Mohon maaf sebelumnya, menantunya KH Bisri ( Ulil Abshar ) yang tidak
percaya hukum Tuhan dgn hokum pluralitasnya juga bisa. Nah lho.
mh

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of zul amri
Sent: Wednesday, May 11, 2005 9:48 AM
To: [email protected]
Subject: [EMAIL PROTECTED] Fwd : "Negeri yang serba bisa" .

Minggu, 08 Mei 2005
Jawapost.


APA yang tidak bisa terjadi di negeri ini? Presiden ditipu raja gadungan
atau dukun, bisa. Melihat gerhana matahari diharamkan, bisa. Mengimpor
sampah, bisa. Mati tertimbun sampah, bisa. Mengekspor TKI, bisa. Ibu
membunuh anak, bisa. Ayah atau guru mencabuli anak atau muridnya, bisa.
Ustad jadi polisi, bisa. Preman menjadi hakim atau ustad, bisa. Polisi
mendekengi bandar judi, bisa. 

Copet beberapa rupiah dibakar hidup-hidup, bisa. Koruptor miliaran rupiah
bebas merdeka, bisa. Majelis ulama berjualan label dan ngurusi logo kaset,
bisa. Pelawak jadi dai atau anggota DPR, bisa. Dai atau anggota DPR jadi
pelawak, bisa. Wakil rakyat yang terhormat mewakili tawuran, bisa.
Musyawarah untuk perpecahan, bisa. Politisi minta bantuan Tuhan untuk
memenangkan partainya dalam pemilu, bisa.

Jamaah yang hendak berpuasa Ramadan, minta bantuan pedagang-pedagang warung
agar menutup warungnya di siang hari, bisa. Kiai berkelahi dengan politisi,
bisa. Ustad bertengkar dengan pemusik, bisa. Alumni pesantren mendirikan
sasana tinju, bisa. Mantan petinju mendirikan pesantren, bisa. Puluhan ribu
orang meninggal dalam sekejap, bisa. Apalagi?

Anda bisa memperpanjang daftar hal-hal ganjil, bahkan musykil, yang mungkin
dan sudah pernah terjadi di negeri ini. Jadi masih herankah Anda jika ada
yang punya odo-odo bersembahyang menggunakan bahasa negeri ini, negeri
ganjil ini?

Bangsa negeri ini agaknya memang perlu diruwat (baca: tobat). Banyak orang
di negeri ini yang tak tahu diri, lupa diri, dan atau tidak tahu mengukur
diri sendiri, umumnya gara-gara kepentingan sendiri yang terlalu tinggi. Ada
yang tak punya ijazah sekolah, ingin menjadi pejabat formal. Ada yang hanya
bermodalkan ingin dan dukungan kawan-kawan, mencalonkan diri menjadi kepala
pemerintahan. 

Ada yang belum tamat ibtidaiyah sudah mengustadkan diri. Ada yang punya
hafalan satu-dua ayat dan satu-dua hadis, sudah memubaligkan diri. Ada yang
mengerti sedikit ilmu klenik, sudah mewalikan diri. Dan sebagainya, dan
seterusnya. Boleh jadi ini merupakan sumber, paling tidak salah satu sumber
kekacauan dalam pergaulan hidup kita bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara.

Supaya tidak ngombro-ngombro, berlarut-larut, dan bertele-tele, kita ambil
saja beberapa contoh, yaitu beberapa kasus yang lagi hangat dibicarakan.
Pertama, kericuhan hampir di setiap kongres atau muktamar. Di sini jelas
sekali kepentingan -masing-masing yang bertikai- terlalu tinggi dibanding
penguasaan mereka terhadap makna demokrasi, politik, dan tujuan mulia
berdemokrasi dan berpolitik. Kepentingan sesaat membuat mereka lupa akan
kepentingan yang lebih besar dan kekal.

Contoh lain yang sepele dan dibesar-besarkan adalah soal logo grup musik
Dewa yang melibatkan beberapa ustad, bahkan majelis ulama. Di sini tampak
sekali masing-masing terlalu tinggi menghargai diri mereka. Masing-masing
merasa sudah -dan mungkin paling- dekat dengan Allah karena merasa memiliki
kelebihan: seni dan ilmu fikih.

Yang paling lucu mungkin orang Malang yang malang itu. Orang 'nasionalis'
yang mengimami sembahyang dengan diterjemahkan ke dalam bahasa nasional.
Imam ini terlalu tinggi mengukur dirinya, gara-gara dipanggil ustad dan ada
yang mau menjadi makmumnya. Reaksi terhadap perilakunya ini pun melebihi
ukuran. Dengan semangat membela agama, orang-orang pun 'menyerbu' tempat
tinggalnya. Padahal, dia -paling tidak menurut saya- seperti banyak orang
yang lain, hanyalah orang awam yang kemaruk, terlalu bersemangat, untuk
mendekatkan diri kepada Tuhannya.

Seandainya dia -dan banyak pemeluk agama lainnya di negeri ini- mau agak
berendah diri, terus belajar tentang Allah dan aturan-aturannya, tentu
ceritanya akan lain. Ada dhawuh: "Seseorang akan tetap pintar selama masih
mau terus belajar. Sekali orang berhenti belajar karena merasa sudah pintar,
mulailah dia bodoh."

Kata Rasulullah: Maa halaka umru-un 'arafa qadarahu, tidak akan celaka orang
yang tahu ukuran dirinya. Dan ternyata, orang yang tidak tahu mengukur diri
-apalagi yang tak tahu diri atau lupa diri- tidak hanya merugikan dirinya
sendiri, tapi lebih dari itu dapat merepotkan orang lain.

Kalau orang lain itu banyak dan kerepotan itu mengganggu pergaulan hidup
bermasyarakat, lalu bagaimana mengatasinya? 

Setiap masyarakat - kecuali mungkin masyarakat hutan- tentu mempunyai
aturan-aturan yang disepakati dan dipercayai untuk mengatur ketertiban hidup
dan pergaulan hidup mereka. Dalam kaitan berbangsa dan bernegara, ada
undang-undang dan peraturan-peraturan lainnya. Dalam kaitan berorganisasi
ada AD/ART. Dalam hubungan antara hamba dengan Tuhan, ada kitab suci dan
sunah nabi.

Nah, tinggal masyarakat itu sendiri; mau tidak mengikuti, mematuhi, dan
menegakkan aturan-aturan tersebut dan tidak mendahulukan nafsu maupun
kepentingan sendiri? *** 

(Esai yang tersebut diatas ditulis oleh KH Mustopa Bisri Pengaruh Pondok
Pesantren Roudathul Tholibin Rembang )



                
---------------------------------
Yahoo! Mail Mobile
 Take Yahoo! Mail with you! Check email on your mobile phone.
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

_____________________________________________________________________
This e-mail has been scanned for viruses by MCI's Internet Managed Scanning
Services - powered by MessageLabs. For further information visit
http://www.mci.com


***********************************************************************
The information contained in this email and any attachments may be confidential 
and is provided solely for the use of the intended recipient(s). If you are not 
the intended recipient, you are hereby notified that any disclosure, 
distribution, or use of this e-mail, its attachments or any information 
contained  therein is unauthorised and prohibited. If you have received this in 
error, please contact the sender immediately and delete this e-mail and any 
attachments. 

No responsibility is accepted for any virus or defect that might arise from 
opening this e-mail or attachments, whether or not it has been checked by 
anti-virus software.
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke