> Subject: KAPAN TERAKHIR KITA MENCIUM IBU?
> 
> 
> KAPAN TERAKHIR KITA MENCIUM IBU?
> 
> 
> Saya berharap Ibu kita masih ada.
> 
> Betapa menyesalnya, bila telah tiada.
> 
> 
> 
> Ketika kita lahir menangis, Ibu
> 
> ketawa, semua orang tertawa gembira
> 
> Ibu yang pertama kali dan setiap saat
> 
> mencium kita, dulu.
> 
> Kini Ia akan terus melakukannya, sayang
> 
> kita merasa tidak perlu.
> 
> Tanpa pamrih ia lakukan. Dengan kasih
> 
> sayang penuh Ia berikan.
> 
> 
> 
> Ketika kita ingusan, Ia rela menghirup
> 
> Ingus kita dengan mulut manisnya.
> 
> Ketika kita sakit, ia ikut sakit.
> 
> Ketika kita tidak bisa tidur,
> 
> ia ikut ikut lembur.
> 
> Ketika kita tak mau makan, ia korbankan
> 
> Apa saja agar kita makan.
> 
> 
> 
> Apa yang bisa kita lakukan saat ini?
> 
> Coba kita lakukan setelah membaca
> 
> puisi ini, begitu ketemu, cium Ibu.
> 
> Bila jauh, angkat telepon, minta ampun
> 
> 
> 
> Saya bayangkan Ibu akan meneteskan air mata.
> 
> Air mata ketulusan kasih sayang seorang Ibu
> 
> 
> 
> Bila kita mati buatlah sebaliknya.
> 
> kita ketawa gembira, setidak-tidaknya tersenyum.
> 
> Sementara Ibu dan seluruh kerabat kita
> 
> yang ditinggal menangis sedih
> 
> 
> Sungguh kita tidak tahu, bagaimana
> 
> keadaan kita nanti ketika mati.
> 
> Apakah bisa tertawa, atau
> 
> malah Ditertawakan !
> 
> 
> 
> Semoga bermanfaat



_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke