Khutbah Wukuf Arafah
Oleh: Abdullah Gymnastiar 

Saudara-saudaraku sekalian,
Ada satu tanggung jawab besar yaitu keluarga kita. Kita kadang merasa bahwa 
hidup ini hanya untuk mengejar ambisi dan keinginan. Sampai sejauh mana 
tanggung jawab kepada ibu dan bapak kita? Ada orang yang sedemikian sibuknya 
sekolah, sesudah sekolah dia menikah dan mengurus rumah tangga. 

Sesudah mengurus rumah tangga dia sibuk dengan karir dan bisnisnya. Sampai dia 
tidak sadar orang tuanya kian keriput, kian tua dan kian rapuh. Tidak sempat 
memberikan senyum atau salam kepada ibu bapaknya. Dia baru tersadar ketika 
orang tuanya terbungkus kain kafan. Berapa banyak belaian orang tua kepada kita 
sewaktu kita kecil, tetapi berapa banyak kita mengecup tangannya? Kita hampir 
tidak punya waktu, tiba-tiba tersadar ketika orang tua kita telah terbujur 
kaku. 

Wahai saudara-saudaraku, seorang haji yang mabrur adalah haji yang 
bertanggungjawab kepada ibu bapaknya. Bagaimana mungkin anak-anak kita akan 
memuliakan kita kalau kita durhaka kepada orang tua. Tidak ingatkah dalam waktu 
9 bulan kita menghisap darah ibu, dan keluar kita menyimbahkan darahnya. 

Dua tahun kita menghisap air susunya. Ayah membanting tulang memeras keringat, 
berhutang kiri kanan agar kita bisa tumbuh menjadi bayi yang sehat, anak yang 
cerdas. Tetapi ketika kita sudah besar, melirikpun jarang. Bersilaturahmi tidak 
ada waktu. Apa saja balas budi kita terhadap orang yang paling berjasa kepada 
kita? 

Tidak rindukah kita melihat ibu bapak kita tersenyum disurga kelak? Apa yang 
kita lakukan untuk memuliakannya? Saudaraku, mari kita menjadi anak yang 
berjuang dibarisan terdepan untuk membahagiakan ibu bapak kita, sekalipun tidak 
akan terbayar pengorbanan mereka. 

Kemudian, lihat tanggung jawab kepada keluarga kita. Ada orang yang begitu 
sibuk bekerja sehingga dia tidak sadar anaknya sudah tumbuh besar. Tidak punya 
waktu untuk bercengkerama. Tidak ada waktu untuk membelai kepala anaknya. 
Sibuk. 

Anak kita tumbuh besar tetapi tidak tahu mau kemana arah hidupnya. Tiba-tiba 
dia menjadi orang yang tersesat, mencoreng aib bagi keluarganya. Betapa tidak 
bertanggung jawabnya kita sebagai orang tua kalau tidak mengantar anak-anak 
kita mengenal arti hidup, tidak kita persiapkan mereka menjadi ahli surga. 

Kesuksesan bukan berarti menjadi kaya, bukan berarti karir menjulang tinggi 
dikantor atau perusahaan kita, sedangkan anak-anak kita tidak merasa punya 
ayah, tidak merasa punya ibu. Kita jarang bertemu, kita jarang menyapa apalagi 
membelai, membuat mereka seperti tidak punya ayah. Bukan seperti itu kehidupan 
manusia mukmin yang baik. Kita harus adil. 

Setiap melihat anak-anak kita, pikirkanlah seperti apa masa depan mereka. 
Apakah mereka akan menjadi cahaya diakhirat, ataukah mereka terbenam kedalam 
jahanam? Naudzubillahimindzalik. Kita yang bertanggung jawab. Seorang haji yang 
mabrur, dia bertanggung jawab kepada keluarganya. Kita harus berbuat apa saja 
yang disukai Allah agar anak-anak kita dapat mengarungi hidup ini dengan benar. 

____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke