Berikut kiriman berita dari teman Anda yang beralamat di:
[EMAIL PROTECTED]
----------------------------------------

Kamis, 20 Januari 2005 12:33 WIB

Staf Garuda Manfaatkan Kesempitan di Aceh



BANDA ACEH--MIOL: Staf perusahaan penerbangan nasional Garuda Indonesia
dikecam karena dinilai telah memanfaatkan kesempitan rakyat Aceh dengan
mempermainkan status kursi penumpang.

Sejumlah saksi mata di Bandara Sultan Iskandar Muda seperti dilaporkan
wartawan Antara, Kamis, menyatakan mereka melihat staf Garuda bisa
memberikan kursi kepada calon penumpang dalam daftar tunggu (waiting
list) asal bisa membayar Rp400.000 di luar harga tiket yang sudah
dibayarkan sebelumnya.

Di tengah upaya semua pihak untuk membantu dan meringankan beban
penderitaan rakyat Aceh, Garuda memberlakukan harga tikket penuh (tanpa
diskon) untuk sekali jalan ke Jakarta Rp1,05 juta.

"Bahkan ketika penumpang sudah siap menaiki pesawat, yang resminya kursi
sudah penuh, ada staf Garuda yang menawarkan tiket dengan harga penuh
secara terbuka," kata Mulyono, seorang calon penumpang asal Jakarta yang
sudah sejak sehari sebelumnya "berhasil" masuk daftar tunggu untuk
penerbangan GA-191 hari Rabu.

Sejak permintaan kursi menjadi tinggi, Garuda -- yang hanya bersama
dengan perusahaan penerbangan swasta Jatayu Air memonopoli pelayanan
penerbangan terjadwal-- menggunakan pesawat berbadan lebar DC-10 untuk
penerbangan GA-191 yang berangkat pukul 11.30 dan Boeing 737-300 untuk
GA-193 berangkat pukul 14.00.

DC-10, yang dimiliki Garuda sejak awal 1980-an, berkapasitas berkisar
275 penumpang, dengan 70 persen di antaranya kelas ekonomi. Sedangkan
Boeing 737-300 berkapasitas hanya 120 penumpang, sekitar 100 kursi di
antaranya kelas ekonomi.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Provinsi NAD, Adnan NS,
menyesalkan tindakan oknum pihak Garuda yang memanfaatkan musibah dan
derita masyarakat Aceh dengan mengambil keuntungan-keuntungan tanpa
pertimbangan moral seperti itu.

"Saya sangat sesalkan ulah oknum-oknum di perusahaan penerbangan
nasional itu," tegasnya.

Ia minta agar staf Garuda tidak mengeksploitasi penderitaan masyarakat
Aceh yang sedang dilanda musibah bencana gempa bumi dan tsunami.

Sejak bencana terjadi pada 26 Desember 2004 banyak orang Aceh yang
berpergian ke luar daerah dan sebaliknya orang banyak datang untuk
membantu meringankan beban masyarakat Aceh.

"Tidak pada tempatnya situasi ini dimanfaatkan orang-orang yang tidak
bermoral. Masyarakat Aceh sudah cukup menderita, jangan memperpanjang
penderitaan rakyat," katanya.

Ia meminta Garuda berperan aktif untuk membantu meringankan beban
masyarakat Aceh. Apalagi, lanjut Adnan NS, Garuda memiliki ikatan moral
dengan masyarakat Aceh.

"Masyarakat Aceh memiliki andil besar dalam melahirkan perusahaan
penerbangan Garuda Indonesia tahun 1949. Dari uang rakyat Aceh, Garuda
mempunyai dua unit pesawat sebagai modal pertama perusahaan penerbangan
nasional itu," katanya.

Setelah bencana melanda, kantor Garuda di Banda Aceh, baik staf niaganya
di Jl. Tengku Daud Beureueh di tengah kota Banda Aceh, maupun manajer
dan staf lalulintasnya di Bandara Sultan Iskandar Muda diisi oleh
personil-personil kiriman Jakarta.

Mereka menggantikan sementara para manajer dan staf setempat tewas atau
dalam status hilang terlanda bencana, sehingga tinggal 20 persen saja
staf perusahaan ini yang berasal dari manajemen sebelum bencana.


----------------------------------------
Sumber: Media Indonesia Online
<http://www.mediaindo.co.id/berita.asp?Id=56343> 

Copyright � 2005 Media Indonesia Online. All rights reserved 
____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke