Laahawlaawalaaquwwataa illaabillahilaliyyiladziim. Inaalillaahi wainnaailaihi raaji'uun
Allah berfirman : " Sungguh kami akan mencoba kamu dengan sesuatu dari cobaan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, buah-buahan,maka berikabar gembiralah bagi orang-orang yang sabar ". " Inamashabru 'inda sadmatiluulaa " (Sesungguhnya sabar itu ketika bencana pertama sekali menimpa kita). " Apakah manusia mengira, mereka akan ditinggalkan dan mereka berkata kami telah aman(dari segala cobaan),sementara mereka belum teruji(diuji)? ". Betapa banyaknya saudara-saudara serta family kita yang mengalami musibah Tsunami di Aceh, Sumut ini. Banyak yang menjadi sebatangkara, mahasiswi AlAzhar asal Aceh di Kairo,banyak yang sudah kehilangan ortu, family, bahkan banyak yang sudah sebatangkara. Tugas yang hidup saat ini hanyalah memberikan ketenangan dan menghibur , ta'ziyyah, keluarga yang masih hidup, membantu materil, atau bantuan apa saja yang baik dan ikhlas lillahi ta'ala. Beri mereka secercah pengharapan bahwa semua ini hanyalah ujian dari Allah yang menuntut kesabaran dari hambaNya. Kalau sabar, pasti Allah ganti yang lebih baik lagi dari itu. Jangan kita katakan pada orang yang tertimpa musibah itu, : " Itu murka dan azab Allah, itu kesalahan kamu yang banyak dosa..dst..dst..( siapa sih didunia ini yang tak banyak dosa,.emang kita suci dari dosa..??).. Jangan..jangan tambahkan musiban diatas musibah lainnya, jangan sampai orang terjatuh kita timpa dengan tangga yang kita pijak dan naiki itu, jangan tambahkan kesedihan dan kelukaan dihati-hati yang berduka dan boleh dikatakan hati-hati yang sudah hancur berkeping-keping,..cobalah rasakan bagaimana kalau hal semacam ini sampai terjadi pada diri dan anak serta keluarga kita..??. Bukan masanya saat ini mempersalahkan, menuding, dan hal-hal semacam itu. Ada masanya kelak untuk intropeksi diri, bila keadaan telah benar-benar reda dan kondisi mulai normal, masukilah perhitungan diri. Jangan biasakan diri kita menambah api atau kayu kompor yang telah menyala. Orang lagi panik, haruslah ditenangkan, disabarkan. Disaat kebakaran rumah datang, yang harus diselesaikan dulu adalah memadamkan api agar tak melebar, atau menyala kemana-mana. Jangan pas bencana tiba, kebakaran datang sibuk mempersalahkan asal muasal api dari mana. Toh..api itu tidak akan padam, kalau tak segera dipadamkan. Setelah api tak padam lagi, yang rusak dapat mulai dipermak kembali, mulailah merenung diri,intropeksi diri,dan perbaiki hati dan jiwa bila telah tergores pena hitam, bila terasa sudah baik,perlu ditingkatkan lagi kebaikan itu. Di Kairo untuk saat ini, masih terus diadakan donatur para korban bencana alam, yang keluarganya terkena, juga donatur untuk masyarakat di Aceh. Bagi pihak sekolah dan kedutaan ikut menayangkan kejadian Aceh dan Sumut. Semua pada bertangisan,orang tua-remaja, dewasa,anak-anak, sampai anak saya sendiri banyak pertanyaannya, kenapa sampai begitu, kenapa orang ngak masuk mesjid, kelihatan mesjid oleh mereka ngak rusak, mesjidkan rumah Allah, kenapa orang ngak lari kerumah Allah dan sebagainya..dan sebagainya,..merekapun kita usahakan agar ikut membiasakan turut prihatin terhadap siapa saja yang tertimpa musibah dan terbiasa memberikan bantuan. Dan tak sedikit yang hampir kebanyakan hartanya disumbangkan ke masyarakat Aceh, baik untuk mahasiswa asal Aceh, dan Sumut di Kairo yang korban, atau masyarakat Aceh yang ada di Indo.Itulah dahulu yang harus kita lakukan. Jangan tambahkan kedukaan diatas kedukaan. Jangan tambahkan musibah diatas musibah lainnya. Jangan tambahkan asam diatas kulit orang yang sedang luka. Wassalam. Rahima.Sikumbang Sarmadi. Kairo --- Joni Gusril <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Sebuah Kabar Pilu tentang Keluarga Saya di Tanah > Rencong > > Hari ini, 30 Desember 2004, Pukul 17.50 WIB, saya > kembali menerima telepon dari adik saya yang "masih > hidup" di Banda Aceh. Ia selamat dari terjangan > gelombang tsunami, karena rumahnya terletak di Lueng > Bata, Banda Aceh, yang berjarak sekitar 7 kilometer > dari bibir pantai. Hari ini, ia kembali mengabarkan > kabar pilu untuk saya dan kita semua di luar Aceh. > Kabar yang disampaikan bahwa salah satu sepupu dari > pihak ayah saya kembali diketemukan dan telah > meninggal dunia. Inna lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun. > Korban tersebut bernama Mariana, bekerja di Kanwil > Tenaga Kerja dan Tranmigrasi Aceh. Ia meninggal > terperangkap di dalam rumahnya. Kakak sepupu saya > tersebut meninggal sambil mendekap buah hatinya > yang berusia tiga tahun dan seorang pembantunya > juga. > > Kabar duka ini makin melengkapi dan melululantakkan > penderitaan batin saya. Dua hari sebelumnya, saya > sudah kehilangan 43 orang annggota keluarga > terdekat. Mereka adalah nenek, tante, om, kakak, > saudara sepupu dan keponakan-keponakan saya. > Kebetulan kedua orang tua saya telah mendahului saya > beberapa tahu n yang lalu. Secara geografis rumah > mereka memang tidak berada di bibir pantai, jarak > dengan laut rata-rata sekitar 4 - 5 kilometer. Tapi > inilah Tuhan berkendak, kita tidak dapat merekayasa > keinginan semua kekuatan Sang Pencipta. Saudara saya > menemukan ajal dan tersapu dalam sebuah gelombang > tsunami. Sekedar gambaran, mereka tinggal di Keudah > Muka (dekat penjara Keudah), Blang Padang, Lingke, > Lampaseh Kota, Merduati, Blower dan Kampung > Keuramat. Saya juga tidak bisa membayangkan ribuan > teman saya lainnya; baik itu teman semasa kuliah dan > teman semasa kerja yang lenyap bersama-sama dalam > hitungan menit. Allahu Akbar!!! > > Yang paling tragis dan mencabik-cabik perasaan saya > adalah apa yang dialami oleh nenek, kakak, sepupu, > keponakan saya yang tinggal di Keudah Muka itu. Di > tempat itu ada dua rumah keluarga saya yang letaknya > berdampingan, mereka berjumlah sebelas orang > semuanya. Sesudah gempa yang dahsyat itu > menguncangkan Banda Aceh, mereka masih sempat > menghubungi saya di Jakarta. "Dik, di sini gempanya > luar biasa. Sangat dahsyat dan belum pernah saya > rasakan sebelumnya seperti ini. Doakan kami ya," > itulah kata-kata terakhir yang saya dengar dari > kakak saya. Kata-kata yang merupakan pamungkas dari > pembicaraan kami di jagad ini. Saat itu, saya hanya > menentramkan hatinya saja, sambil mengingatkan agar > tidak berada di dalam rumah. > > Ketika banjir mulai mengalir ke darat, mereka > bersebelas lari menyelamatkan diri dengan naik ke > mobil pick up dan berencana mau mengungsi ke luar > kota. Sekitar seratus meter mereka bergerak, > gelombang tsunami menyergap mereka dari belakang. > Masya Allah, saya tak bisa membayangkan apa yang > sesungguhnya terjadi pada mereka saat itu. > Barangkali yang paling saya tangisi, adalah ada > nenek saya yang telah berumur 94 tahun, ia juga ada > di dalam kendaraan itu. Hingga mereka kini belum > diketahui nasibnya, tapi ada mukjizat lain yang > Tuhan berikan, satu di antara mereka, esoknya > diketemukan dalam keadaan selamat. Dia itu sepupu > saya yang mengemudi mobil tersebut dan tersapu dalam > arus gelombang tsunami. Tuhan menyelematkan dia, > barangkali untuk menjadi saksi dari peristiwa > kehidupan ini. Ia tersangkut di pagar halaman Masjid > Raya Baiturrahman, yang jaraknya sekitar satu > kilometer dari tempat kejadian. Dalam kondisi badan > remuk dan patah-patah, ia bercerita tentang apa yang > saya tul is di > atas. Kini ia sudah dievakuasi untuk berobat di RSU > Adam Malik Medan. > > Banyak lagi cerita tentang keluarga saya yang > lainnya, semua memang sangat tragis, sangat > mencekam, dan sangat dramatis ceritanya. Kini > berbagai cerita dari saudara saya yang selamat juga > mendapatkan informasi yang simpang siur. Ada yang > mengatakan gelombang tsunami akan datang lagi, > mayat-mayat yang berserakan di jalanan yang mulai > membusuk dan dapat menimbulkan berbagai penyakit > pasca gempa dan tsunami. Mereka sudah > berancang-ancang untuk mengungsi untuk menyelamatkan > anak-anak mereka ke luar Aceh. > > Apa yang mereka alami sekarang adalah kurangnya > relawan kemanusiaan yang datang untuk memberikan > bantuan dan mengakhiri penderitaan mereka.Juga > ketidak responan dari sisi kemanusiaan dari partai > politik yang ada di tanah air ini. Mereka juga > mengeluh kemana kader Partai Golkar, PDIP, Partai > Demokrat, PAN, dan PKB, kenapa mereka tidak datang > dan melibatkan diri sebagai relawan. Kini yang ada > di lapangan adalah kader Partai Keadilan Sejahtera > (PKS) yang datang memberi dukungan moral, memberi > obat-obatan dan mengangkat mayat yang > bergelimpangan. Kemana kader partai yang lain, yang > dulu suka tampil dengan uniform sangat pemilu > berlangsung. Bukankah mereka relawan yang tangguh. > Kemana, kemana, kemana mereka itu? > > Kini air mata kepedihan saya sudah kering dan tak > tersisa lagi, air mata kepedihan kita semua juga > sudah terkuras dalam ratap kesedihan yang > berkepanjangan. Rangkaian kata-kata juga sudah tak > ada lagi yang tersisa untuk menceritakan semua ini. > Tapi saya yakin, hati dan nurani kita belum habis. > Nurani kita masih tersisa untuk berbuat sesuatu yang > terbaik bagi kemanusiaan, sesuatu paska gempa dan > tsunami ini, yaitu recovery dari berbagai sudut > untuk menghilangkan traumatis dalam satu bulan ke > depan, atau tiga bulan ke depan, atau juga satu > tahun ke depan. Tidaklah berlebihan, bila saya > katakan bahwa Aceh kini telah hilang satu generasi. > > > Dari hati yang tulus saya minta kepada kita semua, > agar mendoakan saudara-saudara yang masih hidup di > Aceh dan kami menerima cobaan ini. Semoga Tuhan Yang > Maha Pengasih dan Penyanyang memberikan kecerdasan, > kesabaran, kekuatan, dan ketulusan kepada kami, > untuk menangkap makna dan maksud dibalik takdir-Nya > itu. Barangkali juga inilah puncak dari segala > darurat; darurat militer dan darurat sipil. Puncak > yang meluluhlantakkan Aceh, negeri di belahan barat > wilayah Republik Indonesia. > > S a l a m, > > > Fahmi Mada > > __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

