Assalamu'alaikum wr.wb.,

Sesungguhnya Allah Atas segala sesuatu itu Maha Menentukan

Tayangan Metro TV tentang banjir bah akibat tsunami menerjang kota Banda
Aceh yang ditayangkan berulang-ulang sejak kemarin sungguh sangat
menyesakkan dada. Betapa pilunya hati menyaksikan manusia yang digulung oleh
gelombang dahsyat itu. Betapa ngerinya membayangkan puluhan ribu manusia
meregang nyawa dalam waktu bersamaan akibat dilanda oleh gelombang dahsyat
itu. Dan akibat dari pristiwa itulah yang kita saksikan melalui layar kaca
selama dua minggu lebih ini, kumpulan ribuan jenazah yang sudah berhasil
diselenggarakan dan dikuburkan namun masih ribuan lagi yang mungkin masih
belum diapa-apakan, semuanya korban musibah yang terjadi dalam hitungan
menit saja. Kalau Allah berkehendak...

Kita perhatikan di tayangan tv itu, bahwa sesudah terjadinya gempa dahsyat
itu, umumnya masyarakat sedang menarik nafas lega meskipun bangunan
rumah-rumah mereka hancur. Tidak ada yang menyadari bahwa musibah besar
sedang mendekati mereka. Dan ketika air bah itu datang, tidak banyak yang
sempat menyelamatkan diri, bagian terbesar dibawa hanyut dan ditenggelamkan
oleh terjangan gelombang besar. Kalau Allah berkehendak...

Banyak orang awam yang menyesalkan kenapa para ahli tidak meramalkan bakal
terjadi musibah besar itu. Banyak orang awam merasa bahwa kejadian seperti
itu bias diprediksi awal sehingga korban harusnya bisa diminimalisir. Sampai
sekarang tidak ada alat yang bisa meramalkan kapan dan dimana gempa akan
terjadi.

Musibah itu diawali dengan gempa tektonik berskala besar. Secara umum kita
mengenali yang disebut gempa itu adalah bumi bergoyang. Bangunan bergetar
dan bahkan runtuh. Bumi menjadi rengkah. Adakalanya pohon-pohon tumbang.
Yang tidak kita amati adalah bahwa bergetarnya bumi itu dikarenakan ada
bagian dari bumi itu bergeser atau berpindah tempat baik secara vertical
maupun secara horizontal dalam waktu sangat singkat.

Mari kita bayangkan bumi kita ini sebagai sebuah jeruk bali. Kulitnya yang
berwarna hijau itu adalah bumi yang kita pijak. Bagian buahnya yang berwarna
merah di dalam adalah cairan magma bertemperatur sangat tinggi,
menggelegak-gelegak dan seringkali mendesak keluar  sebagai letusan gunung
api. Tekanan dari gelegaknya isi perut bumi itu membuat kulit bumi itu
terpecah menjadi beberapa keping  atau lempengan besar dan masing-masing
lempeng itu bergerak karena pengaruh tekanan tadi kearah yang adakalanya
berlawanan sehingga terjadilah tumbukan-tumbukan. Akibat tumbukan itu
lempeng yang lebih elastis tertekuk, bisa menunjam kembali kearah perut bumi
atau terdesak keatas menjadi tinggian pegununungan. 'Untunglah' bahwa
tumbukan itu tidak dengan kecepatan tinggi, karena pergerakan
lempeng-lempeng raksasa itu hanya beberapa sentimeter saja setahun. Tapi
karena yang berlaga adalah lempengan benua raksasa, tekanan di tempat
tumbukan itu pada jangka waktu yang panjang menyebabkan kekurangstabilan dan
retak-retak atau bahkan patah dan bergeser perlahan-lahan. Bagian-bagian
yang retak-retak itu, yang tetap 'dimasak' dengan temperatur sangat tinggi
oleh larutan magma dibawahnya seringkali patah dan bergeser pada bidang
retakannya. Patah dan bergesernya satu bidang terhadap yang lain secara
vertical dalam hitungan detik inilah yang kita rasakan sebagai gempa.

Gempa berkekuatan 9 pada skala Richter yang terjadi dibagian sebelah barat
Aceh dua minggu yang lalu itu menurut perkiraan ahli meliputi daerah
sepanjang ratusan kilometer (300?) dari sebelah barat pulau Simeulue ke arah
utara yang terban sedalam 30 meter.  Kalau kita anggap panjang bidang itu
300 km dan jatuh atau terban sedalam 30 meter dapat kita  perkirakan berapa
juta metrik ton air laut yang memukul kebawah dan betapa dahsyat pukulannya.
Meskipun hitungannya sulit dibayangkan, cukuplah kita ketahui saja bahwa
impak dari pukulan air laut  itu sanggup menerpa sampai ke Somalia di Afrika
yang tidak kurang dari 8000 km jaraknya dan masih dengan tinggi gelombang
yang mematikan.

Apa lagi yang dapat kita fahami dari musibah yang dahsyat itu? Arah pukulan
utama gelombang tsunami itu adalah ke barat, dan sanggup memporak porandakan
Sri Langka dan pantai timur India yang terletak sekitar 2000 km ke sebelah
barat bahkan sampai  ke Somalia yang berjarak 8000 km tadi itu. Pukulan ke
arah pantai Sumatera adalah ekor dari pukulan ke arah barat yang disebabkan
oleh dorongan air yang mengisi kekosongan akibat jatuhnya dasar laut sedalam
30 meter yang 'memukul' ke arah barat itu. Tingginya tsunami ke pantai
Sumatera 'hanya' beberapa meter dan kecepatannya juga dibawah kecepatan ke
arah barat seperti yang kita saksikan di tayangan televisi. Masih banyak
orang yang berhasil menyelamatkan diri.

Tahukah kita bahwa kejadian yang sama tidak hanya di Aceh bisa terjadi kalau
Allah berkehendak? Tahukah kita bahwa sepanjang pantai barat pulau Sumatera
dan pantai selatan pulau Jawa sama-sama mempunyai potensi untuk mengalami
hal yang sama? Tahukah kita seandainya gempa dengan kekuatan yang sama
terjadi di sekitar selat Sunda maka Jakarta bisa mengalami nasib yang sama
seperti Banda Aceh? Dan kejadian itu tidak bisa diramalkan oleh ilmu
pengetahuan. Kemanakah kita akan berlindung? Kepada siapa kita akan minta
tolong? Adakah kita memetik pelajaran dari musibah Aceh?

Laa haula walaa quwwata illa billaah.

Wassalamu'alaikum wr.wb.,

Lembang Alam



____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke