Editorial KERIBUTAN antara anggota Dewan Perwakilan Rakyat dalam sidang paripurna dua hari lalu yang nyaris saja menjadi perkelahian terbuka, masih saja menjadi buah bibir. Banyak yang melihat kejadian itu sebagai peristiwa memalukan, tetapi banyak juga yang menikmati tawuran tersebut sebagai tontonan.
Melihat mereka menggertak, melompat berdiri di atas meja, saling ancam dan saling ejek, saling dorong dan terjerembap di lantai, tidak hanya sebuah kebrutalan orang-orang loyo. Mereka ternyata memiliki nafsu dan potensi bagus sebagai petinju. Mereka menjanjikan tontonan yang enak. Andai kata perkelahian itu tidak dilerai, tontonan yang disuguhkan mungkin saja tidak kalah kolosal dari smackdown yang menghipnotis rakyat Amerika sana, sehingga tumbuh menjadi industri multijutaan dolar. Coba berpikir positif. Kepada anggota Dewan kita yang memiliki nafsu dan bakat berkelahi besar diberi perlindungan undang-undang. Kalau selama ini mereka hanya dibentengi kekebalan bicara, boleh juga dipikirkan inisiatif untuk melengkapinya lagi dengan kekebalan bertinju. Kalau selama ini anggota Dewan tidak bisa dihukum karena berbicara apapun di Parlemen, dengan tambahan kekebalan bertinju mereka tidak boleh dipidana kalau berkelahi, bahkan kalau menonjok lawannya sampai mati. Asalkan itu terjadi di gedung DPR. Karena potensi dan nafsu bertinju mereka sangat besar, maka gedung DPR menyimpan harapan bisnis tontonan yang dahsyat. Rapat-rapat pleno yang selama ini hanya menghalangi nafsu bertinju, diresmikan saja sebagai ''gelar tinju DPR''. Masyarakat yang tidak puas hanya menyaksikan dari televisi, bisa datang ke DPR untuk menonton dengan membeli karcis yang harganya mahal karena ''gelar tinju DPR'' sangat bermutu. Televisi pun tidak boleh sembarangan menyiarkan acara itu. Harus ada izin siaran yang dibeli dengan harga miliaran rupiah. Maka, bisa dibayangkan ''gelar tinju DPR'' akan menjadi acara yang mengasyikkan sebagai tontonan. DPR juga bisa menyedot uang dari sponsor yang antre. Bila DPR sukses mengubah paripurna menjadi pergelaran tinju, maka gedung wakil rakyat itu akan menjadi dapur uang yang menggiurkan. Maka tidak ada lagi proses pengambilan keputusan yang macet. Yang serius bersidang silakan menyingkir ke ruang yang lebih kecil sedangkan mereka yang serius berkelahi menjajakan dirinya kepada publik untuk menghasilkan uang. Kalau demikian jadinya, anggota DPR boleh menaikkan gajinya tidak saja Rp15 juta per orang, bahkan bisa beratus-ratus kali. Karena tidak ada beban dituduh mengkhianati aspirasi dan penderitaan rakyat. Sekarang mereka berkelahi dengan alasan membela kepentingan rakyat yang dirugikan oleh kenaikan harga BBM. Tetapi, tahukah kita bahwa mereka sebenarnya diam-diam menganggarkan kenaikan gaji Rp15 juta per orang yang juga harus dibayar rakyat. Jadi, daripada menaikkan gaji dari uang keringat rakyat, berilah mereka kekebalan bertinju. Karena dengan kekebalan bertinju mereka bisa menghasilkan uang untuk menaikkan gajinya tidak dari keringat rakyat, tetapi dari keringat dan darah sendiri yang dihasilkan melalui kepalan tinju. Ini bisa dianggap sebagai olok-olokan berlebihan. Tetapi, siapa tahu ada anggota Dewan yang memiliki nafsu dan bakat besar bertinju itu melihat ini sebagai peluang dan karena itu sepakat mengajukan inisiatif untuk memperoleh hak kekebalan bertinju di DPR. ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

