Dari SUARA PEMBARUAN DAILY 23 Mei 2005 kita baca:
Sumber: http://www.suarapembaruan.com/News/2005/05/23/Utama/ut06.htm

----------


Waisak dan Pencerahan Sosial

Oleh Jo Priastana

PADA 2549 tahun lalu di bawah pohon Bodhi di bulan Waisaka, terjadi peristiwa besar dalam sejarah umat manusia di muka bumi ini, yakni peristiwa pencerahan yang terjadi pada pertapa Siddharta, sehingga akhirnya ia disebut sebagai Buddha, orang yang telah bangun, yang telah sadar. Waisak adalah peristiwa pencerahan yang membuka kabut kegelapan dunia.

Kemunculan Buddha di bawah pohon Bodhi itu membawa terang bagi dunia. Segenap isi semesta menyambutnya. Semua dibangunkan dari kegelapan kesadarannya. Semua merasakan pencerahan pembebasan atas kungkungan penderitaan dari samsara yang melilitnya dalam berbagai masa.

Waisak membuka mata hati, kesadaran untuk tumbuh berkembang mengatasi kegelapan ketidaktahuan dan keterikatan penderitaan. Waisak juga sesungguhnya merupakan peristiwa pencerahan dari seorang yang telah sadar yang tidak hanya bersifat spiritual namun juga sarat dengan pencerahan sosial.

Merasakan pencerahan Waisak berarti pula mengetahui dan memahami makna penderitaan. Meski Waisak merupakan peringatan hari di mana seorang manusia Siddharta menjadi Buddha yang berarti telah menghentikan penderitaan, di samping dua peristiwa lainnya, kelahiran dan kematian, makna Waisak sesungguhnya sarat dengan kandungan yang mengajak kita untuk merenungi dan menghayati berbagai bentuk penderitaan, baik yang bersifat eksistensial maupun sosial.

Buddha Gautama di malam Waisak merealisasi makna penderitaan tersebut, yang menjadi warta pertamanya di Taman Rusa Isi Patthana tiga bulan kemudian dalam ajarannya yang terkenal, tentang empat kesunyataan mulia: dukkha, sumber dukkha, terhentinya dukkha, dan jalan melenyapkan dukkha.

Waisak mengajak kita melihat fenomena dukkha tersebut, serta menonjok kita sebagai makhluk untuk menaruh perhatian, keterlibatan, dan bertanggung jawab dalam persoalan penderitaan tersebut.

Penderitaan eksistensial yang menandai segenap makhluk hidup, seperti manusia, dikatakan bersumber dari adanya tanha atau hawa nafsu yang masih melekati dirinya. Seakan tanha menjadi ciri yang tak terhindarkan dari setiap makhluk hidup, menjadikan makhluk hidup tenggelam dalam lautan samsara, penderitaan berkepanjangan yang tak putus-putusnya.

Karenanya, pencerahan Waisak yang dialami Siddharta yang menjadi Buddha itu adalah momen di mana penderitaan telah diatasinya, momen di mana tanha telah dilenyapkannya, momen di mana pantai pembebasan telah dicapainya.

Namun begitu, pencerahan Waisak itu tidak hanya semata bermakna spiritual sebagai pembebasan penderitaan yang bersifat eksistensial, namun juga sarat dengan makna dan kandungan sosial, di mana sosok Buddha melalui karya kemanusiaannya sampai menjelang hayatnya banyak melakukan perubahan struktur sosial India masa itu, hikmah yang sangat relevan bagi kondisi dunia masa kini.

Kemiskinan, kebodohan, penindasan, ketidakadilan, perang, dan lain-lainnya, merupakan wujud-wujud dari penderitaan sosial manusia, penderitaan yang dialami manusia, dan sungguh-sungguh nyata membelenggu manusia dari kedudukannya sebagai manusia. Macam ragam penderitaan sosial, dan setiap zaman memiliki macam atau wujudnya sendiri, seperti misalnya negara-negara di banyak dunia dewasa ini yang berkutat dengan soal pembangunan, mengatasi penderitaan sosial.

Siswa Buddha tidak perlu hanya terpaku atau terpukau dengan penderitaan eksistensialnya, sehingga merasa bahwa hidupnya sendiri saja yang mengalami penderitaan. Lebih dari itu, perlu memahami dan mengenali derita sosial, karena derita ini menyangkut hidup bersama, menyangkut hubungan atau relasi yang tidak sepadan, tidak adil. Penderitaan sosial merupakan problem aktual yang dialami banyak masyarakat dunia, yang berkaitan dengan struktur sosial dan politik ekonomi yang tidak adil.

Pencerahan Sosial

Di sinilah letak terang cahaya kesempurnaan Waisak, yang di samping menumbuhkan akan keterpesonaan seorang manusia yang menjadi Buddha namun juga menawarkan tantangan untuk terjun aktif dalam pembebasan penderitaan masyarakat sebagai praksis iman, sebagai upaya kausalya Bodhisattva - keterampilan berkebajikan dari orang yang mengembangkan kesadaran Buddhanya - entah itu melalui karya sosial karitatif, pemberdayaan masyarakat, maupun gerakan-gerakan perubahan sosial yang bersifat struktural, dan yang sesuai dengan kekhasan, potensi dari individu, komunitas yang bersangkutan.

Dalam konteks pengentasan penderitaan sosial masa kini, tentu saja ilmu pengetahuan merupakan perangkat yang sangat berguna atau sebagai modal untuk dapat mengimplementasikan kandungan ajaran agama atau Dharma, seperti sila, samadhi, panna dalam praksis di tataran sosial, dan juga yang harus diperhitungkan di dalam menjadikan agama tidak lumpuh namun sungguh-sungguh membumi, mampu mengkontekstualisasikan ajaran-ajarannya.

Bagi masyarakat Buddhis dan juga masyarakat luas pada umumnya, adalah sangat tepat bila dalam kesempatan Waisak ini kita mengenali sepercik pencerahan sosial dari para Bodhisattva zaman kini berupa pesan yang tertuang dalam deklarasi pertemuan 22 guru Buddhis Barat dengan Dalai Lama pada Maret 1993 (Ken Jones, 1999), dengan alinea pertama proklamasinya berbunyi:

Pertama, tanggung jawab kita pertama sebagai Buddhis adalah bekerja menciptakan sebuah bentuk kehidupan yang lebih baik di muka bumi. Kedua, mempromosikan Buddhadharma sebagai sebuah agama yang memiliki keterlibatan terhadap toleransi maupun hormat kepada agama lain. Ketiga, setiap aksi memperjuangkan keterlibatan tersebut hendaknya dipimpin oleh prinsip kebaikan dan kasih sayang, serta perdamaian dan harmoni.

Buddhadharma bagi masyarakat modern tidak dapat tidak harus terlibat terhadap masalah-masalah yang berkembang. Buddhadharma adalah keterlibatan, jika tidak terlibat itu adalah bukan Buddhadharma. Itulah yang ditegaskan oleh Thieh Nhat Hanh, aktivis dan pemikir modern Buddhis dari Vietnam, dalam artikelnya, "Turning Wheel", di Journal of The Buddhist Peace Fellowship, 1983 (dalam Ken Jones 1999).

Kekuatan sebagai pembebas itulah yang merupakan hakikat dari Buddhadharma. Buddhadharma adalah agama pembebasan. Sang Buddha mengajarkan Dharmanya untuk dipergunakan sebagai pembebas dari segenap dukkha atau penderitaan yang dialami manusia, dan juga masyarakat yang juga terdiri atas manusia. Waisak adalah kebangkitan dari mereka yang sadar, mereka yang mengalami pencerahan spiritual maupun pencerahan sosial.

Selamat Waisak 2549/2005.

Penulis adalah pengajar pada Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda, dan dosen STIE YAI, Universitas Persada Indonesia YAI, Jakarta


----------
Last modified: 23/5/05

X___________________________________________Sjamsir Sjarif
Indonesian Translator, Interpreter, and Cultural Consultant
        335 Gault St. #1, Santa Cruz, CA 95062, USA
Email: [EMAIL PROTECTED]     Tel. (831)-426-1333 Fax (831)426-8907
                               http://www.usindo.net/hambo
                                             Member of:
ATA,     American Translators Association http://www.atanet.org/
NCTA, Northern California Translators Association http://www.ncta.org/
IPA,      Indonesian Professional Association   http://www.ipanet.org/
=======================================================  

Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Anti-Virus.
Version: 7.0.300 / Virus Database: 266.11.5 - Release Date: 5/4/2005
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke