Assl. WW Ini berita positif dari milis tetangga. Nggak tahu kok masuk ke inbox saya Mudahan bermanfaat.
Wass. WW Darul ----- Original Message ----- From: "job palar" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]>; "batuhidup" <[EMAIL PROTECTED]>; "Diskusi e-BinaGuru" <[EMAIL PROTECTED]>; "lowongankristen" <[EMAIL PROTECTED]>; "METAMORPHE" <[EMAIL PROTECTED]>; "pemudakristiani" <[EMAIL PROTECTED]>; "perkantas" <[EMAIL PROTECTED]>; "sahabatkristen" <[EMAIL PROTECTED]>; "terangduniamail" <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Monday, January 17, 2005 8:40 AM Subject: [Metamorphe] Spiritualitas Tsunami--SH, 15 Jan 2005 > > > Spiritualitas Tsunami > > SINAR HARAPAN, Sabtu, 15 Januari 2005 > > BANDA ACEH - Gempa dan gelombang tsunami yang > meluluhlantakkan Aceh, Sumatera Utara, dan Nias > menyisakan trauma pada diri setiap korban, tapi > sekaligus juga jejak spritualitas. Masjid Raya > Baiturrahman dan Gereja Katolik Hati Kudus yang masih > berdiri kokoh di tengah bangunan di sekitarnya yang > tinggal puing, menjadi pengalaman iman tersendiri pada > diri para penganut agama samawi. > Masjid Raya Baiturrahman terletak di tengah-tengah > Kota Banda Aceh yang seperti terpanggang dihajar > tsunami pada Minggu (26/12) itu. Sementara Gereja > Katolik Hati Kudus yang berjarak 100 meter dari Masjid > Baiturrahman terletak hanya 10 meter dari Sungai > Krueng Aceh, sungai yang membelah Kota Banda Aceh dan > membawa air ke darat pada saat gelombang tsunami > menerjang. > Satu kilometer dari Gereja Katolik Hati Kudus, > sejumlah gereja lainnya juga seperti tak tersentuh > tsunami, yakni Gereja Protestan Indonesia bagian Barat > (GPIB), Gereja Katolik Methodis dan Gereja Huria > Kristen Batak Protestan (HKBP). Sebuah bangunan > kelenteng yang berjarak sekitar 500 meter dari Gereja > Hati Kudus, juga masih utuh. > Menariknya, keutuhan rumah ibadah ini tak hanya > terjadi di tengah kota, tapi juga hingga sepanjang > jalan-jalan kecil dan perkampungan di pinggir kota > Banda Aceh. Masjid Rahmatillah adalah satu-satunya > bangunan yang masih tegak berdiri di tengah reruntuhan > bangunan lain di Lampuuk, Kecamatan Lhok Nga, Aceh > Besar. > Masjid tersebut tampak kokoh terlihat dari Jalan Raya > Banda Aceh-Meulaboh yang berjarak sekitar 3 km dari > lokasi. Salah satu bagian fondasi masjid tersebut > memang runtuh dan menyisakan lubang sedalam satu > meter. Namun pilar-pilar masjid masih bisa menahan > bangunan tersebut tidak ambruk. Plafon dan tiga kubah > masjid masih dalam kondisi utuh. > Orang boleh berpendapat bahwa kokohnya rumah ibadah > karena kualitas bahan bangunannya yang bagus. Namun, > orang juga berhak menerjemahkan kenyataan ini sebagai > sebuah penanda, sebagai pengingat-ingat terhadap hidup > yang telanjur berjalan arogan. Setiap orang mendadak > menjadi kaya secara spiritualitas. > > Pertolongan > Bagi warga Lampuuk yang mengungsi di kampung Lamlhom, > kekayaan batin ini seolah lengkap saat belasan orang > dengan wajah bule mendatangi kampung tersebut, > memberikan bantuan logistik dan obat-obatan tanpa > imbalan, bahkan memberikan perhatian dengan ketulusan > tak tergambarkan. > Daud (73), salah satu pengungsi dari Lampuuk, mencoba > menggambarkan ketulusan ini lewat cerita tentang kaki. > Beberapa warga Lampuuk yang selamat dari gulungan > gelombang tsunami banyak yang mengalami luka parah di > sekujur tubuh dan kaki. Empasan gelombang membuat > tubuh mereka terbentur berbagai puing dan reruntuhan. > Beberapa orang yang memiliki sedikit pengalaman > keperawatan mencoba mengobati luka ini dengan > perlengkapan sekadarnya pada hari pertama saat bencana > itu melanda. Akibatnya, bukannya sembuh, sejumlah luka > yang mayoritas terdapat pada kaki tersebut justru > bengkak dan bernanah karena tak dibersihkan sempurna > saat dilakukan pengobatan. > Penyelamat dari sejumlah kaki infeksi ini adalah para > dokter dan perawat berwajah bule itu. Para lelaki yang > tak bisa mengucapkan Assalamualaikum dan para > perempuan yang tak mengenakan jilbab. > Kaki-kaki bernanah tersebut dipegang dengan tangan > mereka dan diletakkan di atas pangkuan. Mereka > melakukan pengobatan dengan hati-hati dan sama sekali > tak menunjukkan rasa jijik. Sementara itu, menurut > cerita Daud, para dokter berwajah Melayu terkesan > jijik dengan luka-luka tersebut dan menyuruh para > pasien meletakkan kaki-kaki penuh luka tersebut di > atas kursi sebelum memberikan obat kemudian. > Para relawan berwajah bule itu pula yang berkunjung > rutin ke posko pengungsian Lamlhom yang berjarak 3 km > dari Jalan Raya Banda Aceh-Meulaboh. Mereka datang > dengan bantuan pangan dan obat-obatan, mengucapkan > "Apa kabar" dan "Selamat Pagi" dengan bahasa Indonesia > yang patah, menebar senyum ramah dan menyapa para > pengungsi dengan nama. Nada saat melontarkan sapaan > pun terasa hangat. > "Kami malu, mengapa justru mereka yang beda ras dan > agama yang memperhatikan kami," kata Daud. > Tiga hari setelah bencana terjadi, bantuan pertama > yang datang ke desa tersebut berasal dari Yayasan Obor > Berkat Indonesia, sebuah yayasan Kristen, padahal > akses jalan ke wilayah ini cukup sulit untuk ditempuh. > > Raihal (23), salah satu warga di Lamlhom yang turut > membantu para pengungsi mengatakan kedatangan yayasan > tersebut sangat membantu mengobati para pengungsi yang > terluka. > > Tak Berbatas > Negeri Serambi Mekkah ini, pascatsunami, mendadak > dipenuhi dengan orang yang memiliki ras, suku, dan > agama yang berbeda. Bantuan yang datang ke provinsi > berbasis syariah Islam ini, tak hanya datang dari > wilayah di sekitar Indonesia, tapi dunia. > Amerika Serikat, Australia, Singapura, Malaysia, > Korea, Jepang, Prancis, Belanda, Yordania, Portugal, > membanjiri provinsi tersebut dengan bantuan logistik, > obat-obatan, peralatan transportasi, tenaga ahli, dan > sejumlah relawan medis. > Bantuan kemanusiaan pada akhirnya memang tak bisa > dibatasi oleh ideologi, negara, suku, maupun ras. > Bantuan semacam itu muncul berdasarkan solidaritas > antarmanusia. Sebuah perasaan senasib dan > sepenanggungan yang dirasakan semua orang sebagai > tanggung jawab kemanusiaan mereka, tanpa embel-embel > "baju" yang mereka kenakan. > Jika kemudian solidaritas kemanusiaan ini dibumbui > dengan pesan-pesan di luar kemanusiaan itu sendiri, > politis maupun ideologis, maka yang muncul adalah > manipulasi. > Di pekan pertama pascabencana, sempat beredar kabar > bahwa terjadi tindak diskriminatif terhadap pengungsi > yang berasal dari etnis Tionghoa dan beragama > non-Islam. Namun, kabar ini dibantah oleh Ketua Umum > Perhimpunan Indonesia-Tionghoa (Inti) Eddy Lembong. > Menurutnya, suasana Aceh pascatsunami mirip dengan > kondisi pascaperang dunia kedua. Semua serba tak > teratur dan chaos. Jika ada orang yang meminta uang Rp > 600.000 untuk menguburkan seorang warga Tionghoa yang > menjadi korban tsunami, itu lebih didasari pada > kebutuhannya terhadap uang tersebut, bukan tindak > pemerasan terhadap warga Tionghoa. > Pengamatan di lapangan juga menunjukkan bahwa apa yang > disebut penjarahan adalah ulah penduduk yang memungut > barang-barang yang masih bisa digunakan di antara > puing rumah dan bangunan yang runtuh. Sejumlah > pertokoan yang mayoritas milik warga Tionghoa juga > turut kena jarah. > Menyaksikan Kota Aceh yang hancur lebur dan warga yang > mendadak menjadi kaum marginal, tanpa rumah dan tanpa > uang satu sen pun, tindak penjarahan ini tak bisa > dihakimi lewat ukuran moralitas, apalagi mengaitkannya > dengan masalah rasialis dan diskriminasi ideologis. > Gempa berkekuatan 8,9 skala richter dan gelombang > tsunami berkecepatan 800 km/jam yang menggulung > kawasan Aceh tiga pekan lalu, selain meninggalkan > duka, juga melahirkan sebuah spiritualitas baru bagi > warga Aceh tentang kemanusiaan dalam arti yang > sesungguhnya, tentang solidaritas yang tak mengenal > batas agama, suku, ras, maupun golongan. (SH/fransisca > ria susanti) > > > > > > > > > > > > > ===== > Bappa cami, nang ada di langit namma mou jadi pondjy, Alammou datang pada cami, candjatimou jadi bagitou di dunja begimanna di surga > Redjyci cami derri sahari hari, bri hari ini pada cami lalu ampon pada cami, dosa cami, bagimana kita ampon capada siappa salla pada cami. > Jangan bri pada cami bertsjaba, pon lepascan cami derri djagat, carna alam daan cauwassa dan berbesaran tondo Tuan punnja sampey cacal. Amen > > Doa Bapa Kami dalam bahasa Melayu, seperti digunakan dalam gereja-gereja di Batavia, 1629 > > > > > __________________________________ > Do you Yahoo!? > Yahoo! Mail - You care about security. So do we. > http://promotions.yahoo.com/new_mail > > > > > > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> > What would our lives be like without music, dance, and theater? > Donate or volunteer in the arts today at Network for Good! > http://us.click.yahoo.com/WwRTUD/SOnJAA/i1hLAA/RPNplB/TM > --------------------------------------------------------------------~-> > > Injil Untuk Semua Bangsa > METAMORPHE Pengkabaran Injil via Internet > ===="Jadikan semua bangsa muridKU" (Mat 28:19)==== > Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini. Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan > yang baik diantara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus. Fil 1:5 > Yahoo! Groups Links > > <*> To visit your group on the web, go to: > http://groups.yahoo.com/group/METAMORPHE/ > > <*> To unsubscribe from this group, send an email to: > [EMAIL PROTECTED] > > <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: > http://docs.yahoo.com/info/terms/ > > > > > ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

