http://www.suarapembaruan.com/News/2005/03/31/Utama/ut01.htm
31 Maret 2005
SUARA PEMBARUAN DAILY
----------
Penyaluran Bantuan ke Nias Lamban, Koordinasi Kacau
GUNUNG SITOLI - Pemerintah dinilai lamban menyalurkan bantuan bahan pangan dan obat-obatan ke korban gempa di Pulau Nias. Bantuan bertumpuk di tempat-tempat yang sulit dijangkau masyarakat.
Selain itu, koordinasi pembagian bantuan masih kacau sehingga banyak warga yang tidak memperoleh bantuan.
''Tolong dicatat, Pak, bantuan pangan seperti beras dan mi instan belum kami terima sampai hari ini. Kami mendatangi pendopo Bupati, namun juga tidak mendapatkan apa-apa. Akhirnya kami nekat dan sengaja mengungsi di pendopo ini sampai bisa mendapatkan makanan untuk keluarga kami yang lapar," kata Nur Tobing, warga Jalan Kelapa, Gunung Sitoli, kepada Pembaruan, Kamis (31/3) pagi.
Dia mengeluhkan aparat pemda setempat yang kurang memperhatikan kebutuhan warganya.
Tidak ada tindakan nyata dari mereka untuk lebih dulu mengutamakan korban atau pengungsi daripada sibuk mengurusi pejabat atau ta-mu dari Medan dan Jakarta. "Kami tahu di pendopo banyak bahan pangan,'' katanya.
Keluhan yang sama diungkapkan oleh Kamal Jay, Pendeta Gereja Banua Niha Keriso Protestan (BNKP) Gunung Sitoli. Ia mengatakan, koordinasi pembagian bahan pangan oleh pemda setempat masih semrawut.
Menurut dia, banyak warga yang belum menerima bantuan.
Masalahnya, pemda menyalurkan bantuan melalui kepala-kepala desa. Namun, distribusi melalui sistem ini tidak berjalan baik karena para kepala desa juga sibuk mengurus keluarganya yang menjadi korban gempa.
Untuk itu, dia meminta pemerintah sebaiknya menyalurkan bantuan langsung ke posko-posko pengungsi ataupun ke kelompok-kelompok warga yang secara swadaya mendirikan tenda pengungsian.
Kamis pagi, bantuan obat-obatan, pangan, tim relawan serta pasukan TNI merapat di dermaga Pelabuhan Gunung Sitoli. Bantuan dibawa oleh beberapa kapal perang TNI. Bantuan berupa alat-alat berat masih belum bisa dibongkar disebabkan kapal-kapal masih antre untuk berlabuh.
Warga masih antre untuk memperoleh bahan bakar minyak. Antrean panjang terjadi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum di Jalan Diponegoro, Gunung Sitoli. Pembelian pun dibatasi dan setiap warga hanya diberi jatah dua-tiga liter.
Warga Nias juga mulai mengeluh dengan langkanya minyak tanah. Harga minyak tanah melambung mencapai Rp 5.000 per liter.
Warga yang rumahnya rusak sangat membutuhkan distribusi air bersih. Sedang jaringan telepon masih belum beroperasi dan listrik masih padam.
Mengeluh
Sejumlah pengungsi di Biara Kapusin Laverna Gunung Sitoli juga mengeluh kekurangan bahan makanan. Kristinus, pengungsi di biara yang terletak di atas bukit itu, mengeluhkan tidak adanya bantuan logistik untuk para pengungsi, paling tidak di tempat pengungsiannya.
Mereka terpaksa memakan sisa-sisa makanan dari rumah mereka yang sempat diselamatkan. Mereka juga membeli mi instan di sejumlah kios yang masih buka di Kota Gunung Sitoli.
Sejumlah toko di Gunung Sitoli masih buka, tetapi persediaan barang sangat terbatas. Harga beberapa bahan kebutuhan seperti air mineral melambung dari harga biasanya sebelum gempa.
Relawan mulai berdatangan Kamis pagi. Puluhan relawan Palang Merah Indonesia cabang Medan baru tiba di Gunung Sitoli. Mereka langsung membuka posko di lapangan, di depan Pendopo Bupati. Rencananya mereka akan berada di Gunung Sitoli hingga 13 April 2005.
Sementara itu, evakuasi mayat-mayat yang masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan masih terus dilakukan. Tetapi, sebagian besar masih dikerjakan secara manual, karena kekurangan alat-alat berat.
Di Pendopo Bupati Nias, tempat para pejabat berkumpul, belum ada data resmi jumlah korban meninggal dan yang dinyatakan hilang. Hingga wartawan pun kesulitan mencari data resmi tentang korban yang meninggal.
Ujian
Para siswa di Nias dan Simeulue tidak akan dipaksakan mengikuti ujian nasional sesuai jadwal. Kepada mereka akan diberikan dispensasi khusus, baik berupa perubahan jadwal maupun bentuk ujian yang berbeda dengan daerah lain.
Meski begitu, untuk dapat lulus para siswa tersebut harus tetap mengikuti sebuah ujian.
Demikian disampaikan Direktur Pendidikan Menengah Umum (Dikmenum) Depdiknas Zamroni ketika dihubungi di Jakarta, Kamis.
"Kita belum tahu bentuk ujiannya seperti apa, tetapi yang jelas mereka harus ikut ujian. Pertama, jadwal ujian nasional bagi mereka diundur bila tidak memungkinkan diadakannya ujian. Kedua, mungkin ujian khusus buat mereka, yang berbeda dengan daerah lain," katanya.
Sesuai jadwal, ujian bagi siswa tingkat SMA adalah 30 Juni- 1 Juni. Jadwal tersebut bergeser dari jadwal semula yaitu 9-11 Mei. Sementara bagi siswa SMP adalah 6-8 Juni, dan ujian susulan 13-15 Juni.
Alternatif lain yang dapat diikuti para siswa adalah mengikuti ujian nasional tahap kedua, yaitu tanggal 3-5 Oktober bagi siswa SMA dan SMP. Ujian tahap kedua ini pun ada ujian susulan yaitu 10-12 Oktober.
Kirim Pejabat
Gubernur Sumut T Rizal Nurdin menginstruksikan Sekretaris Daerah Provinsi untuk segera mengedrop sedikitnya 60 pejabat eselon II dan III ke Kabupaten Nias serta Nias Selatan untuk mengendalikan pemerintahan di sana. Pemerintahan di kedua kabupaten tersebut lumpuh akibat gempa Senin malam lalu.
"Gubernur yang berada di lokasi bencana sejak 29 Maret melihat pemerintahan Nias kurang berfungsi. Dia minta segera dikirim pejabat ke sana untuk membantu roda pemerintahan di Gunung Sitoli," ujar Wakil Ketua Posko Bencana Alam di Medan, Brigjen Abadi Hasan didampingi Kepala Badan Informasi dan Komunikasi (Infokom) Sumut Drs RE Nainggolan MM, Rabu.
Dia menjelaskan, lumpuhnya pemerintahan di Nias dan Nias Selatan akibat sebagian besar jajaran birokrat mengungsi. Mereka trauma dan menjadi korban gempa bumi itu.
Menurutnya, komunikasi Nias - Medan belum berfungsi seutuhnya meski pihak-pihak terkait terus berupaya memperbaikinya.
Kepala Badan Infokom Sumut RE Nainggolan menyebutkan, bantuan kemanusiaan berupa tenda 150 kotak, air mineral 1.423 kotak, l unit genset, mi instan 522 kotak, beras 1.170 karung, makanan bayi 200 kotak, bubur bayi 600 kotak, dan makaroni 450 kotak sudah dikirimkan ke Nias.
Alat Berat
Kurangnya alat berat mempersulit aparat untuk mengevakuasi korban gempa di Gunung Sitoli, Kabupaten Nias, kata Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Drs Iwan Pandjiwinata di Medan, Rabu, setelah meninjau lokasi bencana. Selain alat berat, sarana transportasi juga tidak memadai.
"Dari segala sisi banyak kekurangan yang menghambat proses evakuasi di Nias. Hal yang dikhawatirkan kalau stok bahan baku makanan untuk korban gempa menipis. Hal ini harus diantisipasi," kata Kapolda.
Iwan Panjiwinata mengatakan, stok bahan bakar minyak juga menipis. Untuk itu perlu segera ditambah pasokan BBM ke daerah tersebut.
"Jumlah pasokan BBM yang dibutuhkan memang belum dapat dipastikan. Semua komponen pemerintahan diharapkan segera memulihkan kondisi di daerah itu, seperti perbaikan listrik, pengadaan BBM, dan lainnya," jelasnya.
Waspada
Pergerakan lempeng di sekitar wilayah barat Pulau Sumatera diperkirakan masih akan berlangsung dengan konsentrasi tumbukan masih tinggi.
Hal ini akan mengakibatkan gempa lain di sekitar wilayah itu, apalagi masih ada siklus 200 tahunan gempa, yang pernah terjadi di Kepulauan Mentawai pada 1883.
Demikian siaran pers Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengenai hasil penelitian lembaga tersebut berkerja sama dengan California Institute of Technology (Caltech), yang diterima Rabu.
Hasil penelitian menyimpulkan kemungkinan terjadinya gempa di daerah sekitar Kepulauan Mentawai, sehingga masyarakat harus mewaspadainya.
Dikatakan, wilayah ini memiliki potensi gempa yang tinggi karena pergerakan konsentrasi tumbukan sejak gempa Aceh hingga gempa Nias memperlihatkan pergerakan ke arah selatan.
Ditambah lagi di Kepulauan Nias pernah terjadi gempa pada 1883, yang menurut perhitungan akan mungkin terjadi lagi dalam waktu 200 tahun. Jadi, diperkirakan ada konsentrasi tumbukan lempeng yang belum terlepaskan di bawah Kepulauan Mentawai.
Aceh
Dari Banda Aceh dilaporkan, lebih dari 50.000 warga Kabupaten Kepulauan Simeulue, Nanggroe Aceh Darussalam, mengungsi ke gunung-gunung. Mereka kekurangan bahan pangan, obat-obatan, dan tenda.
Sebanyak 17 korban tewas berhasil dievakuasi dan tujuh kecamatan masih terisolasi. Dilaporkan banyak korban tertimbun di reruntuhan puing bangunan.
Demikian dikatakan Bupati Simeulue, Drs Darmili, Rabu, saat dikonfirmasi via telepon satelit di Sinabang, ibu kota Simeulue.
Dikatakan, ketika terjadi gempa disusul dengan naiknya air laut ke kabupaten kepulauan itu sejumlah bangunan rumah penduduk, kantor pemerintah, rumah sakit, dermaga, serta lapangan udara hancur.
Akibatnya sebanyak tujuh dari delapan kecamatan di Simeulue hingga Rabu masih terisolasi. (M-17/A-21/A-22/AHS/ 151/K-11/147)
---------- Last modified: 31/3/05
Internal Virus Database is out-of-date. Checked by AVG Anti-Virus. Version: 7.0.300 / Virus Database: 266.7.2 - Release Date: 3/11/2005
____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

