Assalamu�alaikum �
Sekedar copy paste dari sebelah ....
Salam, Lili
======
Send by:Debby
Gak terasa baru kemarin hari minggu .. eh besok udah mau minggu lagi ...
gak terasa tau-tau udah akhir bulan, gajian lagi.
Bulan demi bulan berlalu tanpa terasa ... eh tau-tau udah pertengahan
tahun, padahal rasanya baru kemarin orang rame ngerayain tahun baru. Nanti
pun kan tiba bulan romadhon ... dan akhirnya menjelang tahun baru lagi...
Rekans,
usia kita ternyata makin menipis ... tipis ... tipis dan akhirnya habis,
... hanya sayang seringnya kita (termasuk saya) lupa, padahal kita sadar
sepenuh hati bahwa ruh kita bisa tercabut sewaktu-waktu ... tanpa perlu ada
alasan kesehatan atau ketuaan bagi si Pencabut Nyawa. .... bahkan siapa
tahu slip gaji kemarin adalah yg terakhir kita terima ...
Mari kita menyegarkan kembali semangat utk mengejar investasi akhirat ....
dengan kesholehan pribadi dan kesholehan bagi lingkungan sosial kita.
Saudaramu,
Bmw
Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di
atas jalanan Menyeberangi kawasan lampu merah Karet. Baju gamis merahnya
yang kebesaran melambai lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang es
krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara
tangan kirinya mencengkram ikatan sabuk celana ayahnya.
Yani dan ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak
kekanan dan kemudian duduk di atas seonggok nisan "Hj Fulanah binti Fulanah
19-10-1905 : 20-01-1965"
"Nak, ini kubur nenekmu mari kita berdo'a untuk nenekmu"
Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yang mengangkat
ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya
berdo'a untuk neneknya...
"Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya yah." Ayahnya mengangguk
sembari tersenyum sembari memandang pusara Ibu-nya. "Hmm, berarti nenek
sudah meninggal 36 tahun ya yah..." kata Yani berlagak sambil matanya
menerawang dan jarinya berhitung. "Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 36
tahun ... " Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan
di sana.
Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut "Fulan : 19-02-1882 :
30-01-1910" "Hmm.. kalau yang itu sudah meninggal 91 tahun yang lalu ya
yah" jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya.
Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak
satu-satunya. "Memangnya kenapa ndhuk ?" kata sang ayah menatap teduh mata
anaknya. "Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di
kubur dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa di neraka " kata Yani
sambil meminta persetujuan ayahnya. "Iya kan yah?" Ayahnya tersenyum,
"Lalu?"
"Iya .. kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 36 tahun
dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 36 tahun
nenek senang di kubur ..... ya nggak yah?" Mata Yani berbinar karena bisa
menjelaskan kepada ayahnya pendapatnya. Ayahnya tersenyum, namun sekilas
tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas..... "Iya nak, kamu pintar,"
kata ayahnya pendek.
Pulang dari Pemakaman, ayah Yani tampak gelisah di atas sajadahnya,
memikirkan apa yang dikatakan anaknya ... 36 tahun ... hingga sekarang
...kalau kiamat datang 100 tahun lagi ....136 tahun disiksa .. atau bahagia
di kubur .... Lalu ia menunduk ... meneteskan air mata ....
Kalau ia meninggal .. lalu banyak dosanya ... lalu kiamat masih 1000 tahun
lagi berarti ia akan disiksa 1000 tahun? Innalillaahi wa inna ilaihi
rooji'un ... air matanya semakin banyak menetes.....Sanggupkah ia selama
itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan ..kalau 2000 tahun lagi
? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan disiksa di kubur .. lalu
setelah dikubur? Bukankah akan lebih parah lagi? Tahankah? Padahal melihat
adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin ia sudah tak tahan?
Ya Allah ...ia semakin menunduk .. tangannya terangkat
keatas..bahunya...naik turun tak teratur.... air matanya semakin membanjiri
jenggotnya .....
Allahumma as aluka khusnul khootimah berulang kali di bacanya doa itu
hingga suaranya serak ... dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk
Yani.
Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan bambu... dibetulkannya
selimutnya. Yani terus tertidur ...tanpa tahu, betapa sang bapak sangat
berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya .. arti Sebuah
kehidupan... dan apa yang akan datang di depannya.....
Semoga kita bisa belajar dari cerita ini.
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - Helps protect you from nasty viruses.
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________