http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=152288
Selasa, 18 Jan 2005,

Kiprah Laskar FPI Mengevakuasi Mayat Korban Tsunami
Relawan Lain Angkat Tangan, Mereka Maju Terus

Laskar Front Pembela Islam (FPI) ikut berjibaku dengan berbagai kelompok
relawan "membersihkan" wilayah bekas sapuan tsunami. Mengapa hasil kerja
mereka begitu dipuji?
Ibnu Yunianto, Banda Aceh

Sulit melihat Habib Rizieq Shihab mengenakan jubah dan kafiyeh putihnya
selama hari-hari pascabencana gempa dan tsunami di Banda Aceh. Atribut
kebesaran panglima Laskar Front Pembela Islam itu telah setengah bulan ini
bersalin dengan kaus tipis dan celana lebar semata kaki. Bahkan, jabatan
panglima dia tinggalkan ketika pada hari-hari tertentu mendapat jatah masuk
menjadi anggota tim evakuator mayat.

Laskar FPI memang menjadi salah satu relawan evakuator mayat di ibu kota
NAD. Mereka termasuk kloter pertama yang masuk ke wilayah bencana itu.
Kelompok berseragam putih-putih tersebut langsung merapat ke Banda Aceh di
hari kedua selepas bencana dahsyat yang memakan korban ratusan ribu jiwa dan
meluluhlantakkan kota-kota di sepanjang pantai Aceh.

"Emang ente pikir Laskar FPI hanya bisa merusak bar. Kami juga punya
organisasi penanggulangan pascabencana," ujar Habib Rizieq ketika ditanya
motivasinya terjun ke Aceh.
Apa yang diucapkan Habib bukan terbukti di bibir semata. Mereka salah satu
kelompok relawan yang dikenal sebagai pekerja keras dan sanggup mengevakuasi
mayat di daerah-daerah sulit ketika kelompok relawan lain sudah angkat
tangan. Tak hanya itu, mereka juga pintar mengambil hati orang Aceh.

Cerita tentang FPI sebagai laskar supernekat dan pemberani -karena mampu
mengevakuasi mayat di semua medan- begitu populer di kalangan relawan dan
rakyat Aceh. Salah satu keberanian yang patut diancungi jempol adalah hanya
FPI yang berani menyentuh kawasan Syiah Kuala.
Kawasan di pinggiran Universitas Syiah Kuala dan makam raja-raja Aceh itu
memang menjadi momok karena lokasinya berawa-rawa. Di situ, banyak paku
bekas rumah yang telah berkarat. Ular ada di mana-mana. Wilayah ini juga
terkenal karena banyak mayat yang sudah sangat membusuk dan anggota tubuhnya
tidak utuh karena terus-menerus terendam air.

"Bukan Ane bermaksud sombong, banyak relawan yang muntah-muntah begitu masuk
kawasan Syiah Kuala. Tapi, FPI berhasil membersihkan mayat-mayat di daerah
itu. Sekitar 600 mayat sudah kami angkat dari sana selama 22 hari ini," kata
Riziek dengan bersemangat.
Ketua Pelaksana Operasi FPI Ja'far Sidiq menceritakan, untuk membersihkan
kawasan bekas padat penduduk itu, Laskar FPI memulainya dengan menyiapkan
"peralatan perang" yang lengkap. Misalnya, masker standar TNI, sarung
tangan, dan ratusan pasang sepatu bot. Untuk mendapatkan "perlengkapan" itu,
mereka mengetuk pintu beberapa instansi.

Setelah itu, mereka menyiapkan kamp relawan di Taman Makam Pahlawan. Kawasan
elite itu mereka sulap menjadi kamp relawan dengan dapur umum 24 jam, kamar
mandi, dan tempat sanitasi terbaik di antara kamp relawan lainnya.
Kamp itu juga dilengkapi dengan tempat untuk mencuci anggota tubuh relawan
dan alat perlengkapan evakuasi dengan cairan kimia khusus. Kamp tersebut
diberlakukan sebagai daerah bebas rokok dan daerah wajib berbusana muslim.
Bahkan, setiap pekan anggota FPI juga wajib disuntik tetanus dan malaria
karena tingginya risiko bekerja di rawa-rawa yang penuh puing-puing
bangunan.

Mereka juga membagi sekitar 1.200 anggota laskar -yang jadi sukarelawan di
Aceh- menjadi empat tim, yaitu tim pengendus mayat, evakuator mayat, serta
tim salat jenazah dan tim logistik. Tim pengendus bertugas mencari mayat di
antara tumpukan puing. Tim evakuasi menggali puing untuk mencari mayat. Tim
penyalat jenazah khusus menyalatkan setiap jenazah yang ditemukan, sementara
tim logistik mengurus konsumsi relawan.
"Dengan begitu, tim logistik dan tim salat jenazah tidak menyentuh mayat
sehingga kebersihan makanan dan kesucian anggota tim penyalat jenazah selalu
terjaga," kata Ja'far.

Di daerah kos-kosan mahasiswa itu, anggota Laskar FPI juga kerap menemukan
keanehan-keanehan. Di antaranya, Sabtu lalu, mereka menemukan tubuh utuh
seorang ibu muda yang tengah hamil tua. Mayat tersebut utuh, kulitnya masih
segar, dan sama sekali tidak berbau, meski 21 hari terendam air.

Namun, hanya berselang satu meter, ada jenazah yang tidak utuh organ
tubuhnya serta sangat berbau. "Apa maknanya, saya kira Allah hendak
menunjukkan kekuasaannya," jelas Habib.

Karena nama besarnya dalam urusan evakuasi mayat, Laskar FPI juga kerap
dimintai tolong untuk mengevakuasi mayat di daerah konflik. Di kawasan
Lhoknga, sekitar 20 kilometer dari Banda Aceh, FPI bahkan dihubungi langsung
panglima GAM wilayah itu untuk mengurus jenazah di sana. "Ada ratusan mayat
yang sempat terbengkalai di daerah tersebut. Soalnya, GAM takut ditembak TNI
kalau dia keluar untuk mengurus mayat, sementara TNI juga nggak mau ditembak
GAM. Karena itu, FPI yang diminta turun," kata Ja'far.

Kini FPI juga mulai menyentuh reruntuhan Pasar Atjeh, kawasan pertokoan
tepat di belakang Masjid Baiturahman, Banda Aceh. Di kawasan yang terkenal
karena ada rekaman video yang mengabadikan datangnya tsunami di kawasan itu,
ratusan jenazah diperkirakan masih tertimbun tumpukan puing dan barang
dagangan. Bau busuk menyengat begitu memasuki kawasan yang hanya berjarak
300 meter dari Meuligae (Pendapa) Nanggroe Aceh Darussalam, kompleks kantor
gubernur NAD yang juga Posko Satkorlak PBA NAD tersebut.
"Dari pukul 09.00 hingga duhur, sudah 48 mayat kami temukan. Entah berapa
lagi yang tersisa. Mayat seakan tidak ada habisnya," tambah Habib.

FPI kini masih kesulitan mengangkut jenazah ke tempat pemakaman masal di
daerah Lambaro, Aceh Besar. Mereka hanya mengandalkan angkutan milik TNI dan
Dinas PU yang tidak seberapa banyak. Padahal, sekitar 100 mayat per hari
ditemukan oleh laskar, yang di Jakarta gemar menghunus pedang dan golok di
kelab malam itu.
Lantas, apa rahasia sehingga dalam 23 hari hanya 6 orang anggota laskar yang
pulang ke daerah masing-masing? "Kontrak kami ke Aceh adalah bebas pergi
kapan saja, tapi jangan harapkan uang saku untuk pulang. Kami ke sini tidak
ada yang bayari, jadi tidak ada yang kami beri uang saku untuk pulang. Kalau
mereka bisa pulang sendiri, silakan. Akibatnya, hanya enam orang saja yang
pulang," jelasnya sambil terkekeh. (*)


____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke