Assalamualaikum.Wr.Wb.
Karena saya kira diskusi hadist ini ada manfaatnya,
maka saya copykan ke milist ini.
Waalaikumsalam.Wr.Wb.
Pagi sekali, setelah shalat subuh saya ingin
melanjutkan skripsi saya. ( Saat ini memang saya
sedang menulis dan meneliti sekitar 450 hadist
manuscrif dari Imam As Shuyuthi, disana saya bagaikan
orang yang bersawah, mulai dari memilih benihnya,
membajak, serta menggemburkan, menanam, dan menyabit,
sampai dipanen dan dijual kelaknya, maksudnya mulai
dari tulisan tangan asli Imam As Shuyuti, yang sangat
kecil sekali, harus pakai kaca pembesar untuk
membacanya, kemudian saya mentakhrij yaitu mencari
dibuku2 lain apakah hadist tersebut ada dibuku-buku
mana saja, baik terhadap kode yang disampaikan
Syuyuthi ataupun bukan, setelah itu saya mencari satu
persatu perawinya(sanad), dari berbagai jalan
tersebut, dan perawi hadist harus saya cari dari buku2
sejarah, juga buku2 jarah wa ta'dil, (mencacatkan atau
mengadilkan perawi), setelah itu saya harus
menerangkan kata-kata gharif(aneh), yang harus diambil
dari berbagai kamus, juga buku2 yang berkaitan dengan
hal tersebut, setelah itu saya harus menjelaskan
maksud hadist sebenarnya dari berbagai kalangan ulama
, baik dari hukum fiqh, ataupun lainnya, menta'liqnya,
mengomentari bagaimana kedudukan hadist tersebut,
bertentangankan, bersesuaiankan, nasikh
walmansukhkah..dsbgnya..pada akhirnya memberikan
derajat hadist tersebut bagaimana ).
Baik, karena kelihatannya mak Boes, masih belum puas
akan jawaban2 dari sanak Azhari(padahal sudah jelas
sekali menurut saya). Mungkin mak Boes hanya ingin
saya ikutan nimbrung aja kali, bukan ngak puas, tapi
agar saya ikut meramaikan suasana.
--- muchny effendi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Assalamu'alaikum wR.wB
>
> Mal Boes .... Ikuik komentar saketek....
>
> Masalah "Paduto" jo "Otaknya lemah", iko hanyo
> komentar dari Uni Rahima
> (caliak dibawah)
>
> Wassalam
> M_Ef
>
> ----- Original Message -----
> From: "boes" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Thursday, April 07, 2005 6:49 AM
> Subject: [surau] hadits dha'if (atau dlaif)
>
>
> >
> > Sanak ambo Azhari:
> >
> >
> > tadi katanya di ilmu hadits -menurut Rahima- kalau
> > perawinya panduto dll maka produk haditsnya dhaif,
> > disini oleh oom Salman Fauzan kok nggak dibilang
> > begitu tapi kategori dhaif itu cacat.
> > nah cacat disini yg bagaimana dan apa maksudnya?
> > apa kecacatan itu karena panduto dll, kan nggak
> jaleh.
Mak Boes, hadist itu secara garis besar terbagi kepada
tiga. Hadist shahih, Hasan dan Dha'if(bukan dlaif).
nantik dari ketiga hal diatas terbagi lagi(punya
cabang, kayak pohon begitu lho mak).
Nah,..ada cacat atau istilahnya 'illah, bukan cacat
tubuh maksudnya mak (termasuk dari pembagian hadist
dha'if)
Panduto(Mudallas), juga bagian dari hadist
dhai'if.Mudallas ini sendiri bagian dari 'illah
(cacat) tadi, bisa cacatnya (pendustanya)tersembunyi
atau terang2an ( seperti orang biasalah, kadang ada
yang secara terang2an ia berdusta, terkadang ngak
ketahuan orang ramai ia berdusta, setelah diteliti
ternyata ia berdusta, ini namanya illah al khafi,
cacat yang tersembunyi dalam ilmu hadist.
Lah jaleh di Mak Boes tu ndak?.
Okay..masih belum jelas,.saya komentari yang dibawah
lagi.
> >
> > tapi sekali lagi aneh, kok orang panduto dll
> berani
> > mengeluarkan hadits dan masih dihitung oleh
> > pendukungnya untuk didudukkan di peringkat
> > perawi, sabana aneh tu mah Sanak ambo Azhari.
> > Ambo mamacik kato� Rahima dan alun ado penjelasan
> > yg tuntas soal sang panduto dll diperbolehkan
> > membikin hadits dan dia didudukkan sebg perawi,
> hatta
> > dhaif sekalipun.
Mak Boes bagi ulama, kalau perawinya panduto hadist
dari jalannya ditolak mak Boes.
Mak Boes tanya koq masih diterima?
Bukan diterima mak Boes, tapi hadist tesebut di
perlihatkan ntk memberikan perbedaan pada kita. " Ini
nih..hadist dari jalan si A lemah, karena ada
perawinya yang berdusta". Trus, koq masih diterima
juga?(matan hadist tersebut?)
Begini mak Boes, hadist tersebut punya banyak jalan.
Jalan si A tadi dha'if(lemah), karena ada cacatnya,
yaitu salah seorang perawinya pendusta. Nah jalan si A
tadi ngak dipakai. Sementara ada matan(lafaz) dari si
B yang sama lafaznya atau semakna dengan hadist
tersebut, dan semua perawinya Tsiqqah(dipercaya), maka
hadist tersebut diterima mak Boes, bukan dari jalan si
penduto tadi, tapi dari jalan si B yang Tsiqqah
(dipercaya) tadi.
Bagaimana mak Boes ?
Kalau dikaji ilmu hadist ini sangat panjang, tapi
sebagaimana imam Ali, tatkala beliau ditanya tentang
dunia beliau menjawab mau jawaban pendek atau panjang.
Sahabat bilang "pendek saja". ada sahabat lain bilang
" tambah lagi, panjangkan !".
Tapi disini karena hari sudah mulai terang, saya mau
siapin sarapan dulu mak Boes, semoga jawaban ini
memuaskan.
Wassalam. Rahima.
> > namun tarimo kasih alah manolong ambo untuak
> mandapekkan
> > artikel dibawah ini.
> >
> > wassalam,
> > boes
> >
> > ----- Original Message -----
> > From: "Azhari" <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: <[EMAIL PROTECTED]>
> > Sent: Tuesday, April 05, 2005 11:01 PM
> > Subject: RE: [surau] FW: [partai-islam] Irwan
> Prayitno : Calon Gubernur
> Anti
> > Rakyat
> >
> >
> >
> > Mudah-mudahan mak Boes indak maraso aneh lai...
> sasudah mambaco artikel
> > dibawah.
> >
> > Azh
> >
> > MENGENAL ISTILAH-ISTILAH HADITS NABI
> > Oleh Salman Fauzan
> >
> > Hadits sendiri dibagi tiga hal yang utama :
> > - Sanad = perjalanan para rawi
> > - Matan = isi dari hadits tersebut
> > - Rawi = yang meriwayatkan hadits tersebut
> >
> > Contoh Sanad
> > Al Bukhari > ... > ... > ... > ... > Nabi Muhammad
> > (Musnad = orangnya)
> >
> > Istilah-istilah hadits nabi
> > 1. Hadits shahih = hadits yang sanadnya bertemu
> langsung dengan Rasul
> > (mutashil), dalam keadaan adil dalam berbagai
> aspek ('aduwul), kuat
> > hafalannya (dlaabithin), dan tanpa ada cacat
> (bilaasudzuudzuwa laa 'illah)
> >
> > Penjelasan singkat :
> > Sanad harus bersambung secara langsung dengan
> Rasulullah tanpa terputus
> satu
> > orang pun, dan kesemuanya itu bertemu secara
> langsung. Misalkan : A
> bertemu
> > B, B bertemu C, C bertemu D. Jika misalnya D hanya
> mendengar dari C tanpa
> > bertemu langsung misalkan melalui perantara atau
> surat,atau sarana
> lainnya,
> > maka hadits tersebut tidak bisa digolongkan
> shahih. Jadi harus bertatap
> muka
> > langsung dan kesemuanya itu bersambung sampai
> Rasulullah.
> >
> > Keadaan adil artinya, perawi hadits memiliki
> perilaku ahlak yang baik yang
> > tanpa cacat sedikit pun .
> > Kuat hafalannya, artinya, tidak ada satu kata pun
> yang berubah, dari satu
> > perawi ke perawi yang lain, sampai kepada
> rasulullah. Bahkan perubahan
> kata
> > "dan" menjadi hilang atau berubah menjadi "atau",
> maka hadits itu bisa
> > digolongkan tidak shahih, sehingga hafalan kuat
> itu harus dapat
> dibuktikan.
> >
> > Tanpa cacat, dimaksudkan dari segi perawian
> hadits, masuk akal, misalkan
> > satu zaman dengan perawi yang lainnya. Tidak
> mungkin perawi satu dengan
> > perawi yang lainnya tidak bertemu, dan dilihat
> dari segi sejarah, tidak
> ada
> > cacat sejarah. Dan pertimbangan-pertimbangan
> lainnya.
> >
> > 2. Hadits Hasan = hadits yang syarat-syarat nya
> seperti derajat hadits
> > shahih, namun berada di bawah tingkatannya dari
> hadits shahih.
> >
> > At Turmudzi berkata, "Hadits hasan ialah hadits
> yang di dalam sanadnya
> tidak
> > terdapat muttaham (perawi yang tertuduh dusta),
> tidak syadz(ganjil atau
> > janggal), dan diriwayatkan tidak dari satu jalur.
> > Ibnu Ash Shalah membagi hadits hasan menjadi dua
> bagian:
> > - Hadits yang rijal sanadnya terhindar dari sifat
> lupa dalam
> > meriwayatkan. Hadits tersebut diriwayatkan oleh
> perawi lain yang setaraf
> > atau setingkat dari jalur periwayatan lain.
> > - Hadits yang perawinya terkenal jujur dan dapat
> dipercaya. Akan tetapi
> > , tingkat perawinya di bawah tingkat perawi-perawi
> hadits shahih dari segi
> > hafalan dan keteguhan hafalan.
> >
> > Selanjutnya, sebagian muta-akhirin mengatakan,
> "Dasar untuk mengetahui
> > hadits hasan ialah dengan cara mengetahui hadits
> shahih dan dan dlaif
> karena
> > posisi hadits hasan itu terletak di antara
> keduanya.
> >
> > 3. Hadits dlaif = hadits yang derajatnya di bawah
> derajat hadits shahih
> > dan hadits hasan dan ada hilang/cacat dari salah
> satu syarat sahnya
> > hadits. Tingkat kedlaifan hadits itu bergantung
> kepada sejauh mana
> > persyaratan kesahihan itu dimiliki.
> >
> > Menurut ulama hadits, boleh menggunakan hadits
> dlaif selain dari hadits
> > maudhu (palsu) dalam masalah mawa'izh(nasihat),
> qashash (kisah-kisah), dan
> > fadla'il a'mal (keutamaan amal), bukan masalah
> sifat-sifat Allah SWT,
> bukan
> > pula masalah hukum halal dan haram tanpa
> menyebutkan nilai haditsnya.
> >
> > Sebagian ulama lain mengatakan, "Ada sebagian
> pengikut Nasa'i yang
> > menggunakan hadits yang belum spakat ditinggalkan"
> >
> > Abu dawud mengikuti pendapat An Nasa'i, yakni
> menggunakan hadits dlaif
> bila
> > tidak menemukan dalam permasalah itu di tempat
> lain selain hadits dlaif.
> Dan
> > ia lebih mengutamakan hadits dlaif daripada
> pendapat ulama.
> >
> > Maraji :
> > [1] Al Mukhtashar fii ushuulilhadiits, Imam Abul
> Hasan Al Jurjani [2]
> Syarh
> > Arba'in An Nawawiyah, Imam Nawawi
> >
> > -----Original Message-----
> > From: boes [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> > Sent: Wednesday, April 06, 2005 9:35 AM
> > To: [EMAIL PROTECTED]
> > Subject: Re: [surau] FW: [partai-islam] Irwan
> Prayitno : Calon Gubernur
>
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - Find what you need with new enhanced search.
http://info.mail.yahoo.com/mail_250
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________