Assalamualaikum.Wr.Wb. Mohon maaf bila terjadi kekhilafan dan kesalahfahaman dalam penilaian dan pengamatan yang bersifat sangat minim data dan sangat pribadi. Bila salah itu pasti berasal dari pendapat pribadi saya aja.
Ini hanya coretan-coretan saya yang menggelitik hati kita saja. Saya mulai aja dari cerita langsung dilapangan yang saya alami, bukan dengan maksud riya atau pamer(naudzubillahi mindzalik). Bukankah Allah sudah berfirman : " Dan orang-orang yang menafkahkan hartanya baik didalam keadaan sempit, atau lapang " Juga firmanNya : " Orang-orang Yang menafkahkan hartanya baik secara sembunyi-sembunyi (karena takut menjadi riya dan rusak hatinya), juga bersedeqah secara terang-terangan (bisa jadi ia yakin bahwa ia bisa menjaga dirinya dari riya, dan ingin agar perbuatannya dapat ditiru yang lain, jadi sekali jalan dua tiga pulau terlalui, bersedeqah dan dakwah sekaligus, kita berbaik sangka aja sama semua ini, itu lebih aman dari dosa, sekali lagi masalah niat dan hati manusia hanya Allah saja yang tahu) Hari ini rabu 12 januari,dari pagi, sampai sore, saya ada di Kedutaan dalam hal pengumpulan dana buat korban Tsunami. Yang mana juga hari-hari sebelumnya juga sibuk menyiapkan(mengetik), undangan buat mereka yang kita harapkan kedatangannya buat menyumbang untuk para korban. Undangan kita sebarkan ada 63, dan sekitar 40 adalah undangan yang kita harapkan untuk menyumbang,(dari orang Indo yang sudah menjadi warga asing, atau mesir, karena sudah menikah dengan warga asing tersebut), sementara sisanya sebahagian mahasiswa Aceh. Pagi hari, jam 11, ternyata yang diundang baru datang sekitar 20 orang. Wah..kita sempat bingung,..bagaimana nih..sedikit yang datang, yang lain pada kemana, setelah kita tanya ternyata banyak yang lagi diluar kota atau lagi pergi haji..? Yah..sudahlah tawakkal pada Allah saja. Acara demi acara, kita jalani. Tibalah pengumpulan dana yang masing-masing diberikan amplop. Selesai itu, kebetulan teman saya dan saya sendiri yang bertugas menghitung jumlah duit yang ada di amplop yang jumlahnya hanya ada sekitar 27 amplop. Saya buka satu persatu dan menghitungnya. Saya kaget..Subhanallah..masyaAllah,.isinya diluar dugaan sama sekali. Sangat..sangat besar dalam hitungan berapa jam saja. Iseng saya tanya pada teman saya : " Nah..kita-kita orang kedutaan (bapak2/ibu maksud saya), kapan nyumbangnya?" " Wah,,..kita semua katanya sudah sepakat dipotong gaji", jawab teman saya. " Oh..baguslah kalau begitu, saya timpali. masak iya,.kita cuman mengumpuli doank, sementara kitanya sendiri ngak ada nyumbang, kan ngak harmonis, serta ngak simetris tuh,.kalau dihitung-hitung dalam menata ruangan?" ( sambil becanda saya mencoba menggelitik hati nurani diri sendiri juga teman-teman sejawat disekeliling saya sendiri. Sebelum sampai dirumah, kami sempat ngobrol2 di mesjid bersama ibu-ibu juga mahasiswa/guru2 lainnya mengenai berita di Media massa tentang sumbangan LN ke Indo akibat Tsunami ini. Ada yang saya sampaikan pada mereka : 1 ). Inilah hikmahnya bagi keluarga yang ditinggalkan korban.Juga bagi kita yang masih yang hidup bagaimana solidaritas kita sesama ummat dan bangsa sendiri. 2).Ini ujian juga bagi pemegang dana besar dari sumbangan LN dan DN tersebut, apakah benar-benar disalurkan pada yang berhak, tanpa "memakannya", sedikitpun ataupun memutar kan kesana-kemari dengan tujuan kepentingan bank saku(kantong sendiri). Bagi mereka yang punya rasa takut pada Allah dan keimanan. Tak akan mungkin menyalahgunakan amanah tersebut, dan tak akan mungkin memakan harta anak yatim piatu, fakir miskin, orang melarat dan hak yang lainnya. Karena berat siksaannya diakhirat kelak, yang mana bila ia memakannya, maka kelak diakhirat harta haram itu akan menjadi kayu baginya dineraka.Juga dosa tak menunaikan amanah (berlipat jadi dosanya). 3 ). Mengenai bantuan. nah..ini nih..dianya..media massa sangat berperanan dalam hal ini. Ada orang yang menyumbang tenaga, duit dengan gratis(BUKAN PINJAMAN), LEBIH BANYAK DIDIAMKAN, sementara negara yang memberikan bantuan dengan berupa pinjaman lunak, dekspose besar-besaran, padahal itu hanya berupa janji, entah kapan terealisasikannya dan juga bukan gratis, tapi pinjaman( jadi bukan bantuan, tapi HUTANG, ALIAS MENAMBAH HUTANG).digembor-gemborkan sedemikian rupa. Saya berfikir. begitu sekalikah didikan negara (Kapitalis kek, komunis kek, Eropah kek, Barat kek, atau apapun namanya), yang pasti dalam islam ngak ada hal semacam itu. Kalau mau bantu..yah bantu. Kasih duit tunai, atau barang tunai. Bayarkan langsung dan tanpa embel2 pinjaman, atau hutang yang mana dalam waktu tempo berapa tahun harus dikembalikan lagi. Malah diperparah dengan BUNGA. Ini..mah..bukan ngebantu,..malah menambah beban hutang. Seharusnya Indonesia berprinsip. Janganlah membawa beban segala isi bumi ini diatas kepalanya yang kecil itu. Kondisinya sama dengan meletakkan bola bumi diatas kepala kita yang sekecil itu, kebawa kagak..? malah kepala jadi gepeng dan penyet, alias temannya benyok..? (inilah yang kepikir oleh saya yang punya pikiran lugu dan bodoh ini). Dan seharusnya Indonesia menerima bantuan tunai, yang berupa gratisan saja, dan tak menerima yang katanya BANTUAN itu, padahal Hutang. Ini mah,..kue bolu yang gosong, atau bantet, dihiasi dengan adonan gula tambah mentega yang dihaluskan( bentuk kayak kue tart itu lho).Luarnya kelihatan cantik, karena kemasan dan hiasannya menarik, tapi rasa dalam nya bantet, dan kesat itu. Kalau dalam RT, prinsip saya dalam mengatur keuangan. 1). Tidak mau besar pasak dari tiang. 2). Anti meminjam atau berhutang, kecuali kalau benar-benar terpaksa sekali. Apa boleh buat. Tapi diusahakan hutangnya dalam kadar yang kira-kira kita mampu dalam waktu singkat membayarnya kembali. 3). Ngak mau berfoya-foya, dan belanja yang tak bermanfaat sama sekali. 4), Ngak mau pembelian dalam bentuk kredit, lebih baik nahan diri, ketimbang menghutang. Apalah waktu setahun dua tahun, lebih baik sabar menunggu sampai duit terkumpul ketimbang pembayaran kredit yang akhirnya jumlah harganya bisa dua kali lipat. Hitungan saya malah merugikan hanya karena kurang sabar saja. Jadi saya berprinsip, biar sabar menahan diri, ketimbang rugi bayar dua kali lipat kelaknya walau dengan kredit pembayaran. Dan point no 4 ini sedikit sulit diterapkan dalam hal mengatur suatu negara yang besar. Jalan satu-satunya bagi bangsa kita adalah dengan hidup hemat, kurangi hobby menghutang dan jauhi gaya hidup mewah dan berfoya-foya. Maaf,.saya ngak berani menyebutkan negara masing-masing penyumbang baik yang berupa hibah, gratisan, ataupun hutang dalam bentuk lunak. Namun dalam hal ini, bukan maksud apa-apa. Hanya saya cukup salut pada negara Jepang, juga negara Timteng, terutama Mesir, Arab Saudi, setahu saya secara jelas(Mesir) saya lihat sendiri mereka menyumbang beneran. Berton-ton obatan, makanan,pakaian, duit, mereka sumbangkan langsung ke Indonesia lewat perwakilan-perwakilan(kedutaan)setempat. Dan saya juga salut dengan Jepang yang memberikan bantuan gratis juga kelonggaran pinjaman juga hutang lunak ini. Tapi sebaiknya saya rasa untuk saat ini, terima aja yang gratis serta pelonggaran hutang, tolak aja dulu yang hutang lunak itu. Ntar tambah banyak Hutang negara kita. Dengan apa kita bayar kelak..? ( maaf saya ngak menyebutkan jumlah data uangnya , karena saya yakin jumlahnya akan berubah-ubah dan bisa kita baca di media internet). Ini aja cerita ringan (sebenarnya banyak sih yang mau diungkapkan dalam masalah bantuan LN dan DN ini, tapi cukup yang sederhana saja)dan biasa aja, menjelang magrib di Kairo. Mohon maaf,.ini cuman iseng-iseng menggelitik hati nurani kita saja, termasuk pribadi saya sendiri tentunya. Wassalam. Rahima Sikumbang Sarmadi __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

