dr. Joserizal Jurnalis: Saya Ingin Mati Syahid dan Hidup Mulia di Dunia
Publikasi: 10/01/2005 07:50 WIB
http://www.eramoslem.com/br/pr/51/16435,1,v.html


eramuslim - Dokter muda berdarah minang ini, sejak dulu tidak pernah berminat 
menjadi seorang dokter, karena sejak remaja Joserizal Jurnalis bercita-cita 
ingin menjadi ahli nuklir. Namun kedua orang tuanya menginginkan dirinya 
menjadi dokter. Akibatnya, Jose panggilan akrabnya kurang serius menjalani 
masa-masa kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tapi setelah 
masuk jurusan ahli bedah tulang dan mempelajarinya, dokter simpatik ini mulai 
menyukai profesinya sebagai dokter.


Pertama Kali Menangani Operasi Sempat Gugup dan Gemetaran

Joserizal Jurnalis adalah putra pertama dari pasangan Jurnalis Kamil dan Zahara 
Idris yang berprofesi sebagai dosen. Peran kedua orang tuanya sangat besar 
dalam memberikan dukungan terhadap dirinya, untuk menekuni pekerjaannya sebagai 
dokter ahli bedah tulang. Begitu juga dengan anak dan istrinya, mereka selalu 
memberikan dukungan moral terhadap dirinya.

Sejak kecil kedua orang tuanya memberikan kebebasan dalam berpendapat, tapi ada 
satu hal yang ditekankan oleh kedua orang tuanya, yaitu bersikap jujur dan 
berani. Ini mungkin pengaruh dari latar belakang pendidikan kedua orang tuanya 
yang banyak menimba ilmu di Amerika Serikat. Mengomentari soal Amerika dokter 
Jose menyatakan, "Dari segi pendidikan Amerika memang bagus, namun rusaknya 
setelah Bush berkuasa," ungkapnya.

Sebagai dokter ahli bedah tulang, Jose bukannya tidak pernah mengalami kendala. 
Kendala itu menurutnya sering ia jumpai saat sedang melakukan operasi bedah 
tulang. Pembedahan yang awalnya dianggap mudah ternyata sangat sulit. Hal ini 
terjadi ketika pertama kali ia menangani operasi. Dokter Jose mengaku sempat 
gugup dan gemetaran melihat darah.

Ditanya soal masih tingginya biaya pengobatan di Indonesia dan tidak terjangkau 
oleh rakyat miskin, Dokter Jose berpendapat, pemerintah harus melakukan subsidi 
seperti yang digariskan dalam UU. Misalnya pengobatan bagi masyarakat miskin 
diberikan gratis, sarana untuk masyarakat miskin harus dikembangkan. "Di 
Indonesia banyak sekali orang miskin, tapi banyak juga orang kaya yang mampu 
berobat ke luar negeri," katanya.

"Ini menimbulkan kesenjangan yang sangat besar antara si miskin dan si kaya. 
Pemerintah harus bertanggungjawab terhadap biaya pengobatan masyarakat miskin, 
yang kaya jangan diberikan subsidi," tambahnya.

Ayah dari tiga anak ini, punya hobby olah raga, bela diri dan membaca. Buku 
yang dibacanya antara lain buku-buku politik, kesenian dan lain-lain. Ia 
mengaku tidak berminat terjun ke dunia politik kalau hanya untuk mendapatkan 
kekuasaan. Dokter Jose mengatakan, dirinya siap terjun ke politik untuk 
memperjuangkan syariat Islam.



Sebagai dokter yang sibuk, bagaimana ia membagi waktu dengan keluarganya? 
Joserizal mengatakan jika sedang tidak bertugas baik di rumah sakit maupun di 
MER-C sebagai dokter relawan, ia lebih senang mengajak anak-anak dan istrinya 
berdiskusi tentang segala hal. Namun yang paling diutamakan bagi anak-anaknya 
adalah memberikan pelajaran agama melalui kisah-kisah kehidupan dan 
pengetahuan. Soal disiplin, Jose mengaku dirinya tidak terlalu menekankan 
disiplin pada anak-anak, yang terpenting katanya, anak-anak tidak melawan pada 
orang tua.

"Saya tidak terlalu menuntut terhadap anak-anak, artinya mereka tidak harus 
begini atau begitu," jelasnya.



Ingin Mati Syahid dan Hidup Mulia di Dunia

Pria kelahiran 11 Mei 1963 ini punya visi dan misi, mencari kemuliaan di dunia 
dan ingin mati syahid. Menurutnya, setiap muslim harus memiliki cita-cita 
seperti itu, masalah tercapai atau tidak tergantung usaha yang dilakukan 
manusianya.

Joserizal punya pandangan sendiri soal keluarga sakinah. Laki-laki sebagai 
kepala keluarga harus memiliki pengetahuan untuk memberikan pendidikan dan 
pengarahan kepada anak dan istrinya, selain itu harus ada komunikasi dua arah 
antara suami dan istri, anak-anak dan orang tua, sehingga tercipta keluarga 
yang harmonis.

Dokter yang murah senyum itu menikah pada tahun 1990 dengan dara cantik bernama 
Dian S. Jose. Sebagai ayah, ia seringkali mendapatkan kritikan dari ketiga 
anaknya, apabila terlalu sering keluar rumah menjalankan tugasnya sebagai 
dokter juga sebagai relawan. Untuk itu ia sering mengajak anak-anaknya ke 
tempat tugas, agar mereka mengetahui apa yang orang tuanya lakukan.

Bila hari libur Jose sering mengajak anak-anaknya traveling. Jose juga mendidik 
anak-anaknya untuk menyukai masakan daerah, dan melarang mereka untuk memakan 
masakan fast food, agar mereka lebih mencintai negara dan daerahnya.

Sejak di bangku sekolah dasar, Jose sudah sering menjadi juara kelas, hingga ia 
SMA. Mengenang masa kecilnya, Jose mengaku sejak kelas satu sampai kelas lima 
SD dirinya masih senang berkelahi, bahkan cenderung nakal.

Saat di bangku kuliah prestasinya sedang-sedang saja, karena ia tidak pernah 
serius menjalaninya. Namun setelah menjalani profesinya sebagai dokter dan 
relawan, ia bertekad ingin selalu memberikan pertolongan kepada sesama, 
khususnya umat Islam yang membutuhkan pertolongan dari segi medis. Dan namanya 
mulai dikenal oleh khalayak sejak ia bergabung bersama dokter-dokter muda 
lainnya di MER-C pada tahun 2002. (Travel Sri WR/ln)





--

This e-mail may contain confidential and/or privileged information. If you are 
not the intended recipient (or have received this e-mail in error) please 
notify the sender immediately and destroy this e-mail. Any unauthorized 
copying, disclosure or distribution of the material in this e-mail is strictly 
forbidden.



____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke