Salam,
Pentingnya Mengamankan Wilayah Perbatasan
ADA dua hal yang menjadi perhatian pemerintah terkait hubungan negara tetangga,
Malaysia. PERTAMA, perburuan terhadap ratusan ribu TKI ilegal yang tengah
dilakukan oleh puluhan ribu polisi dan petugas khusus di Malaysia.
Dalam kasus TKI ilegal, Indonesia dan Malaysia sepakat untuk
menyelesaikannya secara manusiawi. Pemerintah Indonesia jelas tidak
menginginkan para TKI ilegal itu mendapat hukuman, apalagi sampai dihukum
cambuk oleh aparat hukum Malaysia.
Baik Indonesia maupun Malaysia telah sama-sama sepakat untuk saling
memberitahu (notification agreement) untuk menjamin tidak ada kekerasan dalam
aksi perburuan itu. Bagi Indonesia, para TKI ilegal yang tertangkap segera
dipulangkan ke tanah air dan mereka diberi kesempatan untuk mempersiapkan
dokumen resmi sebelum kembali bekerja di Malaysia.
PERSOALAN kedua yang juga menjadi perhatian kedua pemerintahan akhir-akhir ini
adalah wilayah sebelah timur Pulau Kalimantan, dimana Indonesia dan Malaysia
sama-sama mengakuinya. Masalah muncul ke permukaan ketika Malaysia memberikan
konsesi kepada Shell untuk menggarap wilayah penambangan migasyang diberi nama
Blok ND 7 dan ND 6.
Padahal Indonesia telah terlebih dahulu membuat kontrak pengelolaan
wilayah tersebut kepada pihak asing. Blok Ambalat dikelola ENI sejak 1999,
sedangkan Blok East Ambalat sudah diberikan kepada Unocal tahun 2004.
Pemerintah Indonesia tetap berkukuh kedua blok tersebut merupakan hak
Indonesia.
Namun, Malaysia mengklaim blok migas itu wilayah mereka sejak Pulau Sipadan dan
Ligitan dinyatakan sebagai bagian dari Malaysia.
Sampai sekarang, pemerintah belum optimal memberikan perhatian terhadap
pulau-pulau yang berada di perbatasan negara tetangga. Contoh Pulau Pasir di
Provinsi NTT yang juga diklaim sebagai wilayah Australia. Meski pemerintah
secara tegas mengakui Pulau Pasir milik Indonesia, ketika para nelayan NTT
memasuki pulau tersebut justru diusir oleh aparat keamanan Australia. Ini
berarti, Australia telah menempatkan aparatnya di pulau tersebut.
APA yang terjadi di Ambalat kita harapkan tidak mengulang kejadian di Pulau
Sipadan dan Ligitan, karena pihak Malaysia telah menempati pulau tersebut dan
menjadikannya menjadi tempat wisata.
Untuk itu, kehadiran tiga kapal perang yakni KRI Nuku-873, KRI
Rencong-622, dan KRI Wiratno-879 di kawasan Ambalat bukan dimaksudkan untuk
menciptakan ketegangan baru, tapi hanya menunjukkan kepada Malaysia bahwa
Ambalat adalah wilayah Indonesia.
Di pihak lain, seperti dikemukakan Menhan Juwono Sudarsono bahwa sistem alat
pertahanan wilayah perbatasan masih lemah. Pemerintah sudah seyogianya memberi
perhatian, terutama pembangunan di wilayah perbatasan sehingga ekonomi
masyarakat meningkat dan sekaligus mempertebal ketahanan nasional.
Info diatas merupakan sebuah wacana yang saya baca..
Dalam hal ini saya sangat mendukung sekali langkah yang telah diambil oleh
Pihak Bakosurtanal untuk melakukan pemetaan Pulau-pulau
kecil terluar dengan Citra Satelit Resolusi Tinggi yang menjadi titik pangkal
batas negara kita sekaligus melakukan inventarisasi tutupan lahan, kegunaan
lahan, Kondisi perairannya, Cuacanya, Kependudukan, dan beberapa informasi lain.
Ini harus dicermati dan ditanggapi positif oleh pemerintah (sesuai dengan
dengunggan kampanye SBY untuk mempertahankan Persatuan dan Kesatuan NKRI...
sorry yah Pak SBY kalo salah..) kalau
memang serius untuk itu, cepat tempatkan pasukan (TNI yang gagah berani...
katanya sih begitu) diPulau2 tersebut dari pada kirim ke Aceh buat bunuh bangsa
sendiri atau dari pada mukulin para Mahasiswa/i yang demo...supaya negara lain
tidak semena-mena... daripada sudah terjadi baru ribut2 kayak kebakaran jenggot
aje..basi banget deh...
Salam
M. Gunawan Budi Utama
PT. Bhumi Prasaja
---------------------------------
Celebrate Yahoo!'s 10th Birthday!
Yahoo! Netrospective: 100 Moments of the Web
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________