Assalamualaikum.Wr.Wb.

B. Salah satu kewajiban seorang ayah terhadap anaknya
adalah “ Memilihkan untuknya nama-nama yang baik
“.

Mohon maaf sebelumnya bagi kita-kita yang kebetulan
namanya berasal dari negeri Barat, bukan maksud saya
menyinggung, saya menulis, ada yang dikenal dan ada
yang tidak dikenal, tulisan ini saya terjemahkan dari
buku : “ Bagaimana menjadi ayah yang baik
karangan Adil Fathi Abdullah “, dan saya menulis
ini secara umum. Karena bukan berarti pula yang
bernama diluar nama yang disukai Allah dan rasulNya,
lantas orang itu tidak baik. Tapi memang Islam
mengajarkan kita ummat islam, mulai dari
sekecil-kecilnya, masalah sepertinya sepele,sampai
kesebesar-besarnya. Tugas saya hanya menyampaikan.

Sangat banyak dizaman sekarang para ortu menamai
anak-anaknya dengan nama diluar nama Islam, tetapi
lebih senang menamai anaknya dengan nama dari Barat,
biar kelihatan lebih keren atau lebih bergengsi atau
bagaimana, sayapun kurang tahu juga.

Padahal didalam hadist shahih disebutkan : “
Percantiklah nama kamu juga namailah anak-anakmu
dengan nama-nama yang baik, sesungguhnya kamu kelak di
hari kiamat akan dipanggil dengan nama kamu dan nama
anak-anak kamu “.( H.R Abu Daud, Ahmad dan
lainnya).

Juga sabda beliau : “ Sebaik-baik nama adalah
Abdullah dan Abdurrahman “.
Kebanyakan para ortu dikarenakan kurang imemahami akan
hal ini maka mereka sering lalai dalam penamaan yang
sesuai dengan islam. 

Bahasa Arab adalah bahasa AlQuran, sementara bahasa
AlQuran adalah bahasa ahli surga. Bagi kita yang ingin
mengembangkan bahasa Arab, bahasa AlQuran, sebaiknya
mulai dari sekecilnya, menamai anak, dipilihkan nama
dari Arab(tapi ingat ! bukan sembarang bahasa Arab,
maksudnya yang baik artinya). Dengan menamakan anak
kita dengan bahasa AlQuran, berarti kita turut
mengembangkan bahasa tersebut, mempopolerkannya
ditelinga khalayak ramai, sehingga tak asing lagi
bahasa Arab itu ditelinga siapapun. Hanya sayangnya
kebanyakan dari kita merasa rendah atau malu bila nama
kita Siti ‘Aisah, Zainab, Abdullah, dsbgnya.
Kita lebih senang menamakan anak kita dengan
Bilclinton, Monica, dsbnya..

Rasulullah menggantikan nama-nama istri, juga para
sahabat lainnya, yang mulanya nama mereka ngak baik,
diganti menjadi baik, seperti “ Murrah
“(pahit) diganti dengan “ jamilah(cantik),
ada juga nama sahabat sebelumnya “
Sakhrah”(padang pasir), harb(perang), dan
lainnya, semua diganti oleh rasulullah dengan nama
yang lebih baik lagi.

Salah satu kewajiban ayah adalah mengaqiqahkan anak
yang baru lahir, namun hal ini bukan yang kita  bahas,
karena berbagai pendapat ulama didalamnya, dan kita
bukan disini pembahasannya. 

C. Kewajiban ayah adalah memberikan pada anak
pemahaman tentang agama.

Wahai sang ayah yang muslim, anak kita bagaikan adonan
tepung ditangan kita. Kitalah yang akan membentuknya,
menjadi apa, sebagaimana yang kita suka.

Anak kita lahir dalam keadaan fitrah, suci, bening,
anak-anak lebih dekat pada kebaikan dan keimanan
ketimbang membangkang dan kejahatan, maka semailah
biji itu dengan biji yang baik, maka kelak kita akan
menuai benih dan hasil yang baik juga.

Rasulullah SAW bersabda : “ Setiap yang lahir,
dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka dua ibu
bapanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani
“.

Anak, sebaiknya sudah disuruh shalat mulai dari umur
tujuh tahun dan dipukul bila ia berumur 10 tahun bila
ngak mau juga(dipukul sayang bukan mencelakakannya). (
Bahkan realitanya, anak sudah bisa di suruh shalat
sejak 4-5 thn, pas 5-6 tahun insyaAllah ia sudah bisa
bacaan shalat, ketiga tujuh tahun tinggal gampang,
karena sudah dibiasakan sejak kecil lagi).

Bagaimanapun, “ Belajar diwaktu kecil, bagai
mengukir diatas batu, belajar sesudah dewasa bagai
mengukir diatas air”. Jangan kita heran, kalau
ketika anak besar tak tahu bacaan shalat, tak tahu
tulis baca AlQuran, tak berakhlak yang baik, ngak tahu
akan Tuhannya, nabinya, tak tahu agamanya, bila sejak
kecil kita mencuekinya dalam permasalahan yang teramat
penting ini.

Percayalah wahai para ortu, mendidik anak pemahaman
tentang agama bagi yang sudah besar akan lebih repot,
ketimbang mendidik mereka agama sejak kecil lagi. Kita
tidak akan kesulitan, tak akan capek keluar tenaga dan
mulut un tuk mengajarkan lagi ini dan itu, cukup hanya
mengingatkan saja, bila hal ini sudah kita ajarkan
sejak dini lagi.

Sebaik-baik dan sebesar-besar pemberian yang diberikan
ortu pada anaknya, bukan dengan memewahkan mereka
dengan harta kekayaan, bukan,.tetapi yang terbaik dan
suatu kewajiban kita sebagai ortu adalah dengan
memberikan anak pemahaman tentang agama.

Dalam Atsar : “ Ajarkanlah anak-anak kamu tiga
hal, cinta nabi kamu, cinta keluarga nabi, juga baca
AlQuran”.

Kita lihat orang yahudi dan Nasrani zaman dahlu kala,
mereka mengenal rasulullah, lebih ketimbang mereka
mengenal anak-anak mereka sendiri. Mereka l tahu
sejarah rasulullah, sebagaimana mengetahu anak-anak
mereka sendiri. Lihatlah betapa mereka lebih tahu
tentang rasulullah, ketika ditanya pada mereka, karena
mereka mempelajari sejarah rasulullah. 

Dalam AlQuran sudah dijelaskan hal ini dengan
firmanNya : “ Ya’rifuunahu kama
ya’rifuuna abnaaahum “( mereka mengenal
rasulullah, sebagaimana mereka mengenal anak-anak
mereka sendiri).
Bagaimana dengan zaman sekarang? Apakah anak-anak kita
faham sejarah kehidupan rasulullah, siapa beliau,
ayahnya, ibunya, gelarnya, perjuangan beliau dan
sebagainya? Betapa banyak diantara kita anak-anak kita
lebih hafal flim doraemaon, sinchan, atau siapa lagi.
Hafal luar kepala mereka.(padahal kalau kita teliti
cerita doraemon itu, yang kalau saya tak salah, semua
serba ajaib, bisa diciptakan saja, mau apa langsung
ada, ngak kerja, jadi malas, karena ada kantong
ajaiblah, atau apalah namanya) 

Kita para ortu hendaklah yang pertama kali cerita yang
kita ceritakan hendaknya cerita sejarah kehidupan
rasulullah SAW, bkan cerita sikancil, pencuri ketimun,
akhirnya terpatrilah diotak anak sikancil yang cerdik
suka mencuri, maka tak heran betapa banyaknya para
koruptor dinegeri ini, wong sejak kecil sudah
diajarkan cerita licik lagi. Juga kijang  atau monyet,
yang penipu, para buaya disuruh berjejer agar ia bisa
menyeberang, maka tak heran, banyak diantara kita
bersikap licik, bukannya cerdas atau pintar
sebagaimana kecerdasan dan kejujuran rasulullah SAW.

Sebaiknya buku-buku cerita yang dibaca oleh anak-anak,
diseleksi atau telah dibaca dulu oleh para ortu. 

Betapa kita banyak mengajarkan anak dengan berbohong
dengan cerita-cerita kita tentang hantu/drakula,  yang
akan menghisap darah, dan sebagainya.

Betapa tanpa kita sadari kita menjawab pertanyaan anak
bukan jawaban yang benar, tetapi asal jawab saja, tak
jarang penuh kedustaan. Padahal, jawaban kita pertama
sekali akan terus lengket dan menempel di otak anak
kita sampai besar, jangan kita berbohong sekecil
apapun jawablah dengan jawaban jujur sesuai dengan
logika anak, ngak perlu lari dari pertanyaannya. Itu
sebabnya, sebelum mengajarkan anak, para ortu dituntut
untuk belajar dan lebih pintar lagi, karena ortu
adalah panutan dan contoh tauladan anak-anaknya. (
kita ingat awal sekali, kewajiban ayah adalah mencari
ibu bagi sang anak yang berpengetahuan, jujur, cerdas,
dan faham agama). 

Ini dia kaitannya. Jadi islam itu tidak sia-sia dalam
ajarannya, semua ada hikmahnya. Karena istri lebih
banyak dirumah, lebih banyak mendidik anak, maka yang
sangat dipentingkan Islam bagi lelaki adalah memilih
istri, atau calon ibu dari anak-anaknya.

Anak-anak sangat suka akan cerita…

Bersambung….

Wassalam. Cairo 5 mei 05 Rahima. (36thn)


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

_______________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke