Waalaikumusslam, ww
Kita sependapat dengan teori sanak Ridwan M. Risan untuk memotivasi murid
untuk belajar itu adalah dengan menunjukkan sampel dari keberhsilan
seseorang yang berhasil di tengah masyarakat, dan seseorang yang berhasil
tersebut dijadikan model dan kalau bisa mereka sendiri yang mengajar di
ruang kelas.

Saya dulu setelah tamat STM sebelum melanjutkan kuliah, bekerja lebih kurang
2 tahun dengan sub kontraktor RBI (Rio Tinto Bethlehem Indonesia) yaitu
perusahaan NV. Shell di Padang Aro Sangir Muarolabuh di dalam explorasi
tambang timah putih, yang telah ditinggalkan oleh Inggris sekitar th 1818.
Bos saya itu adalah seorang Inggris yang bernama Dr. Geofrey David Frank,
tiap malam dia menulis sampai dia membuat beberapa buah buku, kemudian saya
tanyakan untuk apa buku ini bagi tuan, dia jawab saya mau ingin jadi dosen
apabila kontrak saya ini habis dengan NV. Shell ini, katanya di Inggris
persyaratan jadi dosen pergurauan tinggi, terutama dosen sain dan
skill/teknologi ini diambil dari yang tamatan docktor dan mempunyai
pengalaman lapangan minimal 2 tahun dan mempunyai atau mengajukan buku
ilmiah tentang teori/temuan baru yang didapat di lapangan sesuai dengan
dengan bidang keahlian/keilmuannya dan lulus didalam pungujian/dipertahan di
dewan penguji, saya tanyakan lagi kenapa tuan ingin jadi dosen, dia jawab
semua orang dinegara saya ingin jadi dosen atau dengan kata lain, semua
orang diakhir pengabdiannya adalah bercita-cita jadi dosen karena gaji dosen
5 : 1, dibandingkan gaji pegawai swasta dan PNS yang ada di negara saya
(Inggris). Jadi jelaslah bahwa; semua dosen di Universitas atau perguruan
tinggi di Inggris adalah "orang yang telah berpengalaman di lapangan dan
telah menulis sebuah teori baru tentang keilmuannya, yang kompetensinya
tidak diragukan lagi dan dengan gaji yang menggiurkan".

Selanjutnya.., saya dengar pula cerita dari kawan-kawan saya yang telah
pulang dari Australia (program studi banding dan magang guru selama 1 tahun
biaya proyek Bank dunia), katanya di Australia itu yang mengajar di SMEA
(SMK ekonomi) adalah mantan-mantan direktur bank, begitu juga guru-guru
sekolah teknologi disana adalah mantan-mantan yang telah berpengalaman
di lapangan kerja selama minimal 2 tahun dan mendaftar jadi guru. Kemudian
mengenai penggajian guru dengan pns lainnya di Australia sama dengan Inggris
yaitu 5 : 1. Lain lagi cerita kawan saya yang pulang dari Jerman juga studi
banding dan magang 1 tahun, di Jerman yang boleh membuka sekolah STM
(SMK) itu adalah perusahaan-perusahan atau pabrik-pabrik, yang tamatannya
diperuntukkan bagi pengganti pegawainya yang pensiun, dengan jumlah muridnya
adalah sebesar pegawai yang akan pensiun setiap tahunnya ditambah 10 %
sebagai cadangan, dan juga sebagai anak angkat nantinya apabila mereka tidak
diterima di perusahaan atau pabrik. Jadi dapat pula kita ambil kesimpulan
bahwa; "siswa tamatan STM (SMK) di Jerman tidak ada yang menganggur". Di
Indonesia yang men contoh Jerman ini dintaranya STM (SMK) Perkapalan di
Surabaya, siswanya langsung belajar/praktek membuat kapal di pabrik.

Jadi menurut hemat saya, pendirian atau pengelolaan sekolah yang bersifat
enterpretenur (bisnis atau skill) ini, alangkah baiknya kita tiru Jerman,
yaitu mewajibkan kepada pabrik-pabrik yang beroperasi negara kita ini, atau
perusahaan Bank dan BUMN atau BUMD untuk mendirikan SMK yang siswanya
setelah tamat dapat langsung dipakai atau setidak-tidaknya mereka yang tidak
dapat dirima diperusahaan, mereka dipakai sebagai anak angkat, dengan kata
lain mereka yang tidak diterima di perusahaan atau pabrik tsb
diberi/dipinjamkan modal usaha untuk membuat produksi dan kemudian hasil
produknya ditampung atau dibeli oleh perusahaan yang bersangkutan untuk
dipasarkan, maka dengan sendirinya secara tidak langsung setiap tahun hasil
produksi prabrik tersebut meningkat.

Sistem persekolahan ini dimasa orde baru telah diterapkan umpamanya Dep PU
membuat akademi ADPU khusus bagi pencukupan karyawan PU, Dep. Dalam negeri
membuat APDN untuk diangakat jadi camat, Telkom membuat STM dan akademi
telkom, AKABRI atau sekolah tantara lainnya yang langsung jadi taentara.
Hasil lulususan tidak diragukan atau dipastikan mempunyai relevansi
dengan kebutuhan, karena yang mengajar adalah orang yang akan memakainya.

Maka kalaulah sistem tsb. diatas diterapkan maka yang berhak untuk
mendirikan SMK dengan program studi tata busana adalah orang kampung kita
yaitu ibu Hajjah Rosma di Panampuang, untuk mendirikan SMK otomotif
diwajibkan kepada Astra Motor, sedangkan PT. Semen diharuskan menyumbang
kepada pendidikan untuk mendirikan SMK program studi otomotif, pabrikasi,
maintanace alat berat, dan program studi geologi dan teknik sipil, yang
jumlah muridnya adalah sebesar kebutuhan setiap tahunnya untuk pengganti
pegawai pensiun di tambah 10 % yang sebagai cadangan dana akan dipersiapkan
sebagai anak angkatnya PT. Semen. Demikian pula PT. Caltek (CPI) di wajibkan
menyumbangkan untuk mendirikan SMK program studi, pabrikasi, geologi,
geodesi, dan lain-lain.

Sanak di palanta itulah ide saya, atau angan-angan saya didalam pendirian
SMK (STM) dan hal ko pernah saya lontarkan diperbincangan-perbincangan
pejabat di Dinas Pendidikan Prop. Sumbar, inyo bao galakse dek pajabaik tu.
Jadi aa... lah gunonyo urang disuruah kalua nagari untuk melakukan studi
perbandingan dan magang salamoko ? samantaro kito indak namuak maniru, baa
jawek pajabaik tu; itukan dilua nagari !!!!, di nagari awak lain !,
keceknyo. Eee......, lah batuka se bahasonyo !!!!, maaf sanak !.

Wassalam,
Z. Rky. Mulie

----- Original Message -----
From: "Ridwan M. Risan" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "Palanta RantauNet" <[email protected]>
Sent: Monday, February 21, 2005 9:05 PM
Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] Pendidikan Anak


> Assalamu'alaikum wr wb.,
>
> Sanak Z Fikri dan sanak RN Yth.
>
> Pengalaman guru dalam memberikan motivasi bahwa menguasai Pendidikan
> merupakan kunci keberhasilan hidup tampaknya sudah mulai kehilangan
"pasar".
> Terutama apabila tolok ukurnya adalah keberhasilan mendapatkan tenaga
kerja
> dari ijazah yang diperoleh. Ijazah bukan menjadi jaminan untuk dapat
> berhasil dalam hidup, memperoleh kerjapun bukan jaminan untuk berhasil
dalam
> hidup. Mungkin yang perlu diangkat dalan memotivasi anak murid dari
prestasi
> seseorang dari keahliannya.
>
> Pendidikan perlu dilakukan lebih kreatif, misalnya mendatangkan pembicara
> kekelas dari kalangan Pengrajin atau Profesional yang berhasil karena
> keahliannya. Saya kurang mengetahui mengenai siapa sosok yang cocok untuk
> itu, apakak ibu Hajjah Rosma di Panampuang cocok untuk itu? Yang saya tahu
> banyak Draftmen yang ahli dengan mempergunakan CAD, begitu juga Welder di
> proyek anjungan minyak merupakan pekerja yang memperoleh gaji tinggi di
> Malaysia, mereka merupakan orang-orang yang selalu dicari dari proyek ke
> proyek. Mereka bukan TKI yang dikejar-kejar, tetapi pekerja professional
> yang di direkrut dari Jakarta untuk didatangkan ke Malaysia. Tentunya
kedua
> profesi tersebut bisa menjadi tamsil bagi murid STM.
>
> Wassalam,
> R Sampono Sutan













____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke