Ini bisa menjadi suatu pelajaran agar kota-kota di sumbar harus lebih
bersih, sehat, dan tidak kebanjiran.
PR bagi calon Kepala Daerah Tingkat I Ranah Minang.

Regards,
Herman Jambak

radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
To: kkn-watch ,
bizzcomm-milis
CC: mediacare
From: radityo djadjoeri
Date: Thu, 17 Feb 2005 21:46:52 -0800 (PST)
Subject: [Forum-Pembaca-Kompas] Berita menarik, sekaligus menyedihkan

Berita menarik, sekaligus menyedihkan

Ada berita menarik, sekaligus menyedihkan, di harian Merdeka edisi  kemarin
(Kamis, 17 Februari, 2005). Judulnya: "Nyamuk aedes aegipty tidak kenal anak
presiden". Berita ini muncul terkait dengan sakitnya Agus Harimurti, perwira
muda TNI putra SBY, yang kini dirawat di RSPAD Jakarta. Beredar kabar, bahwa
ia terkena serangan penyakit demam berdarah.

Sebenarnya Agus bukanlah anak pejabat tinggi pertama yang terjangkit
penyakit
mematikan itu. Ada puluhan. Contohnya setahun lalu, Prita - putri Menkes
Sujudi (kini mantan) - juga terimbas wabah itu. Alhamdulillah, setelah
dirawat beberapa hari
di rumah sakit yang dirahasiakan, kesehatan penyiar English News Service
TVRI itu pulih
kembali. Untunglah, media massa tak sempat mengendus berita itu. Andai
ketahuan
wartawan, bisa babak belur Indonesia tercinta. Pasti jadi headline: Anak
Menkes
terkena penyakit demam berdarah!

Menyedihkan bukan? Itulah pertanda bahwa pemerintah (c/q Pemda DKI) tak
peduli akan kebersihan Ibukota. Bencana, wabah, dan lain sebagainya seolah
jadi ajang proyek. Rakyat jadi tumbal. Kalau tak ada bencana, tak ada wabah,
dana proyek tak turun, dan mereka
lalu gigit jari.

Saya jadi teringat kejadian beberapa tahun lalu. Kala itu Hillary Rodham
Clinton mendampingi suaminya yang berkunjung ke Indonesia. Selain santap
malam dengan tokoh perempuan Indonesia pilihan, ia berkunjung pula ke
kawasan kumuh di tepian Kali Ciliwung. Dengan kaca mata hitam, ia memandangi
kawasan itu dari sebuah jembatan di Otista.

Itu jadi pertanda bahwa kawasan kumuh dijadikan 'jualan' pemerintah untuk
minta tambahan utang luar negeri. Namun, walau negeri-negeri asing sudah
menggelontorkan utang hingga ratusan triliun,  kawasan kumuh itu tetap saja
ada. Yang kumuh tetap kumuh, bahkan mungkin bertambah kumuh. Kawasan
penyebab banjir tahunan itu tetap saja dibiarkan.  Namanya  juga 'barang
jualan', kalau dibenahi ya tak punya 'barang dagangan' lagi. Nasibnya persis
sama dengan tragedi tsunami. Buntutnya pakai utang juga.

Andai pemerintah punya niat tulus, mustinya lebarkan Kali Ciliwung,
pindahkan
masyarakat yang menghuni kawasan tersebut (jangan gunakan istilah gusur).
Lalu hijaukan
sepanjang bantaran kali. Tak perlu buru-buru membangun kanal timur, barat,
utara, selatan dan sebagainya. Ujung-ujung proyek juga, alias kucuran komisi
dari pemenang tender.


Klik: http://kalla-watch.blogspot.com <http://kalla-watch.blogspot.com/>








Ungkapkan opini Anda di: http://mediacare.blogspot.com
<http://mediacare.blogspot.com/>

---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Search presents - Jib Jab's 'Second Term'

[Non-text portions of this message have been removed]



  _____

Yahoo! Groups Links
*       To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/

*       To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<mailto:[EMAIL PROTECTED]
>

*       Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service
<http://docs.yahoo.com/info/terms/> .




____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke