---------- Forwarded message ----------
From: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: May 9, 2005 1:19 PM
Subject: Partai-partai Politik dalam Perangkap Krisis
To: 

dari KOMPAS edisi sabtu 7 mei 2005

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0505/07/Fokus/1734006.htm

Partai-partai Politik dalam Perangkap Krisis

KRISIS identitas dan tak memiliki ideologi. Itu gambaran umum partai-partai
politik di Indonesia dewasa ini. Krisis identitas dan tak adanya ideologi
ini membuat arah partai tak jelas dan sulit membedakan partai satu dengan
yang lain. Para tokoh dan elite parpol pun tak mampu memberikan contoh
panutan yang baik bagi kader dan masyarakat. Mereka lebih sibuk
gontok-gontokan dan bagi-bagi kekuasaan ketimbang mengembangkan konsep
pemikiran alternatif mengenai bagaimana membenahi persoalan-persoalan
bangsa.

PENGAMAT politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin
Haris mengatakan, sebagian besar partai sekarang ini mengalami krisis
identitas. Pada masa sebelum tahun 1945, peran partai-partai politik kita
jelas, yakni sebagai bagian dari perjuangan kemerdekaan. Tahun 1950,
konteks parpol secara umum untuk mengisi kemerdekaan atau membangun
Indonesia merdeka.

Pada masa demokrasi terpimpin Soekarno, partai dituntut menjadi bagian dari
revolusi yang belum selesai. Kemudian, pada zaman Soeharto, partai dituntut
dan direkayasa sedemikian rupa untuk mendukung stabilitas, pembangunan, dan
pertumbuhan ekonomi.

Pasca-Soeharto, parpol-parpol dituntut untuk merumuskan mau di bawa ke mana
bangsa ini. "Dan ini belum dilakukan meski secara parsial memang muncul.
Demokratisasi, pemerintahan yang bersih, antikorupsi, penegakan supremasi
hukum, dan segala macam itu semua partai punya. Cuma bagaimana hal itu
diperjuangkan, belum sepenuhnya solid dalam visi parpol-parpol," ujarnya.

Kondisi seperti itu menyebabkan sulit membedakan satu partai dengan partai
lainnya. Akibatnya, pilihan pemilih terhadap partai lebih banyak didasarkan
pada faktor-faktor yang sifatnya tak rasional, seperti kultural, agama, dan
ketokohan (figur yang populer), tanpa dilandasi pengetahuan yang memadai
mengenai visi partai bersangkutan tentang masa depan bangsa ini.

Kondisi seperti itu juga membuat energi parpol-parpol habis untuk soal-soal
yang sifatnya tidak substansial. Konflik-konflik selalu muncul menjelang
atau sesudah kongres atau muktamar partai karena tidak ada diskusi atau
perdebatan yang signifikan dalam partai mengenai soal-soal yang lebih
mendasar. Yang ada hanya ribut-ribut bagi kekuasaan, seperti siapa yang
menjadi ketua umum.

Tidak adanya identitas ini menambah derajat kompleksitas persoalan di dalam
partai, di luar persoalan-persoalan seperti kepemimpinan dan demokrasi
internal yang tak kunjung muncul di dalam partai, sehingga akhirnya juga
memengaruhi kinerja partai secara keseluruhan.

Dalam konteks yang lebih spesifik, krisis identitas ini antara lain bisa
dilihat dari sifat keanggotaan partai-partai politik yang tidak jelas akan
dikembangkan ke mana, yakni apakah akan membuat partai kader atau partai
massa, atau gabungan kedua-duanya? Contoh partai massa adalah Partai
Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Amanat Nasional (PAN).

Sedangkan contoh partai kader adalah PKS, di mana jelas ada kader-kader
yang dibina. Tidak jelasnya sifat keanggotaan itu disebabkan oleh basis
massa yang tidak jelas, kecuali partai-partai yang sejak awal
identifikasinya memang kultural, seperti PKB dengan basis massa nahdiyyin
dan PAN dengan basis massa Muhammadiyah-nya.

"Padahal, mestinya parpol itu lebih diikat oleh kesamaan platform atau
visi, bukan kesamaan identitas kultural, seperti sama- sama NU, sama-sama
Muhammadiyah, atau lainnya. Hal sama juga terjadi di Golkar, yang ikatan
anggotanya lebih karena sama-sama oportunisme, bukan karena persamaan
visi," ujar Syamsuddin.

Sedangkan gabungan partai kader dan partai massa, atau dikenal dengan
istilah catch all party (partai yang merangkul semua), berkembang antara
lain di Eropa. Dalam partai semacam ini, partai tetap mengembangkan sistem
pengaderan, tetapi di sini lain juga mengembangkan pola massa.

Dalam seleksi kepemimpinan, tak ada persoalan dalam partai kader karena
sudah jelas jenjangnya. Dengan demikian, tidak akan terjadi ribut-ribut
seperti terjadi dalam kongres atau muktamar PKB, PAN, atau Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan (PDI-P) lalu. Bedanya dengan partai massa, di partai
massa siapa pun bisa menclok sebagai elite partai tanpa harus melalui
ikatan jenjang pengaderan berkala. Artinya, kalau suatu partai melihat ada
tokoh populer dari luar yang bisa dimanfaatkan sebagai pemimpin partai, ia
bisa ditempatkan di situ.

SELAIN krisis identitas, sebagian besar parpol di Indonesia tidak memiliki
ideologi. Kalaupun ada, yang disebut ideologi itu tak lebih hanya aksesori,
tidak menjadi acuan dalam tingkah laku para elite dan dalam perjuangan
politik partai bersangkutan. Dengan demikian, keberadaan ideologi itu hanya
simbolis.

"Contohnya adalah apa yang terjadi di PDI-P. Kalau memang benar PDI-P
sungguh commit pada wong cilik, mengapa itu tidak tercermin dalam tingkah
laku para elite atau kebijakan di legislatif? Juga kenapa kalau
ideologisnya nasionalis, pada pemerintahan Megawati, banyak aset negara
dijual?" katanya.

"Soal apakah ada pilihan lain, itu soal lain. Elite partailah yang harus
melihat kembali apakah ideologinya itu masih relevan. Ideologi harus
menjadi semacam safety belt dalam situasi seperti apa pun," ujarnya.

Di PAN, hal itu ditunjukkan oleh sikap PAN dalam penyusunan calon anggota
legislatif yang masih melihat apakah calon bersangkutan Muhammadiyah atau
bukan. Padahal, partai ini selalu mengklaim dirinya sebagai partai terbuka.
Hal yang sama terjadi di PKB.

MENURUT pengamat politik dari Centre for Strategic and International
Studies (CSIS) J Kristiadi, partai-partai politik di Indonesia sebenarnya
belum menjalankan kodratnya sebagaimana layaknya sebuah parpol seperti
dipraktikkan di negara-negara lain, terutama negara-negara maju. Di negara-
negara maju, partai-partai politik memiliki tiga fungsi atau tripartit,
yakni fungsi dalam pemilu, fungsi dalam organisasi, dan fungsi dalam
pemerintahan.

Dalam pemilu, partai harus bisa menyederhanakan pilihan- pilihan bagi para
pemilihnya, mendidik warga negara, memproduksi (generate) simbol-simbol
untuk mengikat kesetiaan, dan memobilisasi masyarakat untuk berpartisipasi.
Dalam organisasi, partai-partai politik melakukan rekrutmen, pelatihan,
artikulasi kepentingan, dan agregasi.

Sementara dalam pemerintahan, mereka harus menciptakan mayoritas,
mengorganisasikan pemerintahan, mengimplementasikan kebijakan,
mengorganisasikan perbedaan, menjamin pertanggungjawaban, dan melakukan
kontrol.

Dari semua fungsi itu, yang sudah dijalankan oleh partai- partai politik di
Indonesia baru rekrutmen, dalam arti menempatkan orang-orang jika ia
berhasil memobilisasi massa untuk berkuasa. Kegagalan partai- partai
politik menjalankan fungsi yang lain disebabkan mereka tidak memiliki
ideologi atau cita-cita partai yang inklusif dan dilaksanakan dengan baik.

Beberapa partai nasional yang ada, seperti PDI-P, Golkar, PAN, PKB, dan
Partai Demokrat, dinilai juga terlalu pragmatis sehingga memungkinkan
terjadinya shady deals atau deal-deal yang sangat tricky, yang dilakukan
dengan tujuan untuk mendapatkan kekuasaan. "Dengan berkuasa, mereka punya
akses ke hal-hal yang bisa menambah sesuatu yang selama ini diburu, yakni
kekayaan. Sesederhana itu politik di Indonesia sekarang ini," ujarnya.

Seperti halnya Syamsuddin, J Kristiadi melihat apa yang disebut sebagai
ideologi oleh partai-partai yang ada sekarang ini baru sebatas rumusan dan
belum merupakan nilai-nilai yang diinternalisasikan ke para kader. Dari
puluhan partai yang ada, baru PKS yang dinilai memiliki konsep nilai-nilai
yang diinternalisasikan ke para kader ini dan dilaksanakan.

Sementara partai-partai politik yang lain terlalu pragmatis dan menjurus
sangat oportunistis sehingga yang ingin dicapai hanya jalan pintas untuk
berkuasa. Partai menjadi satu- satunya instrumen yang bisa mengubah nasib
orang yang tak jelas menjadi orang yang berkuasa. J Kristiadi melihat, ke
depan, jika partai-partai ini tak bisa membangun suatu ideologi yang solid
dan inklusif serta tak bisa mengurus kader-kader, dalam Pemilu 2009 tak
akan terjadi perubahan apa-apa.

Hal senada diungkapkan Syamsuddin. Ia melihat, ke depan, partai-partai
politik akan disaingi oleh tokoh-tokoh individual yang bisa jadi lebih
besar dari partainya itu sendiri. Contohnya adalah Susilo Bambang Yudhoyono
dengan Partai Demokrat-nya pada pemilihan presiden langsung tahun 2004
lalu. Hal sama bisa terjadi pada pemilu legislatif jika pemilu legislatif
nanti dilakukan lebih langsung.

MENGENAI peta pertarungan menuju 2009, pengamat politik LIPI lainnya,
Mochtar Pabottingi melihat, di tengah perpecahan yang terjadi di beberapa
partai besar sekarang ini, Golkar melenggang sendirian, jauh meninggalkan
partai-partai lain di belakangnya. Partai yang bisa mengimbangi kemungkinan
hanya PKS meskipun agak di belakang.

Tidak kedengaran ada suara gejolak dalam partai pimpinan Tifatul Sembiring
ini. Bahkan, PKS lebih solid ketimbang Golkar dalam hal kepemimpinan, dalam
memegang prinsip, amanah, kebersihan, dan tidak korup.

"Jauh melampaui Golkar. Golkar tak ada apa-apanya dibandingkan dengan PKS
dalam hal ini. Nah, itu yang dirindukan oleh rakyat. Kader-kadernya juga
bagus, tidak hanya di tingkat pimpinan, tetapi sampai ke bawah. Jadi, kalau
menurut saya contender utama Golkar adalah PKS. Ia bisa menggantikan posisi
PDI-P kemarin. Jusuf Kalla sendiri mengakui lawan terberat adalah PKS. PKS
sekarang ini sudah punya captive market. Bahkan PKS bisa mengalahkan Golkar
dalam pemilihan presiden asalkan tidak terjebak pada politicized atau
kepentingan sempit sesaat. Itu bisa saja itu karena pemilih kita cukup
cerdas. Pemilih kita tidak memilih partai lagi, mereka memilih orang,"
ujarnya.

Untuk PDI-P dan PKB, perolehan suaranya diperkirakan mengalami kemerosotan
tajam pada tahun 2009. Selain perpecahan dengan munculnya partai tandingan,
Megawati sebagai ketua umum dinilai juga tidak capable. PDI-P sendiri
dinilai telah mengkhianati komitmen pada wong cilik pada saat berkuasa.

"Imaji Megawati adalah pemimpin yang gagal sudah. Kongres di Bali kemarin
secara prosedural tidak sah. Ia sudah ditinggalkan semua orang kuatnya,
termasuk Laksamana Sukardi, Roy BB Janis, Sophan Sophiaan, Muchtar Buchori,
dan lain-lain. Yang kuat atau punya integritas sudah menyingkir semua. Yang
masih bertahan hanya kelompok-kelompok kepentingan sempit yang sebenarnya
sudah menghancurkan Megawati dan PDI-P. Itu yang tetap membentengi Megawati
dan tetap mengajukan Megawati. Di luar itu, ada kelompok minoritas,
misalnya non-Islam, yang merasa tak punya chance," kata Mochtar Pabottingi,
yang pernah masuk PDI-P dan mengaku sepuluh tahun mendukung Megawati.

Untuk PKB, partai ini dinilai Mochtar tidak memiliki prinsip. "Reputasi
kader NU yang berpolitik itu tidak mempunyai prinsip. Yang ada pada NU
hanya kepentingan-kepentingan sempit sesaat. Ini juga tercermin di PKB.
Padahal, mestinya politik itu ada prinsip untuk bisa nyampur dengan hati
rakyat. Dan itu tak ada dalam tradisi politik NU," katanya.

"Ambil contoh dalam pemilu kemarin, begitu mudahnya mereka berkoalisi
dengan orang- orang yang dianggap antagonis secara prinsip. Seperti
Salahuddin Wahid dengan Wiranto, Hasyim dengan Mega, Gus Dur dengan Wardah.
Karena tak ada prinsip, tak ada pegangan dan tak ada panutan di dalam
partai itu. Dalam kondisi berbeda, bisa bertolak belakang sama sekali.
Dalam sehari bisa berubah 180 derajat," ujarnya lagi.

PPP dinilai tidak jauh berbeda, sama-sama tak punya prinsip. Untuk PAN,
diperkirakan masih akan bisa mempertahankan posisinya pada Pemilu 2004 lalu
di Pemilu 2009, kendati Amien Rais sudah tidak ketua umum. Naiknya
Soetrisno Bachir justru bisa menjegal Fuad Bawazir, atau mencegah
"Golkarisasi" PAN, dan membuat ada kontinuitas kepemimpinan.

Sebaliknya, Golkar dinilai semakin solid, mulai ada visi, dan agak terarah
di bawah Jusuf Kalla. Jusuf Kalla sudah menjanjikan tidak akan menjadikan
Golkar sebagai bungker koruptor dan tidak akan membiarkan pengurus Golkar
mendomplengi proyek-proyek pemerintah. "Kita lihat saja. Bisa saja dia
berubah. Tetapi he said so, dan kelihatannya dia tidak berubah. Memang dia
harus hati- hati supaya dia tidak kehilangan sama sekali para pendukungnya,
tetapi paling tidak imaji sebagai pemimpin yang bagus, dibandingkan dengan
ketua-ketua partai yang lain, dimiliki oleh Jusuf Kalla," ujarnya.

Hal lain yang membantu, kubu Akbar Tandjung sebagai mantan Ketua Umum
Golkar yang dikalahkan Jusuf Kalla tidak berusaha "ngerecokin".

"Jadi posisi Jusuf Kalla cukup kuat di Golkar. Jadi, kalau dikatakan Golkar
itu solid, solid. Jaringan partai ini seperti kita ketahui cukup bagus.
Jadi saya melihat, Golkar jadi berjalan sendiri, jauh di depan. Yang lain
ketinggalan. Ada suara-suara yang mengatakan Golkar mengacaukan
partai-partai lain, tetapi enggak perlu dikacaukan, mereka sudah kacau
sendiri kok," ujarnya.

Ya, begitulah politik. (sri hartati samhadi)

------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for
anyone who cares about public education!
http://us.click.yahoo.com/_OLuKD/8WnJAA/cUmLAA/XgSolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

_______________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke