Ambo sangaik lintuah mambaco tulisan uni Rahima, ambo takana jo gaek ambo, surang se lai nan tingga, nan padusi lah bapulang ka nan punyo. Lah lamo ambo tak basuo jo gaek kilaki ambo, walau komunikasi jo talepon lai jalan taruih Kok mangana maso lalu, yo sabana sulik gaek ambo mangadangkan ambo jo paluah jo aia mato, kok jaso rang gaek yo ndak ka tabaleh doh, yo tulisan uni itu mambuek awak mangana asa baliak, kok ado nan silang sangketo jo rang gaek salasaianlah jan dipabiakan, beko manyasa kok rang gaek tak ado lai Wasalam Dody dari tambang di Padalaman Kalimantan
On Fri, 25 Mar 2005 00:03:57 +0700, Elthaf (elthaf) <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Sdri Rahima, > Sangat menyentuh apa yang sdri tulis, saya atau bahkan mungkin kita > semua akan makin ingat orang tua kita yang terbaring lemah di kampuang > sana. > Beliau adalah orang yang tegar, beliau adalah orang yang konsisten > dengan agama, tidak mau mancampuakan atah jo bareh, karena apa yang > dimakan akan menjadi daging dan darah. > Sungguh satu advise yang tepat kala orang pada lengah dengan agama. > Tapi rekan Rahim, sekedar ilustrasi, saat ini, susah bagi kita yang > hidup "lurus" untuk bisa menggapai masa depan yang cemerlang, untuk > menyekolahkan anak ke PT yang bergengsi, kenapa..., dengan adanya > pelbagai otonomi, sampai ke otonomi kampus, sebagai contoh, katanya > walau udah lulus di PT bergengsi dan fakultas favorit dengan cara > prosedur test, kita masih harus membayar puluhan juta lagi... > Apakah ini betul, mungkin ada real story dari sanak RN, mhn advise... > Wassalam, > Elthaf > > -----Original Message----- > From: [EMAIL PROTECTED] > [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Rahima > Sent: Thursday, March 24, 2005 11:08 PM > To: Palanta RantauNet > Cc: [EMAIL PROTECTED] > Subject: [EMAIL PROTECTED] Ayahku Tegar > > Assalamualaikum.Wr.Wb. > > Gejolak perasaanku begitu trenyuh, tatkala kulihat > ayahku berbaring, tertidur pulas dicelah-celah bantal > guling kepunyaan ibuku. Kupandangi wajahnya yang > begitu sayu dan letih, bekas guratan-guratan kepenatan > dan kelelahan kerja disiang hari. > > Ayahku seorang pegawai biasa yang bergaji > normal-normal saja. Karir demi karir dijalaninya, > pergi pagi, pulang sore, bahkan sampai malam tanpa > mengenal lelah. > > Ayahku yang hanya tammatan SMEA itu, meniti hidup > penuh dengan ketabahan, kesabaran dan keuletan. > > Tak jarang kulihat rambutnya kusut, keningnya > berkeringat penuh dengan butiran-butirandari bongkahan > air, matanya sayu, wajahnya kering bagai bebatuan yang > terkena sengit mentari, sepulang mencari nafkah demi > sesuap nasi, mengisi minyak kompor agar dapur kami > berasap. > > Sering kutanya : " Ayah..kenapa ayah sering terlambat > pulang dari kerja? ". > > Ayahku menjawab : " Nak,.ayah banyak pekerjaan, kalau > ayah tak kerja, bagaimana kita makan, bagaimana Shinta > sekolah, bagaimana adik-adik dan kakak-kakak > berpakaian sebagaimana teman-teman kalian berpakaian, > bagaimana adikmu yang kecil bisa bermain dengan > mainannya. Semua itu pakai duit, tak ada yang gratis > sekarang, air saja bayar, rumah saja bayar pajak, > masih untung nak, bernafas masih gratis, coba kalau > bernafas saja harus bayar lagi ?". > > Pagi-pagi sekali, ayahku sudah bangun, sementara kami > masih terlelap dalam mimpi-mimpi dan bunga-bunganya > tidur, dipulau kasur yang tak bertepi, tak berbatas, > selain hanya menambah kenyeyakan mata saja. > > Dan tak jarang ayahku membanguni kami agar segera > bangkit dari pulau empuk itu, mandi, berwudhuk dan > shalat, juga menyuruh kami membersihkan kasur, tak > jarang juga beliau melipat selimut-selimut kami, > karena selimut kami begitu tebalnya sehingga tak kuat > kami mengangkatnya, hanya tangan ayah yang kuat dan > tegar saja yang mampu melipat semua itu dengan begitu > rapinya. > > Ayahku sering menjadi imam diantara kami, mengajari > kami tulis baca AlQuran, mendidik kami menjadi > anak-anak yang berakhlak baik, hidup dalam kemuliaan, > bersikap baik sesama manusia dan binatang, juga > ciptaan Allah lainnya, walaupun ayahku bukanlah > tammatan sekolah tinggi di Al Azhar Mesir sana, namun > ia bisa dengan fasih membaca AlQuran. > > Kalau ayahku sedang sakit, biasanya ia sangat manja > dengan ibuku yang dengan sabar melayani ayah > terbaring dikasur, menyediakan teh hangat, soup > sayuran, walau ngak pakai daging, atau ayam, maklumlah > hidup seorang pegawai biasa, sangat sulit untuk > membeli daging dan ayam yang mahal-mahal. > > Makanan kami seringnya tempe, tahu, ikan asin, ikan > teri kecil-kecil saja, namun tetap juga kami sehat, > karena ayah selalu melarang kami untuk makan yang siap jadi(instant), > atau makan dijalanan, karena ayahku bilang kurang terjamin kesegaran dan > khasiatnya. > > Ayahku memang jarang, bahkan tidak suka makan diluar, direstoran, > kedai-kedai, sukanya makan dirumah, masakan ibuku yang sederhana, tetapi > segar. Kata ayah masakan ibu jauh lebih nikmat dibandingkan makanan > direstoran Padang itu. Ayahku memang pemuji ulung lagi menghargai hasil > kerja ibuku. > > Sebelum ayahku bekerja dikantoran, ia dulunya pernah > bekerja sebagai tukang angkat batu bangunan. Sungguh menyedihkan, > terkadang kaki ayah sampai luka-luka, tangannya kasar akibat berteman > dengan pekerjaan kasar semacam itu. Badannya sedikit bungkuk akibat > membawa beban berat bebatuan dipunggung dan pundaknya. > > Ada tawaran untuk berbisnis kain,.dan baju-bajuan. > Maka sempat jugalah ayahku menjadi pedagang kaki lima > di pinggiran jalan itu. > > Sambil menjajakan dangangannya beliau berkata : " > harga murah..harga murah...siapa mau beli,.akan > beruntung..kain bagus,..baju bagus,.buatan > Indonesia,.kainnya lembut, tenunannya halus ,.hanya Rp > 10.000 perlembar kain ". > > Duh,..datang sipenglihat-lihat dari para ibu-ibu yang > rajin menawar dipasar,.sudah bongkar sana-sini,..tanya > harga keliling jembatan,.tawar menawar,.ngak juga > beli,.". Tinggallah ayahku menyusun kembali dan > melipat kain yang sudah digebrak gebruk oleh ibu tadi. > Namun ia tetap tabah dan sabar,.sambil berkata terus > tanpa kenal lelah, dimana simpanan suaranya sudah > mulai serak-serak kering. > > Terkadang beliau pulang dengan tangan hampa, terkadang > membawa hasil yang lumayan. Begitulah hari demi hari > dilalui ayah, sampai datanglah tawaran untuk menjadi > pegawai biasa. > > Karir ayahku dimulai dari kuli mengkopy-kopy , > kemudian menanjak menjadi pegawai tetap yang lumayan berkedudukan, > sampai akhirnya ayahku memegang jabatan kepala bagian disuatu instansi. > > Namun begitupun ayahku tak pernah sombong, tak mau > korupsi. > Kata ayahku : " Tak boleh setetes darah yang mengalir > ditubuh anak-anak ayah akibat hasil yang subhat dan > haram, tak akan berkah hidup dan ilmu anak-anak ayah > yang tumbuh dan berkembang dari hasil yang haram, > biarlah kita hidup sederhana, makan apa adanya, > asalkan kelak diakhirat sana kita bebas dari tanggung > jawab, pertanyaan : Darimana, kemana dikemanakan harta > itu kau dapat dan pergunakan", itulah yang selalu > disampaikan ayahku pada kami anak-anaknya. > > Kini ayah sudah tua sekali, kulihat keriput > diwajahnya, namun masih tetap nampak bersih dan > bersinar. Beliau masih rajin shalat dan kemesjid, > membaca AlQuran, walau matanya sudah mulai kabur, > giginya sudah mulai gugur, rambutnya sudah beruban dan > banyak yang rontok, ayahku tetaplah ayahku yang dulu > masih giat bekerja, rajin beribadah, mendidik kami > anak-anaknya yang sudah dewasa dan berumahtangga, > menjaga cucu-cucunya yang terkadang lebih dari kami > memanjakan anak-anak kami. > > Ayahku seorang lelaki yang tegar, sebagaimana ibuku > seorang ibu yang tangguh !. > > Wassalam. Rahima. Kairo 23 Maret 05. > > Inspirasi : Realita hidup dari berbagai kaum pria yang > sangat kukenal > > __________________________________ > Do you Yahoo!? > Yahoo! Small Business - Try our new resources site! > http://smallbusiness.yahoo.com/resources/ > > ____________________________________________________ > > Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: > http://rantaunet.org/palanta-setting > ------------------------------------------------------------ > Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib > ____________________________________________________ > > ____________________________________________________ > > Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: > http://rantaunet.org/palanta-setting > ------------------------------------------------------------ > Tata Tertib Palanta RantauNet: > http://rantaunet.org/palanta-tatatertib > ____________________________________________________ > ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

