Assalamualaikum.wr.Wb.
Mohon maaf, karena pada episode sebelumnya saya sudah
lupa nomor keberapa, dan saat bercerita anak-anak
sangat suka bercerita, trus ada kerjaan lain,
terhenti, sehingga sekarang saya bingung harus memulai
dari mana. Kita cukupkan sampai topik tersebut, kita
sambung lagi dengan topik baru, yaitu, Hal-hal yang
sering terlupakan oleh seorang ayah dalam mendidik
anaknya.
D.) Pendidikan terhadap watak sifat keberanian.dalam
dirinya.
Kebanyakan diantara kita para ortu sering menganggap
anak-anak kita belum mempunyai kepribadian, tidak
punya pendapat, oleh karena itu jarang diantara kita
meminta pendapat anak-anak dalam suatu masalah, maka
anakpun tumbuh dengan kepribadian yang lemah, tidak
punya I’timad(prinsip) dalam dirinya. Pada
hakikatnya anak semenjak dari kecilnya sudah punya
kepribadian, dan punya pendapat bahkan melihat sesuatu
yang tidak bisa dilihat oleh orang dewasa.
Rasulullah SAW sangat menghormati anak kecil. Beliau
selalu meminta pendapatnya. Rasulullah tidak
menganggap enteng anak-anak, memberikan bagi mereka
hak mereka. Dan memperhatikan pendapat anak-anak..
Rasulullah SAW kalau lewat didepan anak-anak,
memberikan ucapan salam, sebagaimana diberikan pada
orang dewasa.
Suatu kali Umar ra, mendengar rasulullah SAW
berceramah dan ditemani oleh anaknya Abdullah.
Kemudian rasulullah SAW mengatakan : Sesungguhnya
pohon itu menyerupai manusia, apabila kepalanya
dipotong maka pohon itu akan mati, sementara daunnya
tidak jatuh(berguguran).
Para sahabat diam( sambil berfikir pohon apa itu?) tak
ada seorangpun yang menjawab. Maka dijawab oleh
rasulullah SAW, sesungguhnya ia adalah pohon kurma.
Tatkala Umar keluar, apa kata anaknya “ wallahi,
sungguh demi Allah, aku ingin menjawab “pohon
kurma” tadi itu, tetapi kalaulah tidak karena
segan pada sahabat rasulullah SAW.
Apa dijawab oleh Umar, “ Wallahi, sungguh kalau
engkau jawab tadi itu, maka hal demikian jauh lebih
baik bagiku dari dunia seisinya”.
Begitulah ajaran sahabat terhadap anaknya, bersikap
berani.
Suatu kali Abdullah bin Zubair bin ‘Awwam,
sedang bermain bersama teman-temannya, kemudian Umar
lewat, maka berlarilah semua temannya, saking takutnya
pada Umar, tetapi Abdullah bin Zubair tidak berlari,
sehingga ditanyalah oleh Umar, kenapa engkau tidak
lari sebagaimana teman-temanmu yang berlari?
Apa jawab anak tersebut : “ Apa yang aku
takutkan dari kamu, sehingga aku lari, aku tak berbuat
kesalahan, dan jalan juga tidak sempit, sehingga aku
harus minggir, jalan cukup luas untuk dirimu !
“.
Perkataan yang sangat berani dari seorang anak kecil
kepada Umar ra, seorang khalifah yang disegani teman
dan ditakuti lawan. Bukankah ini dari didikan Fatimah
binti Abu bakar Siddiq, dan digelar dengan
dzatunnatiqaini, ibunya seorang yang sangat berani,
wajar keluar dari rahimnya seorang anak yang berani
pula. Didikan seorang ibu terhadap anaknya sangat
berpengaruh, itu pentingnya dari awal memilihkan bagi
seorang anak ibu yang cerdas, pintar, berakhlak dan
beragama yang baik, karena akan keluar dari didikannya
anak sepertinya.
Ada perbedaan didalam pendidikan keberanian dan
kegentlemenan, dengan jelek laku bersama orang dewasa,
atau tidak menghormati orang dewasa. Berani yang
dimaksud disini, tidak takut sekalipun kepada
siapapun, kecuali hanya kepada Allah SWT, atau
menyampaikan kebenaran. Orang berani akan berani pula
menyampaikan kebenaran pada siapapun, namun ia
menghormati orang yang lebih tua darinya, dan ia tetap
menghargainya.
Rasulullah SAW bersabda : “ Bukanlah dari
golongan kami orang-orang yang tidak menghormati yang
lebih tua darinya dan menyayangi yang lebih kecil
darinya, dan mengetahui bagi orang ‘alim(ulama),
akan hak-hak para ulama” ( H.R. At Tirmidzi
dengan derajat hadist Hasan).
Pengarang buku bagaimana menjadi ayah yang baik
mengatakan : “ Sebahagian orang sering salah
pengertian atau campur aduk antara tidak menghormati
yang tua dengan keberanian adab juga mengatakan
kebenaran. Bukanlah berarti seorang anak kecil
membalas kesalahan yang lebih tua darinya suatu
kesalahan dan dikatakan ia tidak hormat, selagi ia
berkata dalam batas-batas adab sopan santun, adapun
yang besar tidak mau mendengar perkataan yang lebih
muda darinya, ini suatu hal yang lain lagi “.
Betapa banyak dizaman rasulllah SAW para pemuda yang
masih muda-muda umurnya lebih didahulukan oleh
rasulullah dalam memimpin peperangan. lihatlah Usamah
bin Zaid, Khalid bin walid, yang mana pada mulanya
menimbulkan keheranan para sahabat yang lain, namun
begitulah ajaran rasulullah SAW sangat menghormati
pemuda dan memberikan kepercayaan serta punya jati
diri mereka sendiri. Wajarlah pemuda zaman dahulu kala
berani berperang, berani berkata yang benar, dan punya
jati diri, sehingga tak salah islampun maju kedepan
mengalahkan musuh-musuhnya. Semua ini karena apa,
karena sekecil apapun, yang namanya pemuda dan
anak-anak selalu dihargai oleh rasulullah SAW dan
diberi kepercayaan diri.
== PENDIDIKAN TERHADAP ANAK UNTUK MENGHORMATI ORANG
TUA, YANG LEBIH TUA DARINYA DAN MENGHORMATI
GURU/ULAMA.
Bersambung..insyaAllah ta’ala…
Wassalam. Rahima. Cairo 17 Mei 2005.
Yahoo! Mail
Stay connected, organized, and protected. Take the tour:
http://tour.mail.yahoo.com/mailtour.html
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________