta dan Solo yang
dinilai adiluhung.

Dewasa ini, lanjutnya, di kalangan peneliti naskah Nusantara klasik,
khususnya kalangan filolog, naskah "pinggiran" seperti syair Melayu dan
genre singir yang berkembang di kalangan masyarakat santri di pantai
utara Jawa, belum dikenal luas. "Alasan ini pulalah yang membuat saya
tertarik meneliti Syair Sunur, atau naskah Nusantara klasik jenis syair
Melayu," tambah dia.

SEBAGAI orang Minang, di sela-sela kesibukan meneliti naskah Nusantara
klasik, Suryadi masih menyempatkan diri meneliti hal lain guna menggali
kekayaan dan kejayaan Minang dulunya. Banyak data dan dokumen penting
tentang Minangkabau disimpan di Belanda.

"Saya beruntung studi di Belanda. Ide-ide penelitian tak habis-habisnya
karena didukung perpustakaan yang lengkap dan memiliki koleksi langka.
Di samping itu, setelah menjadi dosen tamu sejak akhir tahun 1998,
terhitung tahun 2001 saya diminta menjadi dosen tetap/tanpa batas
kontrak oleh Dekan Fakultas Sastra Universitas Leiden," ujar suami
Nurlismaniar dan ayah dari Raisa Mahesvara Niadilova (3 tahun) yang
untuk disertasi doktornya meneliti tentang signifikansi budaya industri
regional di Sumbar.

Setamat dari Universitas Andalas (1991), Suryadi pernah menjadi asisten
dosen di almamaternya dan di Universitas Bung Hatta, Padang. Karena tak
pernah diangkat menjadi dosen tetap, akhir tahun 1994 dia pindah
mengajar ke Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI). Setelah beberapa
tahun menjadi asisten dosen di UI, ia pun tak diangkat menjadi dosen
tetap.

Berkat kerja sama Prof Dr MHJ Maier dari Universiteit Leiden dan Dekan
Fakultas Sastra UI (waktu itu) Prof Dr Sapardi Djoko Damono, akhir tahun
1998 Suryadi menjadi dosen tamu untuk program studi bahasa dan
kebudayaan Indonesia di Universiteit Leiden. Pengetahuan dan dedikasinya
pada sastra Nusantara akhirnya mengantarkan dia mengajar tetap di
Leiden. (YURNALDI) 
http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0408/03/naper/1183550.htm



____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke