Sejak tahun 1995 Garuda sudah merencanakan tuk swastanisasi namun itu tidak
mudah karena perlu persetujuan dari legislatif dan eksekutif.
Menurut saya bukan bentuk dari organisasi yang kita permaslahkan agar BUMN
dapat maju, yang penting intervensi dari pemerintah maupun legislatif yang
harus dikurangi.
Maskapai penerbangan di dunia adalah BUMN tapi banyak dari mereka bisa
berkembang dengan baik, itu disebabkan karena pemerintah masing2
intervensinya tidak sebesar seperti di Indonesia.
Mengenai brand,vision dan mission dari Garuda sudah cukup baik bagi saya dan
beberapa pakar marketing bussiness.
Masalahnya di Garuda adalah SDM, yaitu tuk jadi dewan komisaris dan direksi
Garuda penuh dengan politisasi kepentingan dan memakan biaya yg tidak
sedikit, bukan berdasarkan kinerja SDM tersebut, begitu sistem promosi di
dalam tubuh Garuda terpengaruh dari itu.
Oleh karenanya BUMN seperti Garuda atau Merpati memerlukan orang yang bukan
hanya ahli di bidang keuangan, juga SDM dan Pelayanan, dan orang yang tegas,
bermoral.
Saya sangat senang waktu Robby Johan menjadi Dirut. Garuda karena orang
seperti itu yg bisa memperbaiki kinerja keuangan,SDM dan Pelayanan tapi
sayang beliau hanya beberapa bulan lalu digantikan sang flamboyan Abd. Gani
yang hanya dapat menyehatkan keuangan.
Dari beberapa nama yg menjadi issue tuk menjadi Dirut. Garuda ada satu nama
yang cukup setara kualitasnya dengan Robby Johan, saat ini beliau mengabdi
di Bank BNI 46, dan keberhasilan beliau telah teruji dengan menaikkan
kinerja keuangan,SDM dan Pelayanan Bank Danamon.
Kalau orang dalam, saya meragukan tuk menjadi orang nomor satu di Garuda.
HRM. Jambak
Ex Ketua SEKARGA dan Sekjend.IKAGI
Jl. Nipah III No. 2 Petogogan Jakarta 12170
-----Original Message-----
Message: 6
Date: Wed, 09 Feb 2005 08:14:18 +0700
From: "M. Syahreza" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] 'Orang Dalam' Diprioritaskan Pimpin BUMN
Penerbangan
To: [EMAIL PROTECTED], Palanta RantauNet
<[email protected]>
Message-ID: <[EMAIL PROTECTED]>
Content-Type: text/plain; charset=us-ascii
Assalamu'alaikum wr.wb.
Memang trendnya BUMN untuk memperkaya pejabat teras dan oknum yang punya
kepentingan lainnya. Toh mereka juga rakyat, bukannya dalam pasal...(maaf
lupa) UUD 45 dikatakan bahwa "....(SDA) milik negara dan digunakan
sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat"...he...he...jadi mereka
mensamarkan makna pasal ini.
Banyak tools dalam manajemen yang bisa dipakai untuk improvement. Di Garuda
pun banyak yang udah bergelar Doktor, Master dan gelar lainnya yang diakui
kapabilitasnya. Cuma saja implementasi dari tools dalam manajemen itu yang
selalu dibelokkan. Karena budaya orang Indonesia kebanyakan tidak mau
komitmen
dengan apa yang disepakati bersama selama kesepakatan itu banyak merugikan
kepentingan pribadinya. Jadi hasil pelajaran PMP (Pendidikan Moral
Pancasila)
dari SD sampai SMA ditambah mata kuliah Kewiraan dan Pancasila waktu di
Universitas, ditambah Penataran P4 bagi Pegawai Negri aadalah NOL BESAR
karena
banyak pejabat yang ndak mengaplikasikan butir Pancasila dalam kehidupannya.
Alias ndak bermoral atau jadi Tikus bagi bangsa Indonesia ini. Salah dan
Dosa
siapa ini????????
Ambo pun setuju bana kalau semua BUMN itu diSWASTANISASIKAN saja. Biar
kinerja dan produktivitas karyawan BUMN yang rada nyantai itu bisa lebih
ditingkatkan lagi. Sehingga income-nya bisa lebih ditingkatkan lagi.
wassalam
Reza
------------------------------
Message: 10
Date: Wed, 9 Feb 2005 10:03:30 +0700
From: "Zulfikri" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] 'Orang Dalam' Diprioritaskan Pimpin BUMN
Penerbangan
To: "Palanta RantauNet" <[email protected]>
Message-ID: <[EMAIL PROTECTED]>
Content-Type: text/plain; charset="iso-8859-1"
Assalamulaikum, ww
Sato manyolo sakatek.
Sasuai bana pandapek ambo jo pandapek sanak Reza, Sawtanisasikan sajo BUMN
ko tapi jan dijua pulo kalua nagari, hee... heeee...
Kamudian..., adopun doktrinisasi P4 yang dilakukan di orde sabalunko (ORBA),
materi dan isi tataran tu sangat baik dan sasuai bana jo moral etika bangsa
kito bahkan jo Agamo Islam, cuma nan indak barasil tu adolah aplikasinyo
atau implementasinyo dilapangan, mungkin iko ado juo kaitannyo jo "SISTEM
PENDIDIKAN" nan salah di nagara awakko, Kalulusan atau pambarian
sertifikatko baru dinyatakan atau diagiahkan sasudah diujikan dilapanagan
handaknyo sasudah penataran atau pendidikan, baik itu di masa kuliah atau
dimasa sudah jadi pejabat.
Sarupo pendidikan tradisionil nan alah dilakukan urang awak samaso dulunyo.
Contohnyo: Murid bisa dinyatokan luluih dan sudah tamat belajar silek (bela
diri) apobilo inyo luluih ujian nan dilakukan oleh gurunyo dan
kawan-kawannyo dengan waktu nan indak diduga dilapangan, mungkin inyo sadang
bajalan malintesi rimbo atau pasawangan mako dijebak dan diserang,
seandainyo inyo dapek mempertahankan dirinyo mako inyo dinyatokan luluih dan
tamat dari pelatihan silek ko. Baru inyo buliah kalua dari perguruan dan pai
marantau. Baitu juo pendidikan seni ukia, murid langsung dibawa kelapangan
ka objek ukia maukia, apobilo seluruh urang nan mancaliak hasianyo kagum !
dan mengatokan rancak !, baru murikko dilapeh (tammat) pendidikan, baitu juo
pendidikan jahik-manjahik baju atau sirawa, muridko bisa dikatokan tamat
apobilo jahitannyo pas dan cocok dipakai oleh komsumen. Kalau pandidikan
inyiak Canduang, murid bisa diagiah ijazah apobilo inyo lah pandai mambaco
kutubah dan tingkah lakunyo alah sasuai pulo jo nan dikecekkannyo, (Bisa
sanak baca di arsip massages posting pak guruonline "Sejarah Pendidikan
Daerah Sumatera Barat (Minangkabau), nan insyaAllah di postingkan
ber-episode)
Jadi makasuiknyo, panataran dan pelatihan P4 untuk pajabaikko kan baru
teori, handaknyo sertifikat kelulusan baru diagiahkan apobilo luluih ujian
dilapangan mungkin di lingkungan karajonyo nan indak disangkonyo, umpamonyo
datang tamu menyamar untuk mintak proyek atau dll-nyo dengan di agiah uang
sogok-an, kalau ditarimonyo maka inyo dinyatakan indak luluih dan bahkan
dipecat dari jabatannyo, praktek lapangan ko indak diagiah tahu dan mungkin
akan berjalan umpamonyo 1 sd. 6 tahun (atau sampai ado formasi jabatan nan
labiah tinggi) sasudah inyo di tatar. Jadi manuruik ambo bukan materi
tataran dan kuliah P4 dll-tu nan salah, tapi sistem penilaian dan pambarian
sertifikat nan salah, sabab nan luluih tu kan baru hafalan !, bukan aplikasi
atau implementasinyo dilapangan, nan namonyo morah tantu ujiannyo adolah
lapangan (masyarakat), ya kan ?
Sakitu solo ambo nyo, banyak maaf wassalam, dan teriring ucapan kepada
dunsanak RN kasadonyo :
Selamaik Tahun Baru Islam 1 Muharram 1426 H.
Marilah kita tatap masa depan dengan penuh optimis dan dengan peningkatan
serta perbaikan dari segala aspek kegiatan duniawi dan ukhrowi kita kearah
yang lebih baik di bawah ridha Allah Swt. amiin !
Z. Rky. Mulie
----- Original Message -----
From: "M. Syahreza" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; "Palanta RantauNet"
<[email protected]>
Sent: Wednesday, February 09, 2005 8:14 AM
Subject: [EMAIL PROTECTED] 'Orang Dalam' Diprioritaskan Pimpin BUMN Penerbangan
> Assalamu'alaikum wr.wb.
> Memang trendnya BUMN untuk memperkaya pejabat teras dan oknum yang punya >
kepentingan lainnya. Toh mereka juga rakyat, bukannya dalam pasal...(maaf
lupa) UUD 45 dikatakan bahwa "....(SDA) milik negara dan digunakan
sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat"...he...he...jadi mereka
mensamarkan makna pasal ini.
> Banyak tools dalam manajemen yang bisa dipakai untuk improvement. Di
Garuda pun banyak yang udah bergelar Doktor, Master dan gelar lainnya yang
diakui
> kapabilitasnya. Cuma saja implementasi dari tools dalam manajemen itu yang
selalu dibelokkan. Karena budaya orang Indonesia kebanyakan tidak mau
komitmen dengan apa yang disepakati bersama selama kesepakatan itu banyak
merugikan kepentingan pribadinya. Jadi hasil pelajaran PMP (Pendidikan Moral
Pancasila) dari SD sampai SMA ditambah mata kuliah Kewiraan dan Pancasila
waktu di Universitas, ditambah Penataran P4 bagi Pegawai Negri aadalah NOL
BESAR
karena banyak pejabat yang ndak mengaplikasikan butir Pancasila dalam
kehidupannya. Alias ndak bermoral atau jadi Tikus bagi bangsa Indonesia ini.
Salah dan
Dosa siapa ini????????
> Ambo pun setuju bana kalau semua BUMN itu diSWASTANISASIKAN saja. Biar
kinerja dan produktivitas karyawan BUMN yang rada nyantai itu bisa lebih
> ditingkatkan lagi. Sehingga income-nya bisa lebih ditingkatkan lagi.
>
> wassalam
> Reza
------------------------------
Message: 12
Date: Tue, 8 Feb 2005 23:22:02 -0800 (PST)
From: zul amri <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] 'Orang Dalam' Diprioritaskan Pimpin BUMN
Penerbangan-->fwd : harmoni perusahaan .
To: Palanta RantauNet <[email protected]>
Message-ID: <[EMAIL PROTECTED]>
Content-Type: text/plain; charset=us-ascii
Takaik jo kondisi BUMN Penerbangan nan indak maju maju , barang kali
pandapek pakar berikut ini patut di paratikan nan tamuek di Jawapost hari
ini.
Rabu, 09 Feb 2005,
Energi Positif dalam Perusahaan
Oleh: Hermawan Kartajaya
Selama dasawarsa terakhir ini, terjadi begitu banyak kasus kehancuran
perusahaan yang menjadi perhatian publik dunia. Anda tentu masih ingat kasus
Enron dan WorldCom di AS, Ahold di Belanda, Vivendi di Prancis, HIH di
Australia, atau Cable & Wireless di Inggris. Perusahaan-perusahaan raksasa
tersebut, dalam sekejap saja, bisa mengalami kegagalan luar biasa.
Kenapa ini bisa terjadi?
Jawabannya adalah karena kurang bagusnya penerapan governance di
perusahaan-perusahaan itu. Sebelum kolaps, perusahaan sekelas Enron,
misalnya, merupakan panutan bagi orang luar karena terlihat sangat etis,
bertanggung jawab, dan terhormat. Tapi, kenyataan yang terjadi di dalam
ternyata sangat jauh berbeda dari image yang dibangun di luar.
Kecurangan-kecurangan dilakukan dengan gampang dan etika bisnis dilanggar
dengan mudah. Inilah yang memuluskan langkah-langkah perusahaan besar tadi
menuju gerbang kehancuran.
Nah, saya jadi teringat pada sebuah artikel yang pernah saya baca beberapa
tahun lalu di majalah Fortune. Judulnya: "When Good Firms Get Bad Chi". Isi
artikel itu sangat menggelitik. Dalam artikel tadi, diceritakan bahwa
sebagian orang akan setuju bahwa kurangnya governance menjadi penyebab
jatuhnya Enron. Tapi, tidak demikian dengan Meihwa Lin.
Apa penyebabnya?
Meihwa Lin ternyata adalah konsultan feng shui independen dari New York.
Menurut dia, Enron jatuh karena kurang harmoni dalam logonya. Bentuk dan
warna logo bisa mempengaruhi energi atau chi sebuah perusahaan. Logo Enron
adalah simbol ketidakseimbangan. Logo itu terlihat bisa jatuh kapan saja
sehingga memberikan energi negatif bagi Enron.
Feng shui yang jelek! Itu biang keladi jatuhnya Enron. Jika saja Enron
memikirkan feng shui dari logonya, mungkin perusahaan tersebut masih akan
jaya sampai sekarang. Jika saja logo tersebut ditambah kotak atau lingkaran
di sekelilingnya, mungkin peruntungannya akan berubah. Kotak yang
melambangkan bumi dan lingkaran yang melambangkan langit akan bisa menutup
ketidakstabilan logo tersebut. Itu pendapat Meihwa Lin dalam artikel
tersebut.
Jawaban yang menarik, bukan?
Bahkan, karena artikel itu, saya sampai mengingatkan kepada Brand Credence,
subsidiary dari MarkPlus&Co yang spesialis membantu perusahaan-perusahaan
dalam menyusun brand, termasuk merancang logo, untuk juga memperhatikan feng
shui. Jadi, selain maknanya, feng shui dari logo itu juga harus menjadi
perhatian tersendiri.
Nah, Anda tentu mengamati begitu banyak perusahaan yang membuat logo baru.
Terutama beberapa bank dan perusahaan telekomunikasi yang akhir-akhir ini
mengubah logo mereka. Anda pasti bertanya kenapa mesti diganti? Ada apa
dengan logo yang lama?
Perusahaan-perusahaan itu pasti punya jawaban masing-masing. Tetapi, menurut
saya, tujuan utama mereka adalah membawa kesegaran baru di dalam perusahaan.
Mereka ingin mengubah cara orang memandang mereka. Mereka mau menciptakan
image baru. Bukan hanya di mata pelanggan, tetapi yang lebih penting adalah
di mata karyawan. Bagaimana menciptakan suasana internal yang mendukung visi
perusahaan.
Ini, menurut saya, menjadi penerapan filosofi feng shui yang paling penting
dalam branding sebuah perusahaan. Orang mungkin hanya akan berpikir untuk
menggunakan feng shui dalam rangka melihat bagus tidaknya peruntungan logo
mereka. Padahal, esensi feng shui adalah bagaimana menciptakan energi
positif di dalam suatu lingkungan. Karena itu, inti filosofi feng shui untuk
branding perusahaan adalah bagaimana perusahaan menciptakan harmonisasi di
kalangan internalnya dalam rangka mendukung brand perusahaan itu sendiri.
Mary Jo Hatch and Majken Schultz, dalam salah satu artikel di Harvard
Business Review yang berjudul Are The Strategic Stars Aligned for Your
Corporate Brand?, mengingatkan kita bahwa membentuk brand perusahaan itu
tidak boleh main-main. Anda harus membangun harmonisasi tiga hal, yaitu
vision, image, dan culture.
Vision adalah apa yang Anda ingin capai dengan brand Anda. Sedangkan image
adalah bagaimana Anda ingin orang luar melihat Anda. Culture adalah
bagaimana cara Anda membuat karyawan mendukung brand Anda. Saya menyebutnya
selling the brand inside.
Menurut saya, culture adalah faktor yang sangat penting, tapi paling sering
dilupakan perusahaan. Ingat perusahaan-perusahaan raksasa seperti Enron yang
saya ceritakan di awal tadi? Lihat yang terjadi pada mereka. Image mereka
yang bagus di luar tidak didukung oleh culture yang bagus di dalam.
Saya setuju dengan Meihwa Lin bahwa kurangnya harmonisasi jadi sumber
kegagalan Enron. Tapi, bukan semata-mata karena kurangnya harmonisasi pada
logo, melainkan di seluruh internal perusahaan. Governance yang tidak
dijalankan dengan baik. Ini yang menciptakan energi negatif yang berbuah
kehancuran bagi Enron.
Jadi, belajarlah dari Enron. Jangan membuat kesalahan yang sama dengan
mereka. Perhatikanlah selalu harmonisasi di dalam perusahaan Anda. Itu akan
menciptakan energi positif yang akan berbuah kesuksesan bagi Anda. Bagaimana
pendapat Anda?
Zulfikri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamulaikum, ww
Sato manyolo sakatek.
Sasuai bana pandapek ambo jo pandapek sanak Reza, Sawtanisasikan sajo BUMN
ko tapi jan dijua pulo kalua nagari, hee... heeee...
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Anti-Virus.
Version: 7.0.300 / Virus Database: 265.8.5 - Release Date: 2/3/2005
------------------------------
-----Original Message-----
From: darul [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, February 08, 2005 7:36 AM
To: [EMAIL PROTECTED]; Palanta RantauNet; Milis Garuda
Indonesia
Subject: 'Orang Dalam' Diprioritaskan PimpinBUMN Penerbangan
Kalau boleh saya berkomentar, daripada disubsidi terus oleh rakyat yang
makin melarat ini, ya swastanisasikan saja dua BUMN itu. Juga BUMN yang
tidak pernah untung. Jangan karena untuk memperkaya Direksi BUMN, rakyat
yang bangkruuuuuuuuuuuuuttttttttttt
Maaf.................
St.P
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
___________________________________________________
End of palanta Digest, Vol 34, Issue 4
**************************************
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________