USIR MISIONARIS DARI ACEH Bencana gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh, seolah menjadi kesempatan tersendiri bagi para misionaris. Setelah relawan, bisa jadi, angka paling besar pendatang di Serambi Makkah adalah orang-orang dengan misi pemurtadan.
Di kepung, itu kata- kata yang tepat setelah laporan dari wartawan-wartawan SABILI yang dikirim ke Nanggroe Aceh Darussalam, masuk ke meja redaksi. Berbagai kasus usaha pemurtadan dan kristenisasi yang ditemukan di lapangan, seolah tak menyisakan ruang gerak yang tak mereka rambah. Tsunami, bagi misionaris benar-benar menjadi kunci pembuka negeri Serambi Makkah. Scott Binnet namanya, seorang pastur kewarganegaraan Amerika. Ia dengan ringan, bahkan tanpa beban menceritakan "keberhasilan" para misionaris di Banda Aceh pasca tsunami. Wartawan SABILI berhasil menemuinya di Gereja Hati Kudus, Pante Pirak, Banda Aceh. Menurut Scott Binnet, dirinya datang ke Aceh atas inisiatif pribadi sebagai seorang pastur yang merasa terpanggil. "Saya datang hanya untuk menolong," ujarnya. Dengan alasan itu pula, ia mengaku ada sekitar 300 anak asli Aceh yang saat ini telah berada di sebuah sekolah Katolik di Medan, Sumatera Utara. Di sekolah yang tak disebutkan namanya itu, Binnet mengatakan, 300 anak asli Aceh akan dirawat, diobati dan nanti disekolahkan. "Ya, mereka dibawa ke Medan, sekitar 300 anak, nanti akan disekolahkan di sekolah Katolik tempat mereka berada sekarang," ujarnya ringan, dalam bahasa Indonesia yang berbata-bata. Ia seakan telah berbuat sebuah kebajikan. Sudah dua pekan Scott Binnet ada di Aceh. Ia mengaku, bertugas membantu sebisanya. Memberikan pengobatan dan perawatan, merawat anak-anak dan memberikan penyuluhan. Dan tampaknya, Aceh bukan kiprah Binnet yang pertama. Beberapa saat lalu, selama dua bulan ia berada di Nabire pasca gempa. Dan sebelumnya lagi, ia berada di Medan saat tanah longsor terjadi di Sumatera Utara. Tentu saja ia bekerja sebagai pastur yang menyelamatkan "domba-domba malang". Saat ditemui SABILI, pastur yang satu ini mengenakan kalung salib besar berwarna merah yang menggantung di lehernya. Kisah lain terjadi di Ulee Kareng, sebuah daerah di Aceh Besar. Di daerah ini, sebelum SABILI datang, sempat bertebaran majalah-majalah Kristen untuk anak-anak dan juga orang dewasa. Menurut Pak Keucik setempat, sepekan pasca gelombang tsunami, serombongan orang yang mengaku datang dari Bali menawarkan bantuan sembako dan juga bahan bacaan. Rombongan ini juga menawarkan pengobatan dan rehabilitasi mental secara cuma-cuma bagi korban bencana. Mengetahui isi bantuan adalah buku dan majalah Kristen, Pak Keucik yang tak mau disebutkan namanya ini mengusir dan meminta rombongan tersebut untuk pergi. "Setelah mereka pergi, saya langsung membakar buku, majalah dan bacaan Kristen itu," ujar Pak Keucik. Sejak itu, ia meminta penduduknya untuk berhati-hati menerima bantuan dari orang lain. Ustadz Wahyudi, seorang relawan dari Hizbullah tahu betul betapa gigihnya para misionaris Kristen menjalankan operasi pemurtadan. Ia pernah bersitegang dan menggagalkan usaha penculikan anak-anak korban tsunami. Suatu hari, menurut penuturan Wahyudi, sebuah mobil bertuliskan Yayasan Pelita Kasih datang ke kamp pengungsi di wilayah Darussalam, dekat kampus Universitas Syiah Kuala. Penumpang mobil tersebut, selain beberapa orang berwajah Indonesia, ada dua orang yang mengaku dari Belanda dan Amerika, beragama Kristen Protestan. "Tapi dari gelagatnya waktu itu, mereka jelas ingin mengambil anak-anak dari kamp pengungsi ini. Mereka kerap datang dan membujuk anak-anak korban tsunami," terang Wahyudi. Salah satu bujuk rayuan yang pernah dipergoki adalah, mereka mengajak anak-anak untuk bermain bola. Bola-bola tersebut dilempar mendekat ke arah mobil yang telah disiapkan. Dan ketika anak-anak mendekat, mereka terus merayu dan membujuk mereka agar ikut naik ke mobil dengan janji bermacam rupa. "Relawan kami sempat menggagalkan usaha penculikan 10 anak dengan cara seperti ini," ujar Wahyudi. Setelah kejadian tersebut, Wahyudi dan teman-temannya langsung mengusir relawan dengan mobil bertuliskan Yayasan Pelita Kasih itu. SABILI sempat menyusuri sudut-sudut kota Banda Aceh dan berbagai posko relawan untuk mencari tahu keberadaan Posko Yayasan Pelita Kasih. Tapi nihil. Dari keterangan yang dikumpulkan, yayasan yang satu ini memang menerapkan mobile posko atau posko bergerak dalam operasinya. Tumpah ruah, betul-betul seperti mendapat berkah, gerakan misionaris membanjiri Aceh dari ujung satu ke ujung lainnya. Saat Artawijaya dari SABILI bergabung dengan tim relawan dari Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) dan relawan dari Partai Keadilan Sejahtera menyusuri pesisir pantai di Kampung Suak Tima, Meulaboh, rombongan memergoki enam orang misionaris yang melakukan pendataan anak-anak korban tsunami di kampung tersebut. Dengan menggunakan mobil Jeep, mereka menyusuri kampung demi kampung di pesisir pantai Meulaboh. Enam misionaris dari Afrika Selatan tersebut mengaku dari Global Relief, sebuah lembaga bantuan kemanusiaan internasional. Dari warga yang dimintai keterangan, SABILI mendapatkan pengakuan bahwa para misionaris asal Afrika Selatan tersebut mengaku hendak membantu pembangunan kembali masjid-masjid. Tapi saat SABILI bertanya langsung pada salah seorang anggota rombongan, Madelline Beerens, ia mengatakan bahwa kedatangan mereka untuk memberikan bantuan kesehatan. "We came here for healing, conseling and theraphy psycoligical for tsunami victims," kata Beerens. Usut punya usut, dua keterangan berbeda ini ternyata berasal dari guide rombongan misionaris Afrika Selatan yang membohongi penduduk dengan mengatakan akan membantu masjid. Meski mengaku memberikan bantuan kesehatan dan terapi psikologi, atribut yang mereka kenakan seperti bandul salib besar pada kalung mereka, cukup menjelaskan sesuatu. Apalagi, saat di Meulaboh pula SABILI menemukan kaos yang beredar di antara pengungsi. Kaos tersebut bertuliskan, "Yesus Mengubah Hidupku". Kaos itu akhirnya diamankan oleh para relawan dari PKS. Kabar lain tentang usaha pemurtadan terdengar dari Teunom, Aceh Barat. Saat SABILI menggali keterangan tentang hal ini, beberapa penduduk menceritakan, banyak anak-anak daerah ini yang dibawa pergi. Alasannya untuk diobati dan diselamatkan. Tapi selentingan yang terdengar dari mulut ke mulut, anak-anak tersebut kabarnya ada yang dilarikan ke kapal induk milik tentara Amerika yang labuh di perairan Meulaboh. Kepungan para mssionaris dan aktivis Kristen itu pula yang membuat Abdurrahman, seorang pengungsi di Kampung Samatiga, Meulaboh menjeritkan suara hatinya. Lewat SABILI ia menitipkan pesan, kirim ulama dan kiai sebanyak-banyaknya. "Kami di sini butuh kiai. Kirim sebanyak-banyaknya. Misionaris banyak berdatangan, membagi-bagikan bantuan, baju bertuliskan Yesus, doa-doa Kristen. Tolong kami, kirimkan ulama segera," pintanya mengiba. Penguatan akidah memang harus segera dilakukan. Aceh tak hanya butuh bantuan berupa barang dan makanan, obat dan pakaian, tapi lebih dari itu, saudara-saudara kita di Aceh sangat membutuhkan bantuan untuk menguatkan iman mereka. Bantuan yang menyelamatkan akidah mereka. Pengiriman dai-dai dan ulama harus segera direalisasikan sebagai salah satu bentuk ukhuwah Islamiyah dan gerakan dakwah. Dan yang tak kalah penting, usaha-usaha lebih konkret adalah mengusir para misionaris yang memancing di air keruh. Mengusir mereka dari tanah Serambi Makkah adalah sebuah keharusan, sebagai salah satu bentuk menjaga kekuatan akidah. Aparat pemerintah harus tegas memberlakukan hukum. Dan umat Islam, harus tak boleh lelah dan harus saling mendukung. Untuk para misionaris, jika tak mengerti kata sopan agar segera pergi, haruskah umat Islam berbuat tegas untuk mengusir? Herry Nurdi Laporan, Artawijaya (Meulaboh), Hepi Andi (Banda Aceh) ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

