----- Original Message ----- 
From: "Erat Ratono" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "Daarut tauhid" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, May 12, 2005 10:53 AM
Subject: [daarut-tauhiid] Belajar Mencintai


> dikuti dari Tulisan Jalaluddin Rahmat
> 
> Belajar Mencintai
> 
> Dalam buku The Art of Loving, atau Seni Mencinta,
> Erich Fromm menulis bahwa para manusia modern
> sesungguhnya adalah orang-orang yang menderita.
> Penderitaan tersebut diakibatkan karena kehausan
> mereka untuk dicintai oleh orang lain. Mereka berusaha
> keras melakukan apa saja agar dapat dicintai.
> Anak-anak muda akhirnya terjerumus ke dalam pergaulan
> bebas karena mereka ingin dicintai dan diterima oleh
> kawan-kawan sebayanya. Para istri berjuang untuk
> menguruskan tubuh mereka agar dicintai oleh para suami
> mereka. Para politisi tidak segan-segan berdusta dan
> menipu orang agar dicintai oleh para pemilih dan
> pengikut mereka.
> 
> Yang dilakukan oleh manusia modern adalah upaya untuk
> dicintai, bukannya upaya untuk mencintai. Dalam dunia
> modern, kita menemukan bahwa semakin keras manusia
> berusaha untuk dicintai, semakin sering pula mereka
> gagal dan dikecewakan. Adalah sangat sulit untuk
> memperoleh kecintaan seluruh manusia. Kecintaan
> semacam ini adalah tujuan yang takkan pernah bisa
> dicapai karena selalu saja ada orang yang membenci
> orang yang lain. Manusia selalu dikelilingi oleh dua
> jenis orang; yang mencintai dan yang membenci dirinya.
> 
> Oleh sebab itu, manusia modern mengalami gangguan
> psikologis karena kegagalan untuk dicintai. Buku The
> Art of Loving mengisahkan para istri yang akhirnya
> harus mengisi malam-malam mereka dengan tangisan dan
> penderitaan karena tak kunjung memperoleh cinta suami
> mereka. Pada satu bagian dalam buku itu, Fromm
> menulis: "Mungkin sudah waktunya kita beritahu mereka
> untuk belajar mencintai."
> 
> Hal ini mengingatkan saya akan buku lain yang berjudul
> The Mismeasures of Women, atau Kesalah-ukuran
> Perempuan. Buku ini bercerita bahwa sepanjang sejarah,
> kecantikan wanita itu diukur bukan oleh wanita itu
> sendiri, melainkan oleh kaum lelaki. Pernah pada satu
> masa, yang disebut sebagai wanita jelita adalah
> perempuan yang bertubuh gemuk. Lukisan-lukisan di
> zaman Renaissans menggambarkan wanita-wanita telanjang
> dengan berbagai gumpalan lemak di tubuh mereka. Pada
> zaman itu, perempuan berusaha menggemukkan tubuhnya
> dengan obat-obatan, yang terkadang amat berbahaya,
> agar dianggap rupawan dan dicintai lawan jenisnya. 
> Lalu datanglah satu masa ketika seorang perempuan
> disebut cantik bila tubuhnya kurus kering. Dunia
> kecantikan internasional pernah mengenal seorang model
> ternama yang disebut dengan Miss Twiggy, Nona Ranting.
> Perempuan cantik adalah mereka yang bertubuh seperti
> ranting kayu, tinggi dan langsing. Seluruh perempuan
> di dunia kemudian berlomba-lomba menguruskan tubuhnya
> dengan menahan nafsu makan dan melaparkan diri. Mereka
> melakukan puasa yang khusus dijalankan untuk
> memperoleh kecintaan lelaki; mereka menyebutnya diet.
> Jika target kita dalam hidup ialah untuk memperoleh
> kecintaan sesama manusia, kita akan selalu menemui
> kekecewaan. Hal ini disebabkan karena kecintaan
> makhluk itu bersifat sangat sementara atau temporer.
> Dalam Manthiq Al-Thayr, atau Musyawarah Para Burung,
> Fariduddin Attar berkisah tentang kelompok para burung
> yang tengah mencari imam mereka. Burung-burung itu
> memilih Hudhud sebagai pemimpin karena ia dianggap
> burung yang paling kaya akan pengalaman. 
> 
> Hudhudlah yang menjadi penyampai pesan dari Nabi
> Sulaiman kepada Ratu Bilqis dan Hudhud pulalah yang
> menjadi utusan Nabi Nuh untuk mencari sebidang daratan
> kering ketika sebagian dunia yang lain dilanda air
> bah. Meskipun seluruh burung meminta Hudhud menjadi
> pemimpin mereka, Hudhud tetap berkeberatan. Ia malah
> berkata, "Sesungguhnya pemimpin kalian berada di Bukit
> Kaf, namanya Simurgh. Ke sanalah kalian pergi menuju."
> Hudhud lalu menggambarkan keindahan Simurgh sedemikian
> rupa sehingga para burung yang lain jatuh cinta.
> Para burung pun memohon agar Hudhud mau mengantarkan
> mereka ke hadapan Simurgh. Namun sebelum mengajak
> mereka ikut serta, Hudhud terlebih dahulu menceritakan
> beratnya perjalanan yang harus ditempuh untuk menuju
> Simurgh. Setelah mendengar betapa sukarnya jalan yang
> akan dilalui, sebagian besar burung mengurungkan
> niatnya. 
> 
> Burung Bulbul mengajukan keberatannya, "Aku mencintai
> Simurgh dan ingin menjumpainya, namun sekarang ini
> cintaku telah terpatri kepada setangkai bunga mawar.
> Jika kupikirkan tentang kelopak mawar yang merekah,
> kurasa aku tak perlu lagi berpikir akan Simurgh.
> Cukuplah bagiku keindahan mawar itu. Kuyakin
> sepenuhnya mawar itu akan selalu megembangkan
> putik-putik sarinya karena kecintaannya jua kepadaku.
> Aku tak bisa hidup bila harus meninggalkannya. Aku tak
> mau hidup bila tak dapat lagi memandang rekahan mawar
> itu."
> Lalu Hudhud berkata, "Ketahuilah, kecintaan kamu
> terhadap mawar itu adalah kecintaan yang palsu.
> Janganlah engkau terpesona akan keindahan lahiriah.
> Mawar hanya merekah di musim semi. Begitu tiba musim
> gugur, mawar akan menggugurkan kelopaknya. Ia akan
> menertawakan cintamu...."
> 
> Melalui kisah ini, Fariduddin Attar mengajarkan bahwa
> sesungguhnya kecintaan makhluk itu adalah sementara.
> Seorang istri, yang berusaha keras untuk meraih cinta
> suaminya, akhirnya akan menemukan bahwa cinta suaminya
> itu datang dan pergi. Suaminya tak mencintai ia untuk
> sepanjang masa. Ada masa ketika cinta suaminya
> berkurang atau bahkan hilang sama sekali. Demikian
> pula sebaliknya, seorang suami tak akan memperoleh
> cinta yang kekal dari istrinya. Kecintaan manusia
> takkan pernah ada yang abadi.
> Seorang mubaligh tidak boleh berceramah untuk mencari
> kecintaan jemaahnya. Tuhan akan menguji para mubaligh
> dengan menarik kecintaan dari para jemaahnya. Bila
> kita amati kehidupan para imam ahlul bait as, kita pun
> akan menemukan bahwa pada umumnya mereka dikhianati
> oleh para pengikutnya sendiri. Imam Ali kw dibunuh
> oleh seorang khawarij yang semula merupakan jemaahnya;
> Imam Hasan as dikhianati oleh para pengikutnya
> sendiri; dan Imam Husain as dibunuh oleh salah seorang
> yang sebelumnya mengirimkan surat berisi dukungan
> kepadanya.
> 
> Menurut Erich Fromm, para mubaligh pun adalah
> manusia-manusia modern yang tertipu. Mereka berusaha
> keras mencari kecintaan dari sesama manusia. Boleh
> jadi, mereka berhasil mendapatkan cinta tersebut.
> Tetapi keberhasilan itu hanyalah sementara. Dalam
> khazanah tabligh Indonesia, selalu ada mubaligh
> populer yang muncul ke permukaan dan memperoleh cinta
> dari jutaan umat. Namun sedikit demi sedikit, ia akan
> tenggelam dan ditinggalkan oleh umatnya. Kita tak akan
> pernah bisa dicintai secara terus menerus oleh sesama
> manusia.
> Demikian pula halnya dengan para artis, mereka
> berusaha untuk mendapatkan cinta fans mereka. Mereka
> mengatur tingkah laku dan penampilan agar sesuai
> dengan selera pasar. Tetapi pada akhirnya, mereka pun
> akan mendapatkan kekecewaan yang mendalam ketika para
> fans beralih untuk mencintai artis lain yang lebih
> muda dan lebih cantik. Penderitaan manusia modern
> diakibatkan oleh keinginan untuk dicintai sesama
> manusia. Akibatnya, kita akan dirundung oleh
> kekecewaan demi kekecewaan.
> 
> Sebagaimana dikatakan oleh Fromm, yang bisa dilakukan
> untuk menyembuhkan penyakit itu adalah dengan belajar
> mencintai. Kebahagiaan hidup kita tergantung kepada
> apa yang kita cintai. Kebahagiaan tak dapat diperoleh
> dengan dicintai. Akan tetapi di dalam wacana
> pengetahuan modern, kita menemukan sedikit sekali
> literatur yang berisi pelajaran untuk mencintai.
> Buku-buku mutakhir mengajarkan kita akan kiat-kiat
> untuk dicintai. Datanglah ke sebuah toko buku, Anda
> akan menemukan banyak sekali buku yang ditulis yang
> berisi tentang kiat-kiat agar dicintai oleh lawan
> jenis, atasan, atau rekan-rekan di tempat kerja.
> Selama ini kita diajari bahwa proses mencintai itu
> bukanlah proses pembelajaran, melainkan proses
> "kecelakaan". Kita mengenal istilah "jatuh cinta" atau
> fall in love, bukannya "belajar mencinta" atau learn
> to love. Disebut "jatuh" karena kita menganggap
> mencintai sebagai suatu kecelakaan yang tidak
> direncanakan sebelumnya.
> 
> Untuk mampu mencintai, kita harus mulai belajar dari
> mencintai makhluk Allah; dengan mencintai pasangan
> kita, anak-anak kita, ataupun kendaraan kita. Itulah
> pelajaran mencintai tahap dasar, pelajaran cinta dalam
> tingkatan yang paling awal. Cinta semacam itu adalah
> cinta yang dimiliki oleh anak-anak kecil. Mereka
> selalu mencintai hal-hal yang bersifat kongkrit atau
> lahiriah. Kita harus mengembangkan kepribadian kita ke
> tingkat yang lebih baik agar kita tak hanya terjebak
> untuk mencintai hal-hal yang kongkrit saja. Di saat
> itulah kita dapat menempuh pelajaran yang lebih
> tinggi.
> Selanjutnya kita harus berusaha untuk mencintai
> hal-hal yang lebih abstrak. Sebuah hadis yang amat
> kita kenal meriwayatkan sabda Nabi Muhammad saw,
> "Cintailah Allah atas segala anugerah-Nya kepadamu,
> cintailah aku atas kecintaan Allah kepadaku, dan
> cintailah keluargaku atas kecintaanku kepada mereka." 
> Dalam hadis ini Rasulullah saw menurunkan tiga
> kecintaan; kepada Allah swt, Rasulullah swt, dan ahlul
> bait Nabi. Rasulullah saw juga ingin mengajarkan
> kepada kita untuk meninggalkan kecintaan kepada
> hal-hal kongkrit dan menuju kecintaan kepada hal yang
> abstrak.
> 
> Dalam Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali menyatakan adalah
> sebuah kebohongan besar bila seseorang mencintai
> sesuatu tetapi ia tidak memiliki kecintaan kepada
> sesuatu yang lain yang berkaitan dengannya. Al-Ghazali
> menulis; "Bohonglah orang yang mengaku mencintai Allah
> swt. tetapi ia tidak mencintai Rasul-Nya; bohonglah
> orang yang mengaku mencintai Rasul-Nya tetapi ia tidak
> mencintai kaum fuqara dan masakin; dan bohonglah orang
> yang mengaku mencintai surga tetapi ia tidak mau
> menaati Allah swt." 
> 
> Semua itu pada hakikatnya mengajarkan kita untuk
> mencintai hal-hal yang bersifat abstrak. Nilai tasawuf
> yang paling penting adalah kecintaan kepada Allah swt.
> Mulailah kita belajar mencintai Allah dengan mencintai
> Rasul-Nya dan belajar mencintai Rasul-Nya dengan
> mencintai ahlul bait Nabi. Bila kita ingin berhasil
> mencintai ahlul bait Nabi, belajarlah dengan mencintai
> kaum fuqara dan masakin. 
> 
> Jika kita telah mampu belajar mencintai Allah swt,
> Rasul-Nya, ahlul bait, serta kaum fuqara dan masakin,
> maka hal itu telah cukup menjadi bekal bagi kita,
> dibandingkan dengan seluruh dunia dan segala isinya.
> 




_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke