Assalamualaikum, ww
Sanak di palanta RN berikuik (dibawahko) ambo fowardkan carito urang di
millist sabalah tentang pendidikan di Malaysia, mohon tanggapan dari sanak
di Malaysia apokoh iyo sarupoko ?, Sabab dek ambo juo manjadi tando tannyo
kiniko, bahwa beberapa tahun nan lalu Universitas Bung Hatta bekerja samo jo
salah satu Universitas di Malaysia yang juga dibilang top, tetapi Ijazah S2
mereka tidak dapat dipergunakan untuk naik pangkaik di dalam nagari karano
alun diakui oleh Depdiknas ?.

Baitu pulo di Australia, rami-rami pulo urang awak mangirim mahasiswanyo ka
Australia, hanyo dengan kuliah 14 bulan alah salasai sen S2 nyo dan kembali
pulang untuk batugeh, tapi ambo caliak indak ado perobahan ambo liek, samo
sen nyo nan kuliah S2 di UNP dan mandapek gala M.Pd (Magister Padang) nan
bakulaih 3 tahun ?, Tolong pulo dek sanak nan ado di Australia baa pulo
gambarannyo kuliah di sinan. Apokoh sanak akan manyabuikkan nan salah adolah
pendidikan S1 atau SMU nyo didalam negeri ?. Kok iyo salah, ba dek lai
barhasilnyo manyalasaian S2 dalam 14 bulan ?.

Apokoh iko adolah trik bagi nagara luar untuk merekrut mahasiswa dari
Indonesia untuk kuliah di sinan karano, inyo mangharapkan pemasukan devisa
dari mahasiswa Indonesia ?, Karano inyo tahu bahwa urang Indonesia
keranjingan dengan produk lua ?
Wassalam,
Z. Rky. Mulie

----- Original Message -----
From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, February 26, 2005 10:10 PM
Subject: [cfbe] 70 Siswa Asal Bantul DIY 'Terlantar' di Malaysia>
>
> Malaysia emang menggiurkan wong Indon, apa-apa yg berbau malaysia
> seolah terkesan lebih wah, lebih bagus. tapi sejujurnya saja
> Indonesia jauuh lebih berpotensi maju ketimbang malaysia.
>
> "Current state condition" Indonesia saja yang saat ini terlihat
> meluncur, namun kalau dilihat potensialnya aku yakin Indonesia masih
> lebih menjanjikan ketimang Malaysia. Menggeliatnya pembangunan
> jakarta juga yang lainnya buat aku menunjukkan bahwa potensi itu ADA.
>
> Berita terlampir saya yakin akibat terpesaonanya dengan malaysia.
> Setelah aku membandingkan sana-sini akhirnya anakku mendingan
> kumasukkan ke UGM ketimbang UKM atau UTM (univ Tech Malaysia).
> Bahkan Sunway University yg katanya afiliasi dr Aussie/Canada juga
> masih jauuh dari Uni-uni di jakarta maupun jogja, bandung dll.
>
> Yang menyedihkan di Indonesia saat ini hanyalah memudarnya rasa
> bangga menjadi orang Indonesia, sehingga silau dengan cahaya
> tetangga. itu saja ... :(
>
> RDP
> ======================
> Reporter: Bagus Kurniawan
> detikcom - Yogyakarta, Sebanyak 70 siswa SMU asal Bantul Provinsi
> Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 'terlantar' di Malaysia. Mereka
> dijanjikan akan melanjutkan studi program Diploma III ke Universitas
> Teknologi Malaka (UTM) oleh Kolege Yayasan Malaka (KYM), ternyata
> hanya kerja praktik bangunan.
>
> Berkaitan dengan itu, mereka telah meminta pertanggungjawaban Pemkab
> Bantul sebagai penyelenggara kegiatan. Namun, hingga kini belum ada
> penyelesaian meski kasus itu telah diadukan ke DPRD Bantul dan LBH
> Yogyakarta.
>
> "Sebanyak 11 siswa sudah pulang ke Bantul, sisanya 59 orang masih
> tertahan di Malaysia," ujar Wakil Ketua Forum Silaturahmi Keluarga
> Besar Siswa Kolege Yayasan Malaka (FSKBSKYM) Abu Naim kepada
> detikcom, Sabtu (26/2/2005).
>
> Sebagian besar wali siswa mengaku kecewa dan merasa tertipu dengan
> janji-janji yang pernah diucapkan penyelenggara program. Pasalnya,
> para siswa lulusan SMA dan SMK itu bukannya melanjutkan studi tetapi
> bekerja di sebuah proyek bangunan dengan alasan praktik lapangan.
>
> Menurut Naim, Pemda Bantul dalam hal ini Badan Kesejahteraan
> Keluarga (BKK) seolah-olah tidak ingin bertanggung jawab. Mereka
> berkilah BKK hanya sebagai fasilitator yang mempertemukan antara
> pengurus KYM dengan siswa dan wali/orangtua siswa. "Kami ingin
> mereka secepatnya kembali pulang dengan selamat," kata Abu.
>
> Asanto salah seorang siswa yang baru saja pulang dari Malaysia
> mengatakan, para siswa kuliah di jurusan Juru Bina Bangun. Selama 4
> bulan, mereka belajar di kelas. Enam bulan berikutnya para siswa
> mengikuti program Praktik Kerja Lapangan (PKL).
>
> Mereka mendapatkan upah antara 15-20 ringgit Malaysia sejak Agustus
> 2004. "Kami juga tidak pernah diberi kuliah teori bangunan, praktik
> angkat-angkat meja kursi sudah dapat sertifikat tapi bukan ijazah,"
> jelasnya.
>
> Tempat kuliah siswa kuliah, lanjut Asanto, bukan seperti layaknya
> sebuah perguruan tinggi. Gedungnya mirip tempat kursus. "Jangan
> dibayangkan gedungnya mewah, tempatnya mirip tempat kursus,"
> tambahnya.
>
> Dikatakan Asanto, 59 orang temannya yang masih berada di Malaysia
> mulai gelisah karena visa studi masa berlakunya akan habis, Senin
> (28/2/2005). Padahal untuk memperpanjang visa dibutuhkan dana
> sekitar Rp 6 juta atau Rp 5,5 juta jika diurus KYM. "Mereka khawatir
> akan ditangkap polisi Malaysia karena visanya habis," ungkapnya.
> (rif)
>
> http://jkt1.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/02/tg
> l/26/time/202121/idnews/300996/idkanal/10










____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke