http://padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=5234

Menguak Tabir PDRI "Sejarah PDRI Masih Terlupakan"
Oleh Redaksi Sabtu, 08-Januari-2005, 18:56:08 177 klik   
 
Joni Syahputra�Bidar Alam

Sejarah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) masih dilupakan
banyak kalangan khususnya penguasa. Malahan tidak dianggap sebagai
sebuah sejarah. Buktinya, posisi Sjarifuddin Prawiranegara yang menjadi
pimpinan PDRI tidak pernah diakui. 
  
Harus disadari, tanpa PDRI bangsa Indonesia tidak akan ada lagi. Sebab
setelah Jogjakarta direbut dalam agresi Belanda II tanggal 19 Desember
1948, presiden dan wakil presiden beserta beberapa menteri ditawan.
Persis kekuasaan jadi fakum. 

Menurut Ahmad Syafii Maarif, keynote speaker dalam Peringatan Hari Ulang
Tahun PDRI ke 56 di Bidar Alam, Kabupaten Solok Selatan Kamis (6/1),
selama tenggang waktu enam bulan 21 hari (22 Desember 1948 sampai 13
Juli 1949), pusat pemerintahan Indonesia dialihkan ke tangan PDRI,
pimpinan Sjafruddin Prawiranegara, yang semula sebagai Menteri
Kemakmuran dalam Kabinet Hatta. 

Sjafruddin sejak November 1948 diajak Hatta ke Bukittinggi dan diminta
tinggal di sana sebagai antisipasi terhadap segala kemungkinan buruk
yang akan terjadi dalam hubungan Indonesia-Belanda. Sementara Hatta pun
berangkat ke Tapanuli untuk menyelesaikan perang saudara antara kelompok
Bedjo dan Malau yang sangat meresahkan rakyat. 

Dalam waktu singkat Hatta berhasil menyelesaikan pertikaian itu.
Kemudian lewat Bukittinggi kembali ke Yogyakarta dengan pesawat
kepunyaan KTN (Komisi Tiga Negara). Namun sebelum berangkat ke
Bukittinggi, Hatta sudah memperkirakan kemungkinan aksi militer Belanda
II akan terjadi dengan menggempur Jogjakarta dan Sjafruddin sudah
dipersiapkan untuk menjadi Perdana Menteri sementara. 

Pembicaraan Hatta dengan Menteri Luar Negeri Belanda, Mr Stikker di
Jogjakarta telah berakir dengan jalan buntu. Situasi inilah yang
menyebabkan memanasnya hubungan Indonesia dan Belanda yang masih belum
mau melepaskan daerah bekas jajahannya. Kesulitan Pemerintahan Hatta
memang bertumpuk-tumpuk. Pemberontakan PKI di Madiun pada bulan
September 1948 baru saja dapat ditanggulangi dengan mengerahkan pasukan
Siliwangi. Situasi rentan inilah yang digunakan Belanda untuk menghabisi
riwayat Indonesia yang baru berusia setahun jagung. 

Dugaan bahwa Belanda akan menggempur Jogja jadi kenyataan. Pukul 06.00
WIB pagi tanggal 19 Desember 1948, Lapangan Terbang Maguo mulai dihujani
bom pesawat tempur Belanda. PM Hatta yang sudah berada di istana
presiden dari Kaliurang, tempat peristirahatannya segera bertindak.
Sidang kabinet diadakan untuk memberi mandat kepada Sjafruddin agar
membentuk pemerintahan darurat di Sumatera. 

Mandat serupa juga dikirimkan kepada LN Palar, Dr Sudarsono dan AA
Maramis yang sedang berada di India, sekiranya Sjafruddin gagal dalam
usahanya membentuk pemerintahan darurat. Ternyata Sjafruddin mampu
melakukannya. Namun sayangnya dalam pidato Presiden Soekarno pada
tanggal 17 Agustus 1949 yang bertalian dengan peristiwa 19 Desember
1948, presiden tidak menyebut satu kata pun tentang PDRI, sebuah
pemerintah sementara yang mendapat mandat penuh dari presiden dan wakil
presiden. Apalagi PDRI telah turut menyelamatkan kedaulatan republik
dalam situasi yang gawat. 

�Saya tidak tahu mengapa presiden berat lidah untuk menyinggung peran
PDRI ini. Apalagi mengucapkan rasa terima kasih kepada peran yang telah
dimainkannya. Saya juga gagal memahami mengapa peristiwa 13 Juli 1949
pada saat Sjafruddin menyerahkan kembali mandatnya tidak pula disinggung
dalam pidato presiden saat itu,�ujar Syafii lagi. 

Kemudian menurut Syafii, setelah Soekarno dan Hatta ditawan, Kabinet
Hatta masih sempat bersidang dan diantara keputusannya, presiden dan
wakil presiden mengirim kawat kepada Sjafruddin Prawiranegara di
Bukittinggi yang isinya bahwa ia diangkat sementara membentuk
pemerintahan darurat, dan membentuk suatu kabinet dan mengambil alih
pemerintah pusat. 

Ungkapan mengambil alih pemerintah pusat secara konstitional menjadi
penting karena setelah PDRI dibentuk tanggal 22 Desember 1949, di
Halaban di wilayah Lima Puluh Koto, tidak ada kekuasaan pemerintahan
lain yang sah di wilayah Lima Puluh Koto, kecuali PDRI. Sekalipun selama
tiga hari (19-22 Desember 1948) ada semacam kevakuman pemerintahan.
Namun secara de jure sejak itu 19 Desember 1949 kekuasaan sementara
tidak lagi berada di tangan Soekarno Hatta atau sebutlah Kelompok
Bangka, tetapi di tangan Syafruddin dengan PDRI nya. 

Adapun terlambatnya kawat diterima Sjafruddin lantaran persoakan teknik
komunikasi yang terputus-putus saat itu. Desa kecil yaitu Bidar Alam di
pedalaman Solok Selatan merupakan tempat bersejarah yang terlama menjadi
pusat PDRI yaitu tiga sampai empat bulan. 

Intuisi Hatta yang menyuruh Sjafruddin untuk tinggal di Bukittinggi
sejak Nopember 1948 tampaknya berdasarkan pengalaman bahwa Belanda tidak
dapat dipercaya. Begitupun pembentukan PDRI di Halaban pada 22 Desember
1948 bukanlah berangkat dari sebuah keinginan untuk berkuasa,
menggantikan pemerintahan tawanan. Tindakan itu semata-mata kaerena
sikap yang snagat mendasar yaitu kemerdekaan harus dipertahankan. 

Menurut Syafii lagi, dalam perspektif ini penolakan PDRI terhadap
pernyataan Roem-Royen harus ditafsirkan sebagai sikap politik dari
mereka yang mengerti hukum konstitusi. Tetapi juga sikap Bangka yang
menugaskan Roem untuk berunding tentu harus dilihat dari sudut
kepentingan negara yang ingin secepatnya bebas dari penajajahan.
Kelemahannya hanya terletak pada kenyataan mengapa sebelum berunding,
tidak dibicarakan terlebih dahulu dengan PDRI, sebagai pemerintah yang
sah. Itulah sebabnya barangkali Moh Natsir, Menteri Penerangan Kabinet
Hatta tidak mendukung langkah Bangka. 

Ringkasnya menurut putra Sumpur Kudus ini, setelah Hatta kemudian
berusaha keras mencari Sjafruddin dan anggota kabinetnya untuk dibujuk
agar kembali ke Jogkakarta dan bersedia mengembalikan mandatnya kepada
pemimpin Bangka yang sudah berada di Jogja. Maka tanggal 13 juli 1949
PDRI mengakiri sejarahnya yang sangat heroik. 

�Dari semua itu dapat disimpulkan, PDRI adalah bagian menyatu dengan
seluruh nafas dan gerak perjuangan republik Indonesia untuk
mempertahankan kemerdekaan yang hendak direnggut kembali oleh Belanda.
Nafsu itu dimentahkan PDRI yang telah bergerilya yang didukung
sepenuhnya rakyat Indonesia, Semenrtara PDRI jarang disebut adalah
sebuah malapetaka sejarah yang disebabkan jiwa kerdil yang tidak jarang
dapat membutakan mata batin seseorang. Karena itu kita harus mengakui
sejarah,� tutur Syafii lagi.

Sejarawan, Dr Mestika Zed, pembicara seminar, menambahkan selama lebih
kurang delapan bulan keberadaannya (Desember 1948-Juli 1949) PDRI
berhasil menjalankan tugasnya sebagai pemerintahan alternatif dalam
suasana pengungsian. Sesuai dengan sifatnya, darurat, PDRI memimpin
pemerintahan secara mobil, berpindah-pindah dari satu tempat ke tampat
lain sambil meneruskan perjuangan dengan bergerilya. 

�Meskipun dalam keadaan darurat dan serba kekurangan, PDRI pada giliran
memainkan peran sentral dalam mengintegrasikan pelbagai kekuatan
perjuangan yang bercerai berai di Jawa dan Sumatera dan pada saat yang
sama mendorong pemulihan perjuangan diplomasi dengan masyarakat
internasional termasuk dengan Dewan Keamanan PBB,� ujarnya. 

Jadi menurut Mestika, sejarah PDRI dalam satu dan dua hal adalah batu
ujian pertama bagi integrasi nasional karena perjuangan kemerdekaan pada
masa itu akhirnya berhasil melewati ujian terberat setelah mengalami
ancaman disintegrasi bangsa. 

Setelah itu menurut Mestika, meminjam kata-kata sejarawan terkemuka Prof
Sartono Kartodirjo, PDRI adalah soal to be or not to be Republik. Tanpa
PDRI, Republik yang diproklamasikan beberapa tahun sebelumnya itu nyaris
tenggelam buat selama-lamanya. Namun berkat PDRI, Republik bisa kembali
ke Jogja. Dengan kata lain, PDRI mengembaliklan gagang ke tampuknya.
Kemudian menurutnya yaitu menyangkut soal the ethics of power (etika
kekuasaan). 

Meskipun PDRI dibentuk dan didukung sepenuhnya oleh pemimpin Sumatera
Barat, hanya sedikit saja tokoh Sumbar yang duduk dalam kepemimpinan
puncak tanpa merasa perlu mengklaim diri sebagai �Putra asli PDRI�. 

Lebih penting lagi, berapa Sjafruddin dan pemimpin Sumatera Barat dengan
kerelaan dan penuh patriotisme bersedia menyerahkan kembali kekuasaan
kepada pemimpin di Jogja, meskipun mereka pada taraf tertentu telah
dilangkahi oleh pemimpin Bangka yang ditawan Belanda dalam mengambil
keputusan-keputusan penting mengenai negara dan bangsa lewat perundingan
tanpa membawa PDRI. 

Kesimpulannya menurut Mestika, mengingat pentingnya peran sejarah PDRI
dalam perjalanan sejarah bangsa, aka sudah selayaknyalah sejarah
perjuangan era PDRI dijadikan sebagai hari bersejarah nasional.
Pengukuhkan yang sekaligus sebagai simbol pengikat integrasi bangsa di
tingkat nasional sekaligus menghidupkan kembali tali persaudaraan
solidaritas di tingkat lokal belakangan ini cenderung makin kabur dalam
memori kolektif generasi bangsa. *** 



____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke