--- Ardiwan Zubir <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Assalammualaikum Wr Wb
> Menarik sekali diskusi tentang Negara Islam yang
> dibahas oleh Uni Rahima
> dan Da Sutan Sinaro sehingga indak tahan juo ambo
> untuak indak
> maramikan,walaupun apo nan ado di ambo hanyolah
> sekatek,Hanyo kepada
> Allah SWT ambo mohon ampun atas kekurangan ko.
> 
> 
> Secara terang-terangan memang tidak ada ayat yang
> menyatakan tentang
> Negara Islam,namun ayat-ayat Al-Qur'an yang
> menyatakan tentang hukum
> Allah/hukum Islam.Sementara untuk dapat
> mengaplikasikan hukum -hukum
> dari Allah tidak mungkin dilaksanakan oleh
> individu-individu muslim
> ,harus berjamaah dan tentunya juga dalam bentuk
> Negara.

Iyah benar, saya setuju ini.

> Kalau kita menilik terjemahan  surat Al An'Aam ayat
> 82 :
> Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan
> iman mereka dengan
> KEZALIMAN ( syirik ),mereka itulah orang-orang yang
> mendapat keamanan
> dan mereka itulah orang-orang yang mendapat
> petunjuk.

Perlu diperjelas bahwa ayat sebelumnya begini artinya
: " Bagaimana aku takut kepada apa yang kamu aku
persekutukan padahal kamu tidak takut mempersekutukan
Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak
menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya,
maka manakah diantara dua golongan itu yang lebih
berhak mendapat keamanan? Jika kamu mengetahui maka
sampaikanlah kepadaku...selanjutnya seperti yang
disebutkan diatas, orang-orang beriman...dst ".

Ayat sebelumnya turun dalam cerita nabi Ibrahim as,
yang mana kaumnya menyembah berhala( disini syirik
sebenar-benar syirik hakiki yang dimaksudkan yaitu
menyembah selain Allah ta'ala secara dzatNya).

Bapak Quraish Shihab dalam tafsirnya mengatakan bahwa
syirik atau mempersekutukan Allah dengan sesuatu
adalah menggabungkan dua hal yang serupa tetapi tidak
sama dalam satu waktu.

Syirik atau mempersekutukan Allah adalah menggabungkan
dua hal yang serupa, yang pertama mengakui ketuhanan
Allah SWT, serta kewajarannya untuk disembah, kedua
mengakui kewajaran selainNya untuk disembah, dan
karena penyembahan selainNya adalah penempatan sesuatu
bukan pada tempatnya, maka yang demikian dinamakan
dzulum. melakukan kedua hal itu secara bersamaan
menjadikan keimanan mereka bercampur dengan dzulum.

Dalam riwayat oleh Bukhari Muslim dan Tirmidzi ayat
ini sempat membingungkan para sahabat. Siapakah
diantara kita yang tidak pernah mencampur adukkan
keimanannya dengan kedzaliman, kalau begitu kita semua
dalam keadaan bahaya, tidak memperoleh keamanan? 

Rasulullah menjawab : " Ayat ini bukan sebagaimana
yang kalian duga, tidakkah kalian mendengar perkataan
Luqman kepada anaknya  : " Janganlah kamu syirikkan
Allah dengan sesuatupun, karena syirik itu adalah
suatu kedzaliman yang amat besar ".

MENGAKUI kewajaran adanya tuhan yang DISEMBAH secara
hakiki, selain Allah(maksudnya kita mengakui adanya
agama selain agama Islam, adanya Tuhan yang DISEMBAH,
selain Allah ta'ala), ini yang dimaksudkan dengan
dzulum=syirik. Dalam kategori mencampuradukkan
keimanan dengan kedzaliman.


> Dari ayat di atas ,jika kita menilik lagi
> hubungannya dengan Surat
> Al,Maidah ayat 45 tentang orang-orang yang Zalim
> adalah orang-orang yang tidak memutuskan perkara
> menurut apa yang
> diturunkan Allah.
> Jadi jelaslah bahwa orang-orang beriman itu tidak
> mencampur adukkan
> keimanan mereka dengan yang lain,apakah itu tentang
> hukum ,ekonomi
> dll,yang semuanya hanya akan dapat di-impose oleh
> Negara terhadap
> rakyatnya,sedangkan yang zalim
> sebaliknya.Bagaimanakah system ekonomi
> Islam akan berjalan apabila Negara memakai system
> ekonomi
> liberal,bagaimanakah undang-undang Allah akan
> dterapkan di Negara yang
> memakai system hukum Belanda meskipun rakyatnya 80% 
>  mengaku beragama Islam.Jadi menurut pengetahuan
> saya yang dangkal
> ini,Cita-cita(niat) dan langkah-langkah membentuk
> Negara Islam ini
> adalah kewajiban setiap individu-individu yang
> beriman seperti
> dinyatakan di surat Al An'Aam diatas,sehingga
> kita-kita yang mengaku
> beriman bisa mendapatkan keamanan dan mendapat
> petunjuk.
> Jadi kalau seorang Muslim selama hidupnya tidak
> melaksanakan
> kewajibannya sebagai Muslim,apakah mendirikan
> sholat,membayar
> zakat,bahkan berniat mendirikan Negara Islam
> tentunya dianya akan
> berdosa selama hidupnya,dan tentunya pribadi
> tersebut tidak layak untuk
> mendapatkan predikat orang-orang yang
> beriman,seperti yang dikemukakan
> uni Rahima,Iman itu diucapkan oleh lidah,dibenarkan
> oleh hati dan
> dilaksanakan dengan perbuatan,
> Karena pribadi tersebut tidak melaksanakan apa-apa
> yang sudah diwajibkan
> oleh Allah untuk dikerjakan.

Benar, kita hanya mampu mengatakan seseorang itu
dengan kata : " Ia tidak beriman, tetapi bukan
mengatakannya ia telah syirik, ".( syirik arti yang
hakiki, sekali lagi orang riya juga dikatakan syirik,
tetap bukan syirik yang hakiki yang dosanya tak
terampunkan)

Dalam surat Al Hujurat dikatakan : " Orang-orang Arab
(badui), mengatakan kami telah beriman, katakanlah
wahai Muhammad, bahwa kamu hanya Islam ".

Jadi pada hakikatnya orang yang tidak menjalankan
hukum-hukum Allah SWT, bisa kita katakan mereka belum
sempurna imannya, karena belum semua apa-apa yang
diperintahkan Allah SWT dilaksanakannya, karena iman
itu diucapkan dengan lidah, dilakukan dengan perbuatan
ditetapkan dengan hati, tetapi ngak pantas juga kita
mengatakan orang yang tidak ada niat dihatinya mereka
adalah syirik (musyrik), yang dosa mereka tak
diampunkan, kita hanya mampu mengatakan mereka islam,
tapi keimanannya belum sempurna.

Mengapa kita tak berani mengatakan mereka musyrik(yang
sebenar-benar syirik yang saya maksudkan disini),
karena besar rentetannya. Orang Musyrik itu tidak
boleh menikahi dan dinikahi dengan muslimah dan
muslim. Orang musyrik  itu dosanya tak diampunkan,
kekal didalam neraka, semntara orang islam masih ada
harapan masuk surga asalkan ia islam dan mengucapkan
syhadah. 

Dan banyak lagi rentetan-rentetan hukum orang yang
syirik ini. makanya dari awal saya katakan orang yang
tak ada niatnya untuk mendirikan agama islam tidak
bisa dikatakan mereka berdosa akan suatu dosa yang
tidak bisa diampunkan, atau syirik.

Tetapi kondisi orang semacam ini tidak jauh beda
dengan orang islam yang mengucapkan dua kalimah
syahadah, tetapi tidak shalat atau tidak berzakat.
Mereka islam tapi belum tentu mereka beriman. Tak jauh
beda, mereka menjalankan satu sisi dan meninggalkan
sisi lainnya, namun mereka tetap tidak bisa kita
katakan musyrik dan dosa mereka tak sampai diampunkan
hanya karena tidak ada niat untuk mendirikan negara
islam.

Sama halnya dengan orang yang tidak shalat, tetapi
mereka Islam, apakah mereka bisa kita katakan syirik,
dosa mereka tidak diampunkan? Sekali lagi orang yang
syirik itu(musyrik isim fai'lnya), tidak boleh kita
nikahi dan menikahi muslimah. kaitannya disini makanya
tidak berani saya mengatakan orang yang tidak berniat
untuk mendirikan negara islam dosanya tak terampunkan,
karena dosa tak terampunkan itu hanyalah dosa musyrik,
semntara mereka islam mengucapkan dua kalmah syahadah,
shalat, puasa, zakat, hanya karena niatnya tak ada
mendirikan negara islam, yang kita tidak tahu kenapa
dan apa sebabnya, gampang sekali kita mengatakan
mereka musyrik? 

Cobalah kita jujur, apakah 80% muslimin di Indonesia
ini semuanya sudah berniat mendirikan negara islam?
kakek nenek kita, cobalah kita tanyakan apakah ada
niat mereka untuk itu? Kemudian istri atau suami yang
telah kita nikahi apakah telah berniat untuk itu
sebelumnya. Juga apakah setiap orang yang akan menikah
bertanya dulu pada yang akan menikahi atau yang
dinikahinya : 

" Apakah kamu sudah ada niat dihati untuk mendirikan
negara islam? Apakah kita menanyakan sampai mendetail
ini kepadanya? lantas ketika ia jawab " tidak ada
tuh,.ngak kepikiran malah ", lantas kita bilang
padanya " Wah,.lu sudah dosa besar, dosa lu ngak
diampunkan, lu sudah musyrik, gue ngak bisa kawin
dengan lu..? " Apakah itu yang akan dilakukan? (kan
katanya tadi niat..yang rentetannya pada syirik dosa
yang tidak diampunkan ".

 Karena ini kaitannya dengan hukum pernikahan, dan
kita berbicara masalah hukum Islam, orang musyrik tak
boleh menikah dengan muslim.Bagaimana? 

Inilah dari awal hitungan-hitungan saya sangat jauh
untuk menetapkan statement, makanya saya tak berani
mengatakan sesuatu yang tidak ada landasannya dalam
AlQuran dan hadist juga tidak ada ilmu saya
didalamnya.

 Saya tetap mengatakan orang yang tidak ada niat
dihatinya untuk mendirikan negara islam jatuh kepada
syirik yang dosanya tak terampunkan, tetapi saya
berani mengatakan mereka tidak sempurna imanya, namun
bisa jadi mereka muslim.(baca kembali masalah niat,
bagaimana hukumnya dalam islam dengan hadist masalah
niat yang berulangkali saya sampaikan, dan amalan yang
dilaksanakan besar atau kecil, juga iman yang terakhir
) 

> 
> Wassalam
> 
> Ardiwan


                
__________________________________ 
Do you Yahoo!? 
Yahoo! Mail - Find what you need with new enhanced search. 
http://info.mail.yahoo.com/mail_250

_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke