Assalaamu'alaykum wr wb

Di Indonesia ada BUMN karena beberapa sebab yang salah satunya adalah
amanah UUD untuk mengelola kekayaan alam negara untuk kepentingan
orang banyak, yang agaknya sulit dipenuhi oleh swasta. Juga ada
mungkin bidang strategis seperti telekomunikasi. Tetapi yang kita
lihat saat ini adalah selain BUMN-BUMN seperti itu ada BUMN-BUMN lain
yang mestinya tidak perlu dimiliki oleh negara, dan kebanyakan mereka
tidak dikelola dengan baik, sehingga menimbulkan kerugian.

Kalau misalkan pemerintah bisa menjamin BUMN2 itu dikelola dengan
lebih baik, boleh-boleh saja mempertahankan keberadaan mereka, tetapi
yang ada kan kehilangan kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan
pemerintah. Kalau BUMN rugi, yang susah bukan hanya negara, tetapi
juga karyawannya yang tidak bisa menikmati hasil kerjanya.
Menyerahkannya (=menjual) BUMN seperti itu kepada swasta (dalam dan
luar negeri) mungkin akan lebih baik, karena bisa saja meningkatkan
kinerja perusahaan tersebut, walau sekarang resikonya bisa dikatakan
nggak nasionalis lah dan sebagainya. Tentunya perlu dilakukan dengan
proses yang baik dan benar. Ada permasalahan sekarang ini mungkin
karena proses penjualan yang tidak mengikuti aturan sehingga ada
pihak-pihak yang memanfaatkannya sebagai komoditas politik.

Sekarang pertanyaannya, bisa kah pemerintah memenej BUMN dengan baik?
Temasek Holding misalnya bisa dikatakan BUMN-nya Singapura, tetapi dia
dikelola dengan baik dengan dukungan modal yang kuat dari rakyat
Singapura, sehingga bisa mengembangkan bisnisnya ke negara-negara
lain, termasuk Indonesia. Kita mungkin perlu belajar dari pengelolaan
Temasek ini agar bisa melahirkan BUMN yang tangguh.

Wassalaamua'aykum wr wb
Muhammad Arfian


On Wed, 23 Mar 2005 10:38:25 +0700, darul <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Assalamualaikum WW
> 
> Dedi, ini memang kondisi BUMN kita saat ini, menurut saya, untuk
> memperbaikinya ya di swastakan saja, paling nggak sebagian (besar) sahamnya
> dimiliki swasta, sehingga yang "benalu dalam daging" ini dapat dijadikan
> beruntung. Inilah yang saya sebut sebagai nasionalis. Sebab menurut saya
> yang naif ini, nasionalis adalah menjadikan milik nasional sesuatu yang
> bermanfaat buat negara dan warganya. Kalau membiarkan BUMN merugi (direksi
> dan oknum pemerintah kaya) dan selalu disubsidi dari kocek negara (pajak
> dari rakyat), itu namanya tidak nasionalis.
> 
> Coba lihat Singapore yang mayoritas perusahaan milik swasta, malah swasta
> asing lagi, tapi sangat memakmurkan warganya. Biar seperti Indosat misalnya
> milik asing, tapi memberi keuntungan buat bangsa (dia kan PT di Ina) akan
> jauh lebih baik daripada Garuda, PJKA dll yang selalu merugi misalnya.
> Namanya perusahaan, ya harus untung, kalau membawa buntung negara ya coba
> serahkan ke swasta, jika dapat mencetak profit, itu jauh lebih baik.
> 
> Dengan alasan harus dikuasai negara tapi buntung terus, itu namanya bukan
> nasionalis.
> 
> Wass. WW
> St.P
> 
> ----- Original Message -----
> From: "Dedi N" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: "Palanta RantauNet" <[email protected]>
> Sent: Wednesday, March 23, 2005 7:58 AM
> Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] Menjual Perusahaan - 2
> 
> > AWW.
> >
> > Wajar kita yang awam sakit hati.
> > Dari dulu ambo ndak satuju jo nan banamo BUMN ko. Karano banyak mudarat
> dari
> > pado manfaatnyo.
> > Mudaratnyo adolah, BUMNko manjadi banalu dalam dagiang alias manggarogoti
> > kaceo pamiliknyo yaitu Negara.
> > Kiniko pado zahirnyo BUMN ko lah baganti arati jo Badan Usaho Miliak
> > Pamarentah, sabab sia nan manag mamimpin nagari ko iyo akan mangganti
> > pamimpin BUMN jo urang-urang dari kaumnyo. BUMN manjadi kaceo kaumnyo.
> > Dari dalam BUMN sandiri ado pulo sikap mental nan payah, sabab nan manjadi
> > pamimpin BUMN kabanyakan adolah mental2 birokrat bukan mental2
> "panggaleh".
> > Sahinggo nan ado dipikirannyo adolah baa maabihan se alias bapoya-poya
> > misalnyo mabagi-bagi bonus sampai 10 kali gaji, padohal itu saharusnyo
> > masuak ka kaceo nagara untuak mabangun nagarako.
> >
> > Jadi kasimpulannyo, labiah rancak BUMN di rekap sajo, tapi caronyo indak
> ka
> > pihak asiang tapi ka rakyaik.
> >
> > dn

____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke